Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

Kisah Sukses Anak Bangsa Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

22 December 2000

Dengan pengantar singkat dari Wakil Presiden RI, Ibu Megawati Soekarnoputri, sebuah buku "Memikul Gunung", setebal 216 halaman, pada hari Rabu lalu diluncurkan oleh ,Menteri Negara Urusan Koperasi dan PKM, Drs. H. Zarkasih Nur, di Jakarta. Buku itu menceriterakan kisah-kisah perjuangan para pewarung, suka duka dan kisah sukses anak bangsa yang kebetulan adalah pewarung-pewarung kecil yang tergabung dalam jaringan Koperasi Warung JK, Jembatan Kesejahteraan, dari seluruh wilayah Jabotabek. Berbeda dengan peluncuran buku-buku semacam ini, yang pada umumnya menceriterakan kisah sukses dari para petinggi, kisah-kisah yang dimuat dalam buku itu tidak diramu dan dibumbui penyegar oleh para penulis handal. Kisah-kisah itu adalah penuturan sederhana apa adanya dari para Ibu-ibu atau keluarga yang berhasil dalam perjuangannya yang gigih dari pagi, siang, sampai larut malam menghadapi persaingan yang sangat ganas di Jabotabek. Dengan telaten mereka menggelar sepetak warung dirumahnya, atau numpang di ditempat sempit yang dia pinjam dari tetangganya. Semula Ibu-ibu itu hanya mimpi mendengar dari radio dan menonton di televisi kisah sukses dari Bapak-bapak konglomerat di jalan-jalan protokol dengan toko dan kiosnya yang gemerlapan.

 

Pada suatu hari di akhir tahun 1998 atau awal tahun 1999, anak-anak muda dengan diantar Dirut RCTI yang berpengalaman dengan koperasi di lingkungannya memberanikan diri mengutarakan idenya yang gegap gempita kepada para petinggi di Kantor Menko Kesra dan Taskin(lama). Ternyata ide itu sejalan dengan misi pemerintah membantu penduduk mengentaskan dirinya dari lembah kemiskinan secara mandiri. Jadilah semangat yang menggelora itu ditantang untuk diwujudkan dalam konsep yang lebih konkrit dan operasional.

Dari Konglomerat untuk Orang Melarat
Dengan semangat dan kecepatan yang tinggi para staf dan anak-anak muda itu merumuskan suatu program yang ambisius untuk membangun dukungan bagi jaringan distribusi yang terdiri dari warung-warung kecil di RT, RW dan desa-desa di wilayah Jabotabek. Untuk ikut serta dalam jaringan tersebut setiap pewarung dihimbau menjadi anggota koperasi untuk membangun kebersamaan mengusahakan barang dagangan dengan harga murah dan dibutuhkan oleh banyak konsumen dalam masyarakat luas di wilayahnya.

Tanpa birokrasi yang berbelit, dengan koordinasi Menko Kesra dan Taskin, maka bekerjalah Departemen Koperasi dan jajaran terkait lainnya membangun kerja sama untuk mengembangkan dukungan bagi usaha yang menjanjikan tersebut. Yayasan Damandiri ditugasi mempersiapkan dukungan dana yang dibutuhkan. Dana konglomerat yang terkumpul untuk pengentasan kemiskinan akhirnya diperbantukan kepada jaringan warung dari keluarga melarat agar bisa membangun martabatnya yang terhormat. Dengan dana yang dijamin ketersediaannya, konsep yang digodok matang oleh berbagai staf dari berbagai instansi terkait, maka gagasan-gagasan bermutu yang ambisius itu segera dicocokkan kemungkinan pelaksanaannya dengan kenyataan lapangan yang tidak selalu akrab. Anak-anak muda dengan semangat tidak pantang mundur segera bergerak melebihi kecepatan birokrasi dan berani mengambil resiko. Tingkat pertama jaringan warung segera dapat diresmikan. Biarpun idenya hebat dan menjanjikan, pada waktu diresmikan pertama kali, Menko Kesra hampir sendirian saja dilapangan. Maklum, pemimpin proyeknya bukan pejabat tinggi dengan koneksi luas, dan proyek itu sendiri, biarpun menjanjikan, bukan sesuatu yang gemerlapan dan bisa membuat setiap orang bisa "numpang populer". Kesepian dalam upacara peresmian bukan halangan. Anak-anak muda yang bersemangat itu tidak pantang mundur. Dengan tingkat profesionalisme yang tinggi secara telaten setiap hari mereka mengajak para pemilik warung atau keluarga miskin yang potensial untuk dilatih dan bergabung. Setiap anggota bukan saja mendapatkan dukungan dana agar bisa menambah dagangannya, tetapi mereka mendapat pula bimbingan manajemen untuk makin memajukan warungnya sesuai dengan permi ntaan atau kebutuhan konsumennya.

Lama kelamaan jaringan warung-warung itu menjadi suatu jaringan layaknya jaringan profesional yang diikuti oleh tidak kurang dari 8.634 pewarung yang membahagiakan masyarakat kampung dengan pelayanan cepat dan dekat. Dalam waktu singkat warung ini telah mendapat dukungan pembiayaan dari Yayasan Damandiri tidak kurang dari Rp. 18 milyar.

Pengalaman Unik
Kisah-kisah sukses dalam buku yang diluncurkan itu adalah kisah nyata yang unik. Tidak ada satupun keluarga yang mempunyai kisah yang sama, karena tidak ada usaha dari semua fihak untuk menyamakan kisah-kisah dan pengalaman mereka. Tidak ada penyeragaman, sehingga siapa saja bisa memulai hidupnya dari akar aslinya sendiri dan maju bersama karena rajin, tekun, jujur, dan sanggup melayani nasabah langganannya sesuai dengan kebutuhan mereka sehari-hari. Kemampuan membaca pasar dengan melihat kebutuhan konsumennya tersebut merupakan salah satu kunci sukses dari para pemilik warung yang sangat sederhana tersebut. Salah satu kisah sukses itu adalah cerita dari Ibu Sulastri dari Setia Budi yang tertimpa musibah. Pada tahun 1999 warung Ibu Sulastri nyaris tutup. Gara-garanya adalah karena cucunya kena musibah. Cucu itu naik kereta api dan terkena setrum. Cucu itu sangat kaget, dan secara refleks kepalanya kebentur atap kereta api. Menurut dokter cucu itu terkena gegar otak. Karena itu segala yang dia punya dipergunakan untuk mengobati cucunya yang tersayang itu, termasuk dia jual semua yang ada di warungnya. Karena itu warungnya nyaris ditutup.

Berkat pinjaman dari Koperasi Warung JK, dan bimbingan manajemen pemasaran dari JK maka dia tidak jadi menutup warungnya. Dia bisa bangkit kembali. Dia merasa sangat beruntung bisa terus mengembangkan warungnya dan sekaligus melanjutkan pengobatan cucunya yang sakit itu.

Kisah lain dialami oleh Ibu Nunung dari kawasan Cagar Budaya Condet, Jakarta Timur. Sejak kecil Ibu Nunung relatip hidupnya susah. Karena itu dia bertekad bahwa anak-anaknya harus sekolah agar kalau sudah besar nanti bisa bekerja dengan gaji yang gede. Karena itu dengan harta warisan yang dimilikinya Ibu Nunung membangun sebuah warung. Tetapi tentunya masih sangat terbatas karena dia harus membagi warisan itu untuk banyak sekali keperluan lainnya.

Untuk mengembangkan warung itu lebih lanjut, Ibu Nunung merasa sangat beruntung karena pada tahun 1999 Ibu Nunung dengan Warung yang diberi nama Warung Feri, bisa bergabung dan mendapat dukungan manajemen serta dana kredit dari Koperasi Warung JK sebesar Rp. 3.000.000,-. Dengan cara bergabung dengan Koperasi Warung JK tersebut, maka kehidupan keluarga Ibu Nunung dengan cita-cita menyekolahkan anak-anaknya untuk masa depan yang lebih baik itu Insya Allah akan tercapai. Dari contoh kisah-kisah sukses itu kita mengetahui bahwa mereka memang tidak mengenal bangku kuliah dengan gelar MBA, tetapi kemampuan mereka untuk menyerap ilmu manajemen praktis sungguh luar biasa. Mereka sanggup menahan diri dan tidak membelanjakan modalnya untuk keperluan konsumsi keluarga yang sesungguhnya sangat menggoda. Mereka memegang teguh disiplin untuk mencapai sukses. Kisah sukses memang bukan kisah enak yang bisa diraih dengan goyang-goyang kaki atau dengan santai sambil minum kopi. Pengalaman unik setiap pewarung adalah pengalaman kerjakeras yang tidak kenal waktu, dan tidak kenal lelah. Mereka harus sanggup bangun pagi dan melayani tetangganya yang mungkin saja kekurangan garam pada waktu menyiapkan makan pagi anak-anaknya. Mereka harus layani tetangga yang butuh kecap untuk makan ditengah malam karena tetangganya itu terlambat pulang. Buku itu membawakan kisah unik yang adalah kerja keras, kucuran keringat dan air mata yang mengantar mereka yang rajin, tekun dan jujur mencapai sukses. Kita acungkan jempol untuk pejuang warung yang gigih tersebut, yang sesungguhnya tidak kalah hebat dibandingkan dengan para politisi yang sedang berjuang memikirkan negara dan bangsanya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita sekalian. (Prof. Dr. Haryono Suyono, pengamat Sosial Kemasyarakatan)

Ibu Berkualitas Peduli Bangsa
Bulan Desember ini adalah bulan yang penuh berkah. Kita berpuasa, kita akan mempunyai Hari Raya Idul Fitri, kita akan mempunyai Hari Natal dan pada akhir bulan ini kita akan mensyukuri berakhirnya abad ke duapuluh dengan selamat. Kita, Insya Allah, akan memasuki abad ke 21 dengan hrapan-harapan yang lebih baik. Harapan itu menjadi bermakna karena bulan ini kita juga akan memperingati Hari Ibu yang mudah-mudahan dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh membangun Ibu Berkualitas Peduli Bangsa. Pada peringatan-peringatan dimasa lalu kita telah meminta komitmen semua fihak untuk mendorong kesetaraan gender dan advokasi yang menggebu untuk mendorong pemberdayaan yang penuh keadilan. Pada akhir abad ini kita harus bisa memberikan perspektip yang lebih luas. Dengan wajib belajar bagi seluruh anak bangsa, sampai ke tingkat pendidikan menengah, diharapkan segera dikembangkan ketingkat pendidikan tinggi, anak-anak perempuan mendapat kesempatan emas untuk mengejar ketertinggalannya. Karena itu, kualitas wajib belajar harus ditingkatkan dengan sungguh-sungguh. Anggaran belanja pendidikan, baik dari pemerintah atau dari masyarakat, harus dinaikkan sampai minimal 20% - 25%. Dengan mutu pendidikan yang prima, disertai pendidikan agama dan budi pekerti yang tinggi, contoh kehidupan kemasyarakatan yang harmonis dan dinamis, terutama dari para orang tua dan masyarakat sekitarnya, kita akan mampu membangun masyarakat yang damai, sanggup membangun disertai dengan kepedulian yang tinggi terhadap penderitaan bangsanya. Untuk menyongsong Hari Ibu 2000, kita ingin memperkenalkan seorang Ibu Profesional yang sangat peduli terhadap derita bangsanya, Ibu Eva Riyanti Hutapea, CEO Indofood Sukses Makmur. Biarpun selalu menolak untuk ditokohkan, kita ingin meminjam kelebihannya untuk menggambarkan idealisme yang harus segara di-"bumikan" . Sebagai profesional yang ulet, Ibu Eva bersama tidak kurang dari 44.000 karyawannya telah sanggup membawa perusahaannya dari omset Rp. 1,4 trilliun di tahun 1994 menjadi suatu perusahaan raksasa dengan omset Rp. 12,5 trilliun di tahun 2000, dan bercita-cita meroketkannya menjadi suatu perusahaan dengan omset Rp. 15 trilliun pada tahun 2001 nanti. Dia bukan sekedar seorang manajer profesional, tetapi dia adalah seorang visionary leader yang sangat peduli terhadap konsumen dan karyawannya. Dia menempatkan kepuasan konsumen, baik dari konsumen tingkat tinggi, maupun rakyat yang hidupnya pas-pasan yang ujtuk makan biasanya hanya bisa bergumam "makan apa". Dia menganut fasafah "tidak ngoyo", ingin hidup berimbang, menghargai kerja keras karyawannya dan menganggap mereka sebagai asset perusahaan yang sangat berharga, serta selalu ingin membagi keuntungan dengan mereka yang membutuhkan. Dengan falsafah dan pendekatan tersebut dia kembangkan budaya usaha yang berorientasi pasar dan selalu ingin memuaskan konsumennya dari segala lapisan. Perusahaan yang dipimpinnya ingin selalu menyajikan produk berkualitas dengan cita rasa yang cocok dengan harapan. Dengan cara itu dia ingin mengambil "hearts and minds dari seluruh karyawannya, dari seluruh konsumennya, dari seluruh jaringan pendukungnya, dan menghasilkan usaha ma ju pesat serta dicintai semua fihak dengan setia. Sebagai seorang Ibu, dia adalah perempuan sederhana yang rendah hati, lembut, tetapi mempunyai perhatian yang sangat tinggi terhadap peningkatan mutu pendidikan, kualitas kerja unggul dan disiplin kerja yang sangat tinggi. Dia sangat besyukur mendapat dukungan dan dorongan seorang suami yang mencintai dan menghormati isteri seorang wanita karier. Sebagai wanita karier dia menilai kedekatan dan hubungannya dengan keluarga dan anak-anak dari sudut kualitas dan bukan kuantitasnya.

Karena itu kepada anak-anak diberi kesempatan memilih bekal pendidikan untuk masa depan masing-masing menutut pilihan secara demokratis. Sebagai sosok yang ingin membagi keuntungan usahanya dengan mereka yang sangat membutuhkan, sejak awal dia sangat peduli terhadap masyarakat dan keluarga miskin. Sejak lama beratus juta rupiah telah disediakan perusahaannya untuk memberi contoh pembinaan anak balita dengan menjadi sponsor Lomba Balita Sejahtera setiap tahun. Perusahan juga menyediakan beasiswa, membangun asrama mahasiswa, membangun dan membantu koperasi universitas, dan membantu toko buku universitas. Perhatiannya terhadap anak-anak, masa depan pemimpin bangsa, akan diwujudkan melalui suatu kerja sama memproduksi film tentang Anak-anak Bangsa yang akan ditayangkan dalam waktu dekat ini. Akan diperlihatkan bagaimana Anak-anak dari berbagai suku membangun visi masa depannya, bercita-cita, bermain, tertawa dan menangis. Dia ingin menunjukkan bahwa kita memang berbeda-beda suku, berbeda-beda agama, berbeda-beda alat-alat permainan, tetapi kita adalah sama-sama anak bangsa Indonesia yang sangat kita cintai. Sebagai CEO yang peduli terhadap nasib bangsa yang kena terpa berbagai musibah, krisis keuangan yang berlanjut menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan, atau diikuti multi krisis lainnya, perusahaan yang dipimpinnya juga menyediakan berjuta bungkus mie peduli dengan harga disubsidi. Dengan bekerjasama dengan lembaga internasional UNICEF, perusahaannya juga menyediakan susu untuk anak-anak keluarga miskin dengan harga yang disubsidi. Pada Hari Ibu tahun 2000 ini, kita memerlukan manusia-manusia berkualitas visionary leader seperti dia. Kita memerlukan pemimpin yang percaya bahwa setiap anggota stafnya mempunyai kemampuan yang bisa disumbangkan pada perusahaan, kalau hambatan yang mereka hadapi dapat dihilangkan. Kemampuan mengajak mereka menginvestasikan hidupnya dalam pelaksanaan misi bersama sungguh sangat dibutuhkan. Dengan manusia-manusia seperti ini kita akan sanggup memasuki abad ke 21 yang penuh tantangan. Kita juga perlu manusia peduli seperti ini agar persatuan dan kesatuan bangsa dapat dibebaskan dari gangguan iri dan dengki. Kita perlu galang kekuatan bersama karena kita akan dan harus bersaing dengan para eksekutif dan tenaga-tenaga ahli dari manca negara. Kalau kita tidak menyiapkan diri dengan kualitas prima, barangkali Bangsa Indonesia hanya akan menjadi penonton yang merana hidupnya. Semoga tulisan singkat dan penyajian Rubrik Peduli Suara Karya hari ini mewarnai peringatan Hari Ibu 2000. Semoga peringatan itu memberikan dukungan terhadap peningkatan Pendidikan dan Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia yang adalah tulang punggung pembangunan Bangsa. (Haryono Suyono)


Views: 3197

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono