|
27 July 2002 Dalam rentetan menyongsong Hari Keluarga Nasional 2002, generasi muda dan mereka yang peduli pendidikan anak-anak bangsa yang berasal dari Jawa Tengah dan generasi muda dari DI Yogyakarta berturut-turut telah menggelar suatu acara yang sangat menarik di Kendal di Jawa Tengah dan di Monumen Yogja Kembali di Sleman, Yogyakarta. Mereka menggelar acara itu sebagai persiapan dan kewaspadaan untuk menghadapi masa depan yang mengglobal dengan sikap dan tingkah laku yang positip melalui Gerakan Belajar Mandiri. Gerakan yang semula dipelopori oleh Yayasan Damandiri itu kini telah merambah kawasan timur Indonesia dengan gegap gempita.
Di Kendal Jawa Tengah, tidak kurang dari Bupati Kepala Daerah didampingi lengkap oleh stafnya menyambut para Kepala Sekolah SMU, SMK dan Madrasah Aliyah menggelar suatu seminar untuk menampung pengalaman selama tiga bulan pertama pelaksanaan Gerakan Belajar Mandiri di daerahnya. Kepala SMU I dari Kendal, Bapak Drs. Wagio WS. dengan lancar menguraikan betapa banyaknya anak-anak asuhannya di SMU yang sangat berterima kasih dengan gelaran belajar mandiri yang memberikan bantuan secara spontan sebesar Rp. 300.000,- kepada anak-anak keluarga kurang mampu yang dianggap mempunyai dedikasi dengan prestasi yang unggul diantara teman-temannya sesama anak keluarga kurang mampu. Secara terperinci diuraikannya bahwa sekolahnya, satu dari sekian banyak di Kabupaten Kendal, harus pandai-pandai menghadapi meledaknya anak-anak yang membutuhkan beasiswa atau bantuan belajar mandiri. Sebagai Kepala Sekolah yang harus berlaku adil dan bijaksana harus pula mempertimbangkan anak-anak unggul lain dan tersedianya sekian banyak beasiswa dari berbagai instansi, lembaga atau pihak swasta lainnya. Kepala Sekolah ini menyadari bahwa untuk mendapatkan beasiswa dari berbagai instansi itu setiap muridnya, terutama murid-murid kelas III harus dipilih secara seksama agar anak-anak yang memang pantas dan diharapkan bisa meneruskan pelajaran ke perguruan yang lebih tinggi dapat memperoleh fasilitas yang tepat. Berbeda dengan beasiswa yang berasal dari berbagai instansi dan lembaga swasta lainnya, bantuan melalui Gerakan Belajar Mandiri terlebih dahulu harus menyaring anak-anak dari keluarga kurang mampu. Baru dari anak-anak inilah diukur kemampuan masing-masing calon untuk dipilih sebagai calon sekolahnya. Calon sekolah inilah yang kemudian oleh Kepala Sekolah, atau dalam hal ini di Kabupaten Kendal, telah dibentuk Tim Sekolah yang bertanggung jawab, untuk dibawa serta dalam lomba di tingkat Kabupaten. Pada tingkat Kabupaten ini ada suatu Tim yang beranggotakan Pimpinan Lembaga-lembaga Pemerintah seperti Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Agama, Kantor BKKBN serta wakil dari Bank, dalam hal ini di Kendal wakil dari Bank BPR Nusamba. Pada hari itu, Yayasan Damandiri menanda tangani kontrak penyediaan dana dengan Koordinator Komisaris BPR Nusamba, Ir. Hadi Sunarno, untuk menjamin bahwa setiap siswa yang dinyatakan terpilih oleh Tim Kabupaten ini secara spontan bisa langsung diberikan bantuan belajar mandiri (BBM) dengan tabungan kontan Rp. 300.000,- sebagai tabungan pribadi yang tidak diambil oleh siswa selama belum lulus dari sekolahnya. Tabungan ini hanya boleh diambil untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri atau untuk bekal setelah lulus dari sekolahnya nanti untuk kehidupan yang lebih mandiri. Sifat program yang merupakan gerakan masyarakat nampak jelas sekali dari laporan Kepala SMU Negeri I tersebut. Pada bulan Maret 2002, awal dari gerakan belajar mandiri ini baru sedikit sekolah yang mengikuti gerakan tersebut. Jumlah siswa yang berlomba pada tingkat kabupaten tidak lebih dari 20 orang. Tetapi pada bulan ketiga dan keempat jumlah siswa yang ingin mendapatkan bantuan belajar mandiri (BBM) itu sudah membengkak lebih dari duakali lipat. Dikawatirkan jumlah itu akan lebih membengkak lagi di masa-masa yang akan datang. Kepala SMU yang muda itu menjelaskan bahwa banyak beasiswa yang ditujukan kepada anak-anak yang mampu dan mempunyai otak cemerlang. Biasanya untuk memilih anak-anak mampu dengan otak cemerlang ini tidak sulit karena kriteria secara jelas dapat dilihat dari nilai rapor atau dari kehidupan mereka dalam kelasnya setiap hari. Bahkan dapat diramalkan bahwa apabila anak-anak itu dilihat perkembangannya maka anak-anak itu dapat ditargetkan untuk mendapat beasiswa yang tersedia itu pada awal tahun anggaran sehingga mudah untuk administrasinya. Kepincangan dan kelengkapan administrasi ini bisa saja ada anggaran beasiswa yang ditargetkan oleh pemberinya setiap tahun tidak dapat terserap, sehingga dengan kebijaksanaan tertentu sekolah-sekolah yang mampu menghasilkan siswa dapat memanfaatkan peluang yang tersedia dan tidak diambil karena kesulitan administrasi itu. Namun demikan, Kepala Sekolah yang energik ini mengakui bahwa jumlah anak / siswa yang masih memerlukan bantuan bea belajar mandiri masih lebih dari cukup. Untuk itu dengan tidak malu-malu Kepala SMU yang energik itu meminta Yayasan Damandiri untuk menambah quota yang disediakan untuk Kabupaten Kendal dari yang telah disediakan untuk selama satu tahun sampai bulan Desember yang akan datang. Permintaan ini nampaknya didukung oleh Bupati yang memberi sambutan yang menggembirakan itu. Namun, karena yayasan Damandiri tidak bermaksud memonopoli bantuan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kendal, dengan cara diplomatis permintaan tambahan quota itu diserahkan kepada keluarga mampu lainnya yang ada di Kendal atau mungkin saja simpatisan yang mempunyai program serupa dari daerah-daerah lain atau dari lembaga lainnya. Harapan itu nampaknya makin kentara karena ternyata Kabupaten Kendal, menurut keterangan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerahnya (Bappeda), sekarang ini telah berhasil menaikkan anggaran untuk bidang pendidikan nasionalnya sampai ke tingkat 62 persen dibandingkan dengan anggaran pembangunan daerah yang ada. Kenaikan jumlah anggaran pembangunan yang demikian tinggi sayangnya, menurut data yang ada, baru terwujud untuk mengejar ketertinggalan pembangunan fisik dan perbaikan-perbaikan sarana fisik yang ada di Kabupaten Kendal tersebut. Bantuan untuk peningkatan mutu pendidikan, baik untuk perbaikan sarana pembelajaran bagi guru-guru, maupun untuk perbaikan tunjungan untuk para guru belum banyak tersentuh dengan anggaran pendidikan yang telah naik tersebut. Apalagi bantuan untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu. Lain lagi gaya DI Yogyakarta mengambil sikap untuk memberikan komitmen kepada anak-anak keluarga kurang mampu tersebut. Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono ke X, sesuai dengan pola yang diambil di tingkat pusat menunjuk Ketua Tim Penggerak PKK, Ibu Kanjeng Ratu Hemas, untuk memimpin peringatan Hari Keluarga Nasional di wilayah Yogyakarta. Dalam peringatan yang dipusatkan di Monumen Yogja Kembali diadakan pula acara dialog dengan para siswa SMU, SMK dan MA yang diharapkan dapat menerima bantuan belajar mandiri (BBM) itu. Dalam kesempatan acara yang monumental itu ditandatangani pula kontrak antara Bank Pembangunan Daerah (BPD) Yogyakarta dan Yayasan Damandiri untuk menjamin bahwa anak-anak yang dipilih di tingkat kabupaten mendapatkan jaminan anggaran untuk BBM-nya secara kontan. Dalam pertemuan yang diadakan dalam acara Harganas 2002 yang monumental dua hari yang lalu itu secara segar dilakukan dialog dengan para siswa, Gubernur, Ketua Tim Penggerak PKK, para Kepala Sekolah dan mereka yang dipandang perlu bisa memberikan dukungan dan komitmen terhadap usaha mulia yang akan dijamin dengan bea belajar mandiri. Dialog-dialog dilakukan dengan segar, penuh canda dan secara khusus menyoroti perhatian terhadap anak-anak wanita dari Yogyakarta yang diharapkan nanti bakal mengangkat harkat dan martabat bangsanya dengan perjuangan yang bermutu. Pada umumnya para siswa sangat berterima kasih mendapat perhatian karena selama ini, karena mereka anak keluarga kurang mampu, pada umumnya mempunyai kendala yang beragam. Mereka tidak mempunyai waktu dan buku yang cukup untuk bersaing secara wajar dengan teman-temannya yang lebih mampu. Di rumah, atau di kampungnya, mereka harus bekerja keras, siang dan malam, membantu orang tuanya menjamin kesejahteraan yang sangat minimal. Padahal rekan-rekan yang lebih mampu lainnya menikmati waktu luang yang lebih besar untuk mengulang pelajarannya di rumah. Mereka juga tidak mempunyai fasilitas yang memadai untuk belajar pada malam hari di rumahnya yang sangat sederhana. Dalam sambutan dan dialog, secara kelakar Gubernur DIY telah meminta Yayasan Damandiri untuk meningkatkan jumlah bea belajar mandiri karena Yogyakarta adalah suatu propinsi yang relatif kecil, sehingga kalau jumlah setiap kabupatennya dinaikkan maka pengaruhnya secara keseluruhan tidak berarti banyak untuk anggaran dari Yayasan Damandiri. Tetapi Gubernur berargumentasi bahwa kenaikan itu akan memungkinkan anak-anak dari Yogyakarta, khususnya anak perempuan keluarga kurang mampu dari Yogyakarta, yang memang terkenal ulet itu bisa menjadikan dirinya makin tinggi mutunya dan kelak kemudian hari bisa mengentaskan orang tuanya dari lembah kemiskinan secara cepat dan berkelanjutan. Menanggapi alasan Gubernur itu Yayasan Damandiri justru menantang Gubernur untuk mengundang para orang tua dan lembaga-lembaga lain yang ada di Yogyakarta atau di tempat lain untuk menambah jatah kepada masyarakat Yogyakarta atas seruan Gubernur DI Yogyakarta itu. Untuk itu, sebagai sumbangan awal terhadap himbauan Gubernur itu Yayasan Damandiri menyediakan jatah khusus sebagai pancingan untuk sumbangan Gubernur DI Yogyakarta bagi gerakan BBM tersebut sebanyak 25 paket BBM setiap bulan mulai bulan Juli sampai Desember 2002. Dengan pancingan itu Gubernur atau Ketua Tim Penggerakan PKK dapat mengundang para donatur lainnya untuk menambah jatah BBM untuk anak-anak keluarga kurang mampu tersebut sehingga jumlah anak-anak yang mendapat bagian di setiap kabupaten menjadi berlipat ganda dan tidak terbatas dengan dana yang berasal dari Yayasan Damandiri saja. Yayasan Damandiri tidak menentukan cara dan prosedur penggalangan gerakan ini di tingkat propinsi DI Yogyakarta, tetapi minta agar seluruh pelajar SMU, SMK, dan MA yang mendapat bantuan itu tetap di monitor melalui sistem pelaporan yang telah dikembangkan terlebih dahulu oleh Yayasan Damandiri. Untuk itu setiap penyumbang dapat langsung menyerahkan dananya kepada Bank BPD. Selanjutnya oleh Bank dana itu diantar lebih lanjut langsung kepada para pelajar SMU, SMK dan MA sesuai dengan prosedur yang telah disepakati tersebut diatas. Dengan cara demikian diharapkan akan makin banyak lembaga-lembaga atau perorangan yang ikut serta melayani kebutuhan para pelajar di Yogyakarta tersebut. Untuk mendapatkan penyumbang yang lebih banyak, para anggota Tim Penggerak PKK di seluruh DI Yogyakarta bisa menggerakkan anggotanya yang dipandang mampu untuk memberikan bantuan secara sukarela dalam gerakan yang sangat luhur tersebut. Atau dengan cara lain, setiap anggota Tim Penggerak PKK dapat mengundang keluarga mampu yang peduli untuk memberi bantuan kepada sasaran anak keluarga kurang mampu itu. Lebih lanjut dari itu keluarga mampu itu diharapkan menyerahkan bantuannya secara langsung untuk “dibelikan” buku tabungan yang berisi tabungan sebesar Rp. 300.000,- untuk selanjutnya diserahkan bersama dalam suatu upacara yang disaksikan oleh para penyumbang kepada anak-anak yang mempunyai tingkat kemampuan yang lebih tinggi di masing-masing sekolahnya. Dengan cara demikian jumlah anak-anak keluarga kurang mampu yang dapat ditolong akan lebih banyak dan lebih bersifat merata dalam arti jumlah sekolah yang menerima bantuan untuk belajar mandiri atau untuk hidup secara mandiri akan bertambah banyak pula. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan-Gemu-mandiri-2772002).(A1/B2/D1) Views: 333
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |