Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

JAMBORE PANTI ASUHAN MENGANTAR PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

Minggu lalu masyarakat Riau yang sedang dilanda Banjir memperoleh simpati dan penghormatan yang tinggi dari Menko Kesra Agung Laksono dan rombongannya yang antara lain terdiri dari Deputi Menko, Dirjen Depsos, Ketua Umum dan Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). Kunjungan Menko yang diatur oleh Gubernur dan Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Riau itu menghasilakn sumbangan untuk korban banjir sebesar Rp. 1 milyar dan berbagai sumbangan lainnya untuk anak-anak Panti Asuhan dari seluruh propinsi.

Acara itu digelar oleh BK3S dan organisasi sosial Propinsi Riau sebagai acara khusus Jambore Panti Asuhan. Bagi DNIKS acara itu diangkat sebagai salah satu “Agenda 99 hari” Pengurus baru yang dikukuhkan akhir tahun lalu. Acara semacam itu telah dilakukan pula di Banjarmasin yang menghasilkan komitmen Walikota dan BK3S Banjarmasin untuk meningkatkan jumlah Posdaya dari 300 menjadi 500 di seluruh kota dalam waktu singkat.

Melihat keberhasilan konsolidasi Ketua dan Pengurus BK3S Propinsi Riau, Ketua Umum DNIKS, Prof Dr Haryono Suyono yang didampingi oleh Ketua Bidang Pelayanan DNIKS, Siswadi MBA, langsung mengajak masyarakat Riau untuk menjadi pelopor pengembangan Panti Asuhan sebagai agen penggerak Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di pedesaan dengan minimal menjadikannya kekuatan utama untuk mengembangkan program pemberdayaan dan perlindungan masyarakat sesuai UU nonor 11 tahun 2009. Pemberdayaan anak dan penduduk yang mempunyai masalah sosial agar mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri bersama simpati yang tinggi dari keluarga, tetangga, masyarakat sekitarnya, serta dukungan dan fasilitasi pemerintah di segala tingkatan.

Ajakan itu disambut baik oleh Gubernur, Ketua BK3S, serta masyarakat yang bangga bahwa Panti Asuhannya mengantar pembangunan berbasis masyarakat. Posdaya menjadi forfum silaturahmi di tingkat pedesaan dimana seluruh keluarga yang ada di suatu wilayah, yang kaya atau miskin, yang Islam atau beragama lainnya, bersatu mengembangkan kesetiakawanan sosial, perhatian dan cinta kasih sesamanya. Mereka tidak mencari keluarga yang mempunyai masalah, tetapi bekerja keras secara gotong royong mencari cara dan mengembangkan program untuk mencegah agar tidak ada satupun keluarga di desanya mendapat masalah karena tidak sempat sekolah dan memperoleh pelatihan ketrampilan, menjadi bodoh dan tidak berdaya, menjadi sakit, dan akhirnya menderita berkepanjangan dan sengsara.

Melalui silaturahmi itu mereka bersatu dan secara gotong royong mengembangkan program kegiatan gegap gempita peduli dan cinta sesama anak bangsa. Dengan kebersamaan itu mereka menjauhkan diri dari program-program yang mengisolasi penyandang masalah sosial, tetapi justru berusaha memberikan kepercayaan diri dan pembekalan serta dukungan positip agar setiap orang dapat bersatu saling bantu membantu sesamanya. Keputusan yang disambut baik di Riau itu merupakan kota dan propinsi kedua di luar Jawa dan merupakan bagian yang menarik dari program lima tahun DNIKS yang inisiasinya dilaksanakan dalam 99 hari pengurus baru. Kesediaan dari Propinsi Riau itu disambut baik oleh Dirjen Pelayanan Rehabilitsi Sosial Depsos, Makmur Sunusi, PhD. yang secara spontan akan menindak lanjuti berupa kerjasama yang erat dengan DNIKS, BK3S, pemerintah daerah dan unsur-unsur masyarakat secara luas.

Apabila gagasan gemilang itu dapat dilanjutkan di daerah lainnya, Depsos akan memberikan dukungan positip sehingga pendekatan pembangunan sosial yang selama ini terkesan sebagai penyelesaian sisa-sisa pembangunan akan berubah menjadi pembangunan berbasis masyarakat yang sesuai UU Kesos yang baru mendapat tugas di tiga bidang utama, yaitu rehabilatasi menyelesaikan para penyandang masalah sosial, melakukan pemberdayaan, utamanya dengan prioritas keluarga muda, remaja dan anak-anak, serta mengembangkan perlindungan sosial yang harus bisa dinikmati oleh seluruh keluarga dimanapun mereka berada.

Untuk melaksanakan gagasan besar yang disepakti tersebut, dalam waktu singkat akan dikembangkan kerjasama yang erat antara DNIKS dan Depsos sehingga langkah-langkah konkrit diharapkan dapat segera dilaksanakan sebagai bagian dari program 99 hari DNIKS, atau sebagai bagian dari Program 100 hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Untuk itu pelatihan para pelatih dari Riau akan segera digelar di Pangkal Pinang oleh tenaga pelatih dari Jakarta dengan melibatkan Perguruan Tinggi setempat.

Para tenaga yang terlatih itu akan membantu tenaga-tenaga profesional Panti Asuhan yang biasanya memberikan bimbingan untuk anak asuhannya. Tenaga profesional panti asuhan itu bersama anak-anak atau para penghuni panti yang dianggap mampu akan menyebar ke desa-desa terpilih untuk membentuk Posdaya dengan mengajak seluruh keluarga desa untuk bergotong royong mengisi Posdaya yang dibentuknya dengan kegiatan pemberdayaan yang diutamakan untuk mengantar keluarga di desa itu bergerak dalam bidang wira usaha, mengatasi kesenjangan dalam bidang pendidikan, ketrampilan, perbaikan akses terhadap kesehatan dan bimbingan untuk membangun keluarga sejahtera. Gagasan dan rancangan besar itu akan membuktikan bahwa di Riau, Panti Asuhan, pengasuh dan penghuninya bisa mengantar pembangunan berbasis masyarakat yang akan dilaksanakan dengan kepedulian dan cinta kasih sesama anak bangsa. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS, www.haryono.com).


Views: 295

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono