|
23 September 2005 Penampilan seseorang membawa makna yang secara tidak langsung memberi tahukan kepada khalayak tentang siapa dan posisi seseorang dalam masyarakatnya. Seseorang yang ingin dipandang menganut agama Islam dengan baik membawakan dirinya dalam penampilan busana Muslim dengan perlengkapannya yang memadai. Seorang pria biasanya melengkapi diri dengan kupiah hitam atau warna lain sesuai dengan asal atau selera yang dianutnya. Seorang perempuan, akan menutup hampir seluruh tubuhnya dengan pakaian Muslim lengkap dengan penutup kepala yang disebut jilbab. Mendekati bulan puasa ini ada baiknya kita simak seseorang yang sejak kecil dibesarkan dalam keluarga Muslim dan selalu mengenai jilbab, pada pertumbuhan hidupnya kemudian mengantarkan keyakinan itu sebagai tonggak dalam usaha yang berhasil.
Orang yang berhasil tersebut bernama Ibu Fatimah. Semula, sebagai seorang Muslim sejak masa remaja Fatimah senang memakai jilbab. Namun, Fatimah (29 tahun) bersama suaminya Sambas (31 tahun) akhirnya menjadi pengusaha pakaian muslim, termasuk jilbab yang sukses. Karena usahanya yang maju, di usia yang muda itu mereka sudah harus bisa menghidupi pekerjanya yang berjumlah 33 orang. Uniknya para pekerja yang sebagian besar ibu-ibu rumah tangga, mengerjakan pekerjaannya di rumahnya masing masing. Sementara kegiatan produksi di rumah Fatimah hanya membuat pola, memotong, dan melakukan pengepakan. Hasil produksinya dipasarkan ke berbagai kota besar. Tetapi jangan kaget, keberhasilan tersebut adalah hasil perjuangan keras yang mereka rintis sejak masih masa pacaran. Pacaran dan wiraswasta Seperti dilaporkan Drs. Oos M. Anwas, Msi, dari Yayasan Damandiri, ketika lulus Madrasah Aliyah, Fatimah bersahabat dengan seorang mahasiswa bernama Sambas. Secara kebetulan sekolah mereka berada dalam satu Yayasan. Mereka termasuk aktivis di sekolahnya. Karena itu mereka sering bertemu, berkomunikasi, terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Mereka juga dituntut untuk hidup mandiri, karena orang tuanya termasuk keluarga yang tidak mampu. Tuntutan dan kondisi yang sama tersebut melahirkan sebuah kesepakatan untuk bekerja, belajar mencari uang. Namun, seperti juga sekarang, mencari pekerjaan selalu tidak mudah, apalagi bagi mereka yang tidak tak memiliki keahlian. Ketika itu ada peluang, mereka berdua mencoba memasarkan salah satu produk kecantikan. Mereka juga bergabung dengan teman-teman remaja lainnya, menghimpun modal sehingga bisa menyewa sebuah kios di kota Kuningan. Barang yang dipasarkan di kios tersebut beragam. Setiap teman yang bergabung menjual produk yang berbeda, seperti bunga, barang kosmetik, pakaian, alat tulis, dll. Karena belum berpengalaman, apalagi langganan, usaha ini tidak berkembang dan hanya bertahan satu tahun, diakhiri bubar. Namun, persahabatan Fatimah dan Sambas justru meningkat pada kesepakatan, mereka sehati se-iya sekata serta mempersiapkan diri ke jenjang perkawinan. Di masa pacaran inilah, mereka sepakat untuk mencoba belajar berwiraswastra sebagai modal untuk berkeluarga. Membuat Jilbab Sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah gadis cantik Fatimah itu sudah memakai pakaian muslim lengkap dengan jilbabnya. Selain perintah agama, ia merasakan berjilbab lebih nyaman apalagi di daerah Kuningan yang iklimnya dingin. Ketika masih sekolah, Fatimah juga pernah belajar menjahit. Sejak itu ia sudah belajar membuat jilbab untuk dipakainya sendiri. Setelah bubar dari usaha kios bersama teman-temanya, Fatimah dan Sambas yang makin lengket sepakat merintis usaha. Berbekal kecintaan dan keterampilan membuat jilbab, Fatimah mengusulkan untuk mencoba membuat jilbab. Sambas tentu saja mendukung penuh. Kemudian mereka mulai mencari bahan yang pas untuk dibuat jilbab ke beberapa pasar sekitar kota Kuningan. Hasil produksinya dipasarkan mereka berdua ke toko-toko di kota Kuningan. Namun pemasaran ini tidak gampang. Awalnya banyak toko yang ragu, namun dengan ketekunan dan penawaran penjualan system konsinyasi, beberapa toko bisa menerimanya. Setelah usahanya mulai jalan, pada tahun 1997 mereka menikah. Seperti biasa untuk belajar hidup mandiri mereka mengontrak rumah di pinggiran kota Kuningan. Di tempat ini mereka membangun rumah tangga dan usahanya. Perkembangan selanjutnya mereka mendapatkan order yang cukup dari perantau di Kalimantan. Bahkan pemesan ini memberikan modal untuk membeli bahan baku. Setelah barang jadi, pemesan dengan seenaknya mengatur harga. Pasangan ini tidak bisa berbuat banyak karena modalnya dari pemesan. Akibatnya mereka rugi hingga usahanya gulung tikar. Pengalaman ini dijadikan modal berharga untuk mencoba bangkit kembali. Dengan modal seadanya mereka membangun kembali usahanya. Secara kreatif Fatimah mencoba berinovasi, membuat model-model jilbab yang belum ada di pasaran. Suaminya dengan setia mendampingi, mencari bahan dan juga membantu dalam menjahitnya. Setelah berhasil membuat beberapa mode, mereka mendatangi toko-toko untuk memasarkan produknya. Modal ludes untuk rumah
Jilbab buatan Fatimah memang cukup bagus. Seorang pedagang besar tertarik dan memesan dengan jumlah yang cukup besar. Dengan perjanjian yang lebih hati-hati, pasangan ini menyepakatinya. Hasilnya sungguh luar biasa. Produknya laku keras dipasarkan di daerah Kuningan dan Cirebon. Pesanan terus mengalir. Karena itu pasangan ini menambah tenaga kerja hingga 8 orang. Keuntungan usaha ini digunakan membangun rumah yang lokasinya di kampung suaminya. Namun karena terlalu buru-buru, tanpa perhitungan yang matang, modal usaha ludes tersedot untuk pembangunan rumah. Padahal rumah yang dibangunnya itu belum selesai. Untuk membangun usaha kembali, mereka pinjam kepada salah seorang penduduk kaya di daerah itu. Namun meminjam di perorangan bunganya cukup tinggi dan seringkali ditagih untuk membayar sesuai selera pemberi pinjaman, waktunya seenaknya. Mereka merasa gelisah dengan ulah pemilik modal. Dengan berbagai upaya, pinjaman modal segera dikembalikan. Namun akibatnya modal usaha ludes dan tidak bisa berproduksi lagi. Karena tidak memiliki modal, pasangan ini mencoba beralih usaha membuat krupuk singkong (Grupuk Gemplong). Bahan bakunya diperoleh dari kebun. Sambil dibantu beberapa tetangganya mereka mencoba produksi. Namun karena tak memiliki keterampilan, usaha ini gagal. Jilbab Model Putri Di tengah kegagalan usaha, pada tahun 2001 suaminya membelikan baju muslim. Baju ini ternyata memberikan berkah. Kainnya yang enak dipakai mengilhami Fatimah untuk membuat jilbab dari kain ini. Ia sangat optimis jenis kain ini baik dan cocok untuk bahan jilbab. Namun di pasaran kain jenis Korea Spanix ini sulit dicari. Mereka mencari ke kota Cirebon, Bandung, bahkan hingga ke pasar Tanah Abang Jakarta tetapi tidak berhasil. Di pasar tradisional Tegal Gubuk Indramayu mereka menemukannya. Dengan sentuhan model yang diciptakan Fatimah, kain ini bisa menjelma menjadi sebuah jilbab modis yang pas untuk kaum remaja. Fatimah menamakannya Model Putri. Model ini tenyata mendapat sambutan pasar cukup bagus dan laris. Tidak sedikit toko-toko sekitar kota Kuningan dan Cirebon yang memesannya. Namun untuk memenuhi pesanan tersebut kembali dihadapkan pada masalah keterbatasan modal. Pesanan langganan tidak bisa terpenuhi. Fatimah dan suaminya hanya bisa melayani sesuai kemampuannya. Sebenarnya mereka ingin meminjam modal kepada pihak ketiga, tetapi ada perasan trauma. Khawatir usahanya bangkrut kembali seperti yang mereka alami sebelumnya. Di tengah kebingungan itu, untung ada temannya yang menyarankan untuk meminjam ke Bank Syariah Mandiri. Di Bank tersedia Kredit Pundi Syariah. Pada tahun 2004 pasangan ini mendatangi kantor Bank Syariah Mandiri cabang Kuningan. Ternyata Kredit Pundi Syariah ini adalah hasil kerjasama Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) dengan Bank Syariah Mandiri. Kredit ini ditujukan bagi pengusaha kecil, bahkan lebih diprioritaskan bagi usaha yang mempekerjakan banyak orang dari keluarga kurang mampu seperti usaha dirinya. Setelah semua persyaratan dipenuhi sesuai syariat Islam yang diberlakukan BSM dengan aturan Murobahah, mereka memperoleh bantuan kredit Pundi Syariah sebesar Rp 20 juta. Bantuan ini digunakan untuk membeli bahan baku dan membeli peralatan produksi. Selalu berinovasi Kucuran tambahan modal mempercepat usaha Ibu Fatimah. Bersama suaminya ia membeli bahan baku, menambah tenaga kerja termasuk membantu alat produksi (mesin jahit) bagi tenaga kerjanya. Sampai saat ini jumlah tenaga kerja mencapai 33 orang, sebagian besar adalah ibu-ibu. Uniknnya para pekerja ini melakukan proses produksi di rumahnya masing-masing. Mereka menjahit jilbab sesuai dengan ukuran dan model yang telah ditentukan oleh Ibu Fatimah. Mesin jahitnya, dibelikan oleh pasangan ini, dengan syarat dicicil dan dipotong dari upah kerja, sehingga mesin ini menjadi milik pekerjanya. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan sambilan mengurus rumah tangga atau mengasuh anaknya di rumah masing-masing. Upah mereka bergantung jumlah produksi, rata-rata berkisar Rp 300.000 sampai Rp. 800.000 per bulan. Sedangkan proses produksi di rumah Fatimah hanya tahapan memotong kain, obras, dan pengepakan. Pekerjaan ini dilakukan oleh 5 orang pekerja. Dibantu pekerjanya Fatimah selalu mengontrol dengan teliti kualitas produksi yang dikerjakan oleh para pengrajinnya. Menurut pengalaman, usaha produksi Jilbab ini kuncinya adalah berinovasi. Fatimah dituntut untuk menciptakan model-model baru yang belum ada di pasaran. Ia malahan enggan membuat jilbab yang sudah ada di pasaran. Ia lebih senang menciptakan model baru. Dengan model baru ini pasaran lebih bagus dan keuntungan juga besar. Jika modelnya sudah berkembang di pasaran, banyak industri pesaing yang meniru modelnya. Pemasaran dilakukan oleh suaminya ke pasar dan toko-toko. Untuk daerah yang jauh seperti Jakarta, Bandung, dan daerah Jawa Tengah/Jawa Timur dipasarkan oleh salesnya. Harga jilbab produknya bervariasi bergantung mode, mulai dari Rp 10 ribu sampai Rp. 25 ribu. Dengan sistem itu Fatimah dan keluarga serta para pengrajinnya sekarang hidup sejahtera. Selamat berpuasa. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial)-September-Jilbab-24September2005. Views: 1246
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |