|
Hari ini seyogyanya seluruh keluarga Indonesia beramai-ramai mensyukuri keberhasilan keluarga masing-masing dalam rangka Peringatan Hari Keluarga Nasional atau Hari Keluarga yang ke 16. Secara nasional peringatan resmi HKN itu diadakan di Istana Negara bersama Presiden RI dan tokoh-tokoh pejuang pemberdayaan keluarga yang berasal dari seluruh penjuru tanah air. Melalui Kepala BKKBN mereka melaporkan apa saja yang telah diperjuangkan dalam rangka pemberdayaan keluarga untuk melepaskan anggotanya dari kebodohan dan kemiskinan. Seperti nenek moyangnya kita berharap keluarga Indonesia tetap bersatu dan damai untuk bersama-sama mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara RI yang tercinta.
Merenung pada Hari Keluarga Nasional tahun 2009 kita sadar bahwa tantangan yang dihadapi setiap keluarga berbeda dibanding keluarga yang berkumpul kembali dengan sanak keluarganya pada masa perjuangan tahun 1949. Seperti diketahui, Hari Keluarga Nasional mengambil panduan pada kenangan indah masa-masa perjuangan yang gigih dimana akhirnya anggota keluarga Indonesia berkumpul kembali pada tanggal 29 Juni 1949. Intinya sama, setiap keluarga saling mencintai, tidak hanya dalam lingkungan keluarga batihnya saja, tetapi sebagai keluarga bangsa yang besar, kita seharusnya juga mencintai dan peduli terhadap keluarga di lingkungan sekitar. Karena itu, berbekalkan pendirian itu, pada tahun 1993 bangsa Indonesia dengan gigih memperjuangkan unsur keluarga menjadi topik diskusi dan keputusan Konperensi Kependudukan Dunia tahun 1994 di Kairo, Mesir. Perjuangan itu tidak sia-sia. Unsur keluarga merupakan komponen yang sangat penting untuk membangun sumber daya manusia, manusia seutuhnya. Keluarga dijadikan sasaran pemberdayaan agar mampu menjadi agen pembangunan dan mengembangkan seluruh potensi, peran dan kemampuannya bertindak sebagai agent of development, agen pembangunan yang diperhitungkan. Keluarga tidak lagi dibiarkan sebagai penonton, tetapi secara aktif diajak mengikuti dan berpartisipasi dalam proses pemberdayaan yang utuh agar mampu menjadi kekuatan yang luar biasa dalam masyarakat. Oleh karena itu kita berharap bahwa Peringatan Hari Keluarga Nasional yang puncaknya diselenggarakan di Istana Negara memberi kepada para pemimpin bangsa peringatan betapa pentingya memberikan dukungan pemberdayaan kepada setiap keluarga agar mampu berperan menjadi agen pembangunan yang bermutu dan paripurna. Peristiwa itu menggugah para pemimpin untuk menempatkan keluarga sebagai titik sentral pembangunan. Penempatan keluarga sebagai pemeran pembangunan harus dimulai dengan meningkatkan kemampuan setiap keluarga menjadi aktor-aktor yang bermutu serta mendapat kepercayaan dari seluruh masyarakat. Keluarga tidak saja harus mampu tetapi juga ikut prihatin dan peduli terhadap keluarga lain yang karena sesuatu hal tidak mampu mengikuti proses penyesuaian dan tertinggal. Menjelang Hari Keluarga Nasional tahun ini salah seorang pejabat BKKBN, Sudibyo Alimoeso, berhasil mempertahankan Disertasinya dengan pujian yang tinggi (Cumlade) pada Universitas Satyagama di Jakarta. Hasil penelitian yang disajikan dalam Disertasinya cukup menggembirakan. Kualitas pelayanan program KB, di Kabupaten Sumedang dipengaruhi oleh tiga variabel penting yaitu Implementasi Kebijakan, Kepemimpinan, dan Pemberdayaan Aparat. Penemuan ini membuktikan bahwa biarpun bangsa Indonesia telah mengalami reformasi lebih dari sepuluh tahun, kepemimpinan berupa komitmen politik yang tinggi, pemberdayaan aparat yang berujung pada kualitas sumberdaya manusia pengelola program yang baik serta kebijakan implementasi kebijakan yang akhirnya bermuara pada pelayanan menjemput bola yang bervariasi sesuai dengan selera konsumen, yang dimasa lalu mendapat perhatian sangat tinggi ternyata tetap merupakan unsur-unsur penting yang mempengaruhi kualitas pelayanan yang menghasilkan partisipasi yang tinggi, tidak berubah. Sayangnya Dr. Sudibyo Alimoeso tidak sempat meneliti lebih mendalam bahwa disamping tiga variabel itu, sesungguhnya, untuk bangsa yang tingkat pendidikannya belum mencapai lebih dari rata-rata 9 tahun, masih sangat miskin, diperlukan upaya menjemput bola, mengantar program kepada rakyat. Karena itu, seperti di masa lalu, pemerintah diharapkan tidak malu mengubah pendekatan pasip, dalam bahasa kasar “sok kuasa” dan “harus disowani” (Jawa) yang biasanya menjadi bagian dari birokrasi bangsa yang meniru negara maju, menjadi pendekatan aktip mengantarkan programnya kepada rakyat. Dalam rangka Peringatan Hari Keluarga Nasional 2009 kiranya pemerintah, tidak saja menangani pemberdayaan keluarga dalam wujud pelayanan kontrasepsi semata, tetapi segera menyediakan program pembangunan keluarga secara komprehensip. Pelayanan pasip diubah menjadi pendekatan proaktip, pendekatan menjemput bola atau mengantarkan pemberdayaan yang komprehensip itu kepada setiap keluarga. Kalau perlu mengantarkannya ke rumah-rumah dengan jalan membantu agar setiap keluarga bisa dengan mudah berpartisipasi secara penuh tanpa hambatan. Pendekatan ini mengubah ukuran keberhasilan pembangunan keluarga, utamanya ukuran pemberdayaan keluarga, bukan dari indahnya program yang ditawarkan, tetapi dari tingkat partisipasi keluarga atas program-program pemberdayaan yang ditawarkan. Pendekatan ini mengarah seperti proses pendidikan yang dilakukan secara bertahap. Proses itu dimulai secara sederhana agar semua keluarga bisa berpartisipasi. Seperti kita sekolah, paket-paket itu akan berkembang makin luas dan menarik sehingga bisa mengantar setiap keluarga “naik kelas” secara mandiri dan membanggakan. Artinya, setiap keluarga makin mampu melaksanakan semua fungsi dan peran keluarga membangun anak saudaranya dengan dinamika yang makin tinggi, bermutu dan mandiri. Oleh karena proses pemberdayaan harus dilakukan dengan jalan menjemput bola, mengantar kepada setiap keluarga, diperlukan jaringan lembaga yang anggotanya adalah semua keluarga, baik keluarga yang sudah mampu atau keluarga yang baru berkembang. Jaringan ini sedang dikembangkan sebagai Jaringan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), dan jumlahnya telah mencapai sekitar 4000 buah di seluruh Indonesia. Jaringan Posdaya dibina oleh Pemerintah Kabupaten dan Kota serta para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri. Jaringan tersebut membawakan program dan kegiatan pemberdayaan yang merangsang partisipasi sebanyak mungkin keluarga di pedesaan. Melalui partisipasi ditingkatkan masukan program berikutnya yang membawa nilai tambah untuk meningkatkan jumlah keluarga yang bisa melepaskan diri dari kebodohan dan kemiskinan. Partisipasi yang disertai kerja keras itu akan menghasilkan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Selamat Hari Keluarga Nasional. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com). Views: 330
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |