Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

HADIAH BUKU UNTUK ANAK BALITA DI POSYANDU Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

Beberapa waktu yang lalu, dalam rangka ulang tahun Perpustakaan Nasional di Jakarta, Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan kunjungan ke lembaga yang sangat penting tersebut. Dalam kunjungan itu Presiden menyerukan agar gerakan membaca buku dan mencintai perpustakaan segera digerakkan untuk membudayakan kebiasaan membaca buku dan mengantar setiap anak bangsa menguasai ilmu pengetahuan yang terkandung dalam banyak buku yang tersedia dalam berbagai perpustakaan. Budaya baca akan mengantar anak bangsa menjadi cerdas dan mampu mengantar bangsa ini menjadi bangsa yang sejahtera.

Seruan Presiden itu ditindak lanjuti oleh Klub Perpustakaan Indonesia (KPI) yang minggu lalu mengadakan Temu Karya Nasional di Jakarta. Acara yang digelar di gedung yang sama sempat dibuka oleh Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional, dihadiri oleh Kepala Perpustakaan Nasional dan banyak ahli dalam berbagai bidang. Hadir pula Menteri Pemberdayaan Perempuan yang secara khusus menyempatkan diri untuk memberi dorongan kepada para Pustakawan agar bisa memberikan perhatian dan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada kaum perempuan. Dengan pelayanan melalui perpustakaan itu kaum perempuan bisa menikmati bacaan yang tersedia sebagai bekal untuk meraih masa depan yang lebih sejahtera.

Temu Karya Nasional juga mendengarkan paparan dari ahli-ahli lain yang intinya mengharapkan para pustakawan yang hadir dan jumlahnya melebihi 120 orang, berasal dari seluruh Indonesia tersebut, bersikap optimis dan proaktif, artinya tidak hanya menyediakan buku di ruang perpustakaan yang ber-AC, tetapi mengantar buku-buku yang dibutuhkan masyarakat luas, mahasiswa, guru, dan siswa-siswa di sekolah atau tempat lain yang dipilih oleh pembacanya. Bahkan, diharapkan perpustakaan umum atau perpustakaan sekolah di kabupaten dan kota, dapat menjadi pendukung pelayanan masyarakat dalam lingkungan Posyandu, pusat Pelayanan Terpadu, di pedesaan, yang akhir-akhir ini dianjutkan Presiden untuk disegarkan dengan kegiatan pemberdayaan yang makin bervariasi.

Menempatkan Posyandu sebagai titik sentral kegiatan perpustakaan di lapangan membawa manfaat ganda dengan variasi pelayanan pembangunan yang menarik. Manfaat pertama adalah bahwa Posyandu bisa menjadi ajang untuk gerakan peningkatan minat baca yang efektif, termasuk upaya pemberantasan buta aksara diantara anggota Posyandu. Pemberantasan buta aksara bisa dikembangkan dengan sangat efektif karena Posyandu Mandiri atau Posyandu Plus yang sedang dikembangkan menempatkan pemberdayaan manusia mulai sangat dini, dalam kandungan ibunya, sampai kepada penduduk lanjut usia. Kepada sasaran yang berbeda beda tersebut pelayanan buku dari perpustakaan untuk para anggota Posyandu juga harus berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan sasarannya.

Pelayanan buku untuk Posyandu bisa merupakan kegiatan yang menarik karena perpustakaan dapat datang dan mengantar buku bacaan dengan variasi yang menarik. Suatu hari perpustakaan bisa datang mengantarkan buku bacaan untuk anak balita. Hari lainnya bisa datang untuk anak remaja. Hari lain lagi bisa datang untuk anak dewasa. Dan hari lainnya bisa datang untuk penduduk lanjut usia. Kedatangan hantaran buku dengan variasi yang berbeda beda tersebut dapat menarik minat dan menghasilkan partisipasi para pembaca yang menarik pula.

Karena perpustakaan mungkin saja mempunyai kumpulan buku yang terbatas, hantarannya tidak harus datang dengan bahan bacaan secara serentak. Hantaran dapat diatur begitu rupa sehingga memberi manfaat informasi melalui buku yang dibutuhkan anggota pada saat yang tepat. Dengan penelitian kebutuhan yang seksama, “gengsi” perpustakaan sebagai lembaga siap melayani dapat dipertahankan. Bahkan perpustakaan yang mungkin saja menghantarkan “bahan yang tidak laku pinjam”, akan segera brubah menjadi lembaga perpustakaan dengan bahan yang sangat dibutuhkan dan dinantikan kedatangannya oleh khalayak ramai.

Pemberdayaan dini.

Kebiasaan dan kerajinan orang tua membaca buku bisa memberi inspirasi dan semangat anak-anaknya untuk juga gemar membaca buku. Kebiasaan itu harus dilakukan dengan sistem yang terbuka dan menyenangkan sehingga anak-anak dalam suatu keluarga ikut serta menikmati kebiasaan orang tua membaca buku secara menarik. Proses mengembangkan kebiasaan itu menjadi budaya baru dalam lingkungan keluarga, dan akhirnya berkembang menjadi budaya masyarakat yang luas.

Salah satu cara yang menarik dalam proses pemberdayan itu adalah menjadikan kebiasaan membeli dan memberi buku untuk berbagai peristiwa, baik dalam lingkungan keluarga atau dalam peristiwa lain di masyarakat. Kebiasan memberi buku bisa dilakukan kepada seorang ibu yang sedang mengandung agar ibu dan keluarganya mempelajari berbagai pengetahuan tentang bayi yang akan lahir dalam lingkungan keluarganya. Buku-buku itu bisa saja berisi petunjuk tentang apa yang boleh dilakukan dan apa saja yang tidak boleh dilakukan. Bahkan ada juga buku-buku yang menganjurkan agar janin dalam perut ibunya mulai pula diputarkan kaset atau CD lagu-lagu tertentu untuk merangsang dan mengembangkan pertumbuhan janin yang sehat. Isi buku dan petunjuknya sekaligus menjadi perangsang upaya dalam memperkenalkan isi buku dan kandungan luhur yang ada di dalamnya kepada janin secara dini, memperkenalkan kepada janin hembusan merdu makna luhur melalui suara yang terekam dalam kaset atau CD, disamping dalam bentuk buku yang dibacakan oleh ibu bapaknya dengan penuh kasih sayang.

Begitu seorang bayi dilahirkan, para sahabat bisa saja memberi sumbangan buku kepada ibu yang sedang berbaring bahagia bersama bayinya. Bahan bacaan itu bisa menjadi teman akrab dari ibu yang bersangkutan dalam menyusui anaknya. Seorang bayi yang melihat ibunya membaca dan memperhatikan roman muka yang penuh kebahagiaan tentunya akan mencatat dengan sungguh-sungguh apa yang dilihat dan dirasanya. Catatan itu akan menjadi bahan yang terpatri sangat kuat dalam memori bayi yang bersangkutan.

Pada saat tumbuh kembang bayi, menjadi anak batita, usia menjelang tiga tahun, seorang ibu seyogyanya secara terus menerus diberi oleh-oleh berupa buku yang berisi cerita atau kandungan isi, dongeng, dan lainnya, yang menarik. Ibu yang bijak dan kasih sayang kepada anaknya, setiap saat dapat membacakan dongeng yang terkandung dalam buku kepada bayinya. Praktek membacakan buku yang disertai senyum penuh kasih sayang, dramatisi begitu rupa bisa memberi kenangan tersendiri kepada bayi agar apabila tumbuh besar, bisa membekas dan menghasilkan kebiasaan baru yang penuh kasih sayang kepada orang tua yang membacakan cerita menarik tersebut. Kebiasaan seorang ibu membaca cerita untuk bayinya itu akan dikenang dan menimbuhkan budaya baca yang lebih lestari.

Buku dapat pula diberikan kepada anak-anak remaja dalam Posyandu sebagai sumber untuk menambah ilmu dan pengetahuan yang segera dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memberikan kesempatan kepada anak muda untuk membaca dan mencari referensi dari buku-buku yang tersedia atau diantarkan oleh perpustakaan umum dan perpustakaan sekolah di sekitar Posyandu, akan menimbulkan kepercayaan dan kebiasaan baru bahwa buku bisa menjadi referensi yang dapat dipercaya. Buku dapat menjadi referensi yang tidak pilih kasih karena buku dan isinya harus jujur dan dapat dipertanggung jawabkan. Buku tidak bisa memilih pembacanya, bersifat pilih kasih atau mengubah isi sesuai dengan selera pembacanya. Buku akan tetap konsisten dan memberi tanpa pandang bulu.

Karena itu pemberian buku kepada generasi muda memberi kemungkinan untuk maju dalam keadilan. Lebih-lebih lagi kalau ada keluarga lain yang mampu dan mempunyai kelebihan, dapat membagi kelebihan itu untuk membantu mendampingi penduduk lain yang tidak mampu membaca atau mengambil inti sari dari buku yang tersedia. Pendamping generasi muda yang membacakan buku itu akan menumbuhkan kebersamaan dan kedamaian diantara sesama generasi muda. Budaya kebersamaan ini akan menumbuhkan persatuan dan kesatuan dalam kelompok kecil, dan kalau diperlihara terus secara konsisten, akan menumbuhkan kebersamaan sesama anak bangsa dengan cakupan yang lebih luas.

Proses bacaan untuk generasi muda bisa juga dibantu oleh generasi yang lebih tua atau lansia. Buku-buku yang menjadi simpanan generasi tua dapat dipinjamkan melalui kegiatan dalam lingkungan Posyandu kepada generasi yang lebih muda. Peminjaman tersebut sekaligus merupakan penghargaan terhadap orang tua atau sesepuh yang ternyata banyak memberikan peninggalan ilmu pengetahuan melalui keikhlasan meminjamkan buku yang menjadi milik pribadinya. Sebaliknya anak-anak muda dan remaja dapat menghargai kebaikan itu dengan memperlakukan buku yang dipinjamnya dengan penuh kasih sayang dan kehati-hatian agar menumbuhkan rasa saling menyayangi.

Lembaga perpustakaan dapat dikembangkan secara bertahap. Perpustakaan Sekolah dapat dikembangkan dengan menampung buku-buku yang dipergunakan oleh siswa yang lulus. Nama-nama siswa dicantumkan dalam buku yang diwariskan kepada adik-adik kelasnya melalui Perpustakaan Sekolah. Guru-guru juga bisa menempatkan buku bacaannya di Perpustakaan Sekolah. Para orang tua dapat meminjamkan atau menyerahkan buku yang sudah di bacanya kepada Perpustakaan Sekolah. Disamping itu para siswa dapat saja mengadakan gerakan kemasyarakatan untuk mengundang penyumbang buku untuk sekolahnya.

Apabila perpustakaan di suatu sekolah mempunyai kelebihan buku karena lingkungan yang sangat kondusif, sekolah tersebut dapat menyumbang buku kepada sekolah lain yang jauh dan terpencil. Dengan cara itu dapat dikembangkan kerjasama antar sekolah yang bisa memupuk rasa solidaritas antar anak bangsa.

Perpustakaan Umum di suatu kabupaten atau kota dapat dikembangkan dengan menyelenggarakan lomba resensi buku atau bedah buku bersama penerbit atau pengarang buku. Bahkan Bupati atau Walikota dapat diundang bersama Muspida setempat untuk memulai bedah buku tersebut secara rutin. Acara itu sekaligus dapat disertai kegiatan sumbangan buku dari penduduk setempat, baik buku baru maupun buku-buku yang selesai dibaca oleh keluarga yang bersangkutan. Dengan cara demikian pembelian buku oleh masyarakat berjalan lancar dan Perpustakaan Umum di suatu kabupaten atau kota dapat menjadi fasilitator yang menambah koleksi buku dan bahan-bahan bacaan dari sumbangan masyarakat dan penerbit di sekitarnya.

Lomba baca buku itu dapat diikuti dengan menggelar berbagai atraksi lain yang menarik. Misalnya lomba baca cepat dan memahami bahan yang dibaca. Kegiatan seperti ini bisa dirangsang dengan menyediakan hadiah-hadiah menarik, misalnya merebut Piala Bupati atau Walikota setempat. Bahkan bisa ditingkatkan untuk merebut piala Gubernur, Wakil Gubernur atau bahkan Piala Presiden dan Wakil Presiden RI. Upaya ini menjadi perangsang untuk membangun budaya baca yang bermakna.

Kebiasaan timbal balik dalam suasana saling menghargai itu akan menumbuhkan suasana tenteram dalam kebersamaan sesama anak bangsa dan mengantar kehidupan di pedesaan penuh kedamaian dan ketenteramaan. Insya Allah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan) – Juni-Perpustakaan-3Juni2006.


Views: 740

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono