|
Minggu lalu sesudah mengikuti rangkaian acara Lustrum dan Reuni Alumni SMA Perjuangan, SMA IV B Negeri atau SMA Negeri IV Yogyakarta, yang didirikan pada tahun 1950 lalu di kota Yogyakarta, paginya, karena kesibukan di Jakarta, saya tidak bisa mengikuti acara lanjutan di Kaliurang. Sebelum terbang kembali ke Jakarta saya perlukan berkeliling ke desa-desa di sekitar Yogyakarta yang membekaskan nostalgia yang luar biasa kepada saya. Sejak lulus SD di Pacitan saya langsung dikirim Bapak dan Ibu sekolah di Yogyakarta sampai tamat SMA, bahkan sebentar ikut merasakan kuliah di Fakultas Kedokteran UGM. Saya, isteri dan keluarga meninggalkan hotel pagi-pagi sesudah subuh untuk melihat matahari terbit di sekitar candi Prambanan yang anggun.
Candi yang sekarang dikurung dengan pagar besi itu terasa makin anggun dan tangguh biarpun umurnya sudah berabad. Disekitarnya banyak candi kecil-kecil lainnya yang tersebar seakan membuktikan bahwa di masa lalu daerah itu memang merupakan pusat peradaban dimana nenek moyang berkumpul dan melakukan banyak kegiatan keagamaan atau kehidupan budaya dan lainnya. Peradaban itu pasti sudah tinggi karena nenek moyang kita mampu membangun suatu monumen yang luar biasa dan sampai sekarang tetap dipelihara dan dilihat serta dinikmati banyak orang. Benar saja biarpun suasana hari Minggu pagi itu masih diselimuti kabut, matahari belum muncul tetapi penduduk pedesaan di sekitar kumpulan candi-candi itu, dibanding 50 tahun lalu, saat saya sering berkunjung ke rumah teman yang tinggal di sekitar candi Prambanan dengan bersepeda, ternyata penduduk dan rumah-rumahnya telah berubah. Saya melihat beberapa penduduk naik sepeda dengan berkaos dan celana olah raga seakan melakukan senam pagi. Saya melihat rumah-rumah beergaya modern di sekeliling candi peninggalan nenek moyang. Tetapi saya masih melihat beberapa ibu dengan bersepeda, seperti saya dulu, yang dengan tenang mengangkut dagangan di kiri kanan boncengan dibelakang sadelnya. Dengan percaya diri seperti nenek moyangnya di masa lalu menggendong dagangan, ibu itu mengayuh sepedanya dengan tegar sekan boncengan barang dagangan itu terkesan ringan. Setelah berputar-putar di sekitar banyak candi di kawasan Prambanan, akhirnya kita berhenti di salah satu candi yang realtip kecil, Candi Palosan yang anggun. Kita berkeliling candi, dan seperti saya lakukan dalam setiap kesempatan, saya samperi beberapa keluarga yang tinggal di sekitar candi, bicara ke utara selatan dan tentang topik yang sedang menarik, utamanya masalah KB dan pemgangunan manusia, karena begitu mulai bicara identitas saya sebagai orang KB diketahui. Tetapi karena saya sudah memperluas cakrawala menjadi peduli dan kasih sayang sesama anak bangsa, utamanya keluarga tertinggal, maka mereka makin tertarik dan bertanya lebih mendalam tentang program pengentasan kemiskinan di masa depan. Saya mulai memberi “kuliah” tentang upaya pembangunan manusia Indonesia seutuhnya melalui proses pemberdayaan dalam tiga komponen pokok, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan, peningkatan kemampuan wirausaha serta lingkingan yang kondusif. Saya ceriterakan bahwa setiap bulan, minimal satu kali saya atau Bapak Subiakto Tjakrawerdaja, mantan Menteri Koperasi, yang sekarang menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Damandiri, berkunjung ke Yogyakarta mendampingi para tokoh siaran langsung interaktif Plengkung Gading melalui TVRI Yogyakarta. Kita menganjurkan gerakan pemberdayaan masyarakat secara luas untuk mendorong pembangunan keluarga sejahtera. Kita menganjurkan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, sehat dan mandiri karena mempunyai kerja dan sanggup bekerja keras. Manusia Indonesia seutuhnya itu dipersiapkan oleh orang tuanya sejak dalam kandungan dan lebih-lebih pada masa balita. Oleh karena itu perbaikan gizi tidak dilakukan satu bulan satu kali tetapi setiap hari dengan mengubah halaman rumahnya menjadi Kebun Bergizi. Mendengar Kebun Bergizi mereka menyatakan bahwa di RT/RW mereka gerakan Kebun Bergizi telah berjalan. Seorang Bapak yang sudah “sepuh” bahkan mempunyai kebun bergizi yang sangat menguntungkan dan bisa disebut “Kebun Beruang” karena tanaman yang ditanam di halaman rumahnya bukan sayur saja, tetapi beberapa jenis tanaman yang berharga mahal, anak-anak ayam yang dipelihara dengan kandang sederhana tetapi berpola modern, disertai kemampuan pemasaran yang dimiliki sang kakek yang berumur diatas 65 tahun tersebut. Anak balita tidak menjadi hambatan karena di desanya sudah ada PAUD, sehingga setelah anaknya dikirim ke PAUD, orang tuanya langsung bisa belajar dan berusaha untuk membangun keluarga yang bahagisa dan sejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com). Views: 211
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |