Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

LANSIA INDONESIA MEMBANGUN NEGERI Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Artikel ini sengaja ditulis lebih awal untuk mengajak penduduk negeri ini menyongsong datangnya Hari Lansia Nasional pada akhir bulan Mei. Kita berharap Hari Lansia Nasional kali ini tidak diperingati oleh mereka yang berusia lanjut saja, tetapi justru disemarakkan oleh anak cucu sebagai penghormatan atas jasa dan pengabdian orang tua, kakek nenek, dan sesepuh bangsa lainnya. Dengan pengorbanan yang luar biasa besarnya, nenek moyang bangsa ini telah berjuang membawa negeri tercinta ke gerbang kemerdekaan, mengantarnya menjadi satu negara besar yang bersatu, dan mengisinya dengan pembangunan yang membawa kebanggaan dan kesejahteraan untuk anak bangsanya.
Berkat pembangunan yang berhasil, utamanya dalam bidang KB, kesehatan dan perbaikan kondisi ekonomi bangsa selama empat puluh tahun terakhir, penduduk lanjut usia, lansia, yaitu penduduk yang berusia diatas 65 tahun, dari jumlah sekitar 3 juta di tahun 1970 telah melesat menjadi empat kali lipat, dan pada tahun 2009 mencapai jumlah sekitar 12 juta jiwa. Meningkatnya penduduk lanjut usia itu disertai peningkatan panjangnya Usia Harapan Hidup (life expectancy) yang semula dibawah 50 tahun menjadi rata-rata diatas 70 tahun.

Seperti di negara-negara lain, termasuk di negara maju, Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk perempuan, biarpun selama hidup umumnya bekerja keras, lebih tinggi dibandingkan penduduk laki-laki. Akibatnya peningkatan jumlah lansia itu menghasilkan jumlah perempuan lanjut usia yang juga lebih banyak dibanding lansia laki-laki. Walikota Surabaya, Drs. Bambang DH., MPd, bekerja sama dengan Yayasan Damandiri dan beberapa lembaga internasional, antara lain Asian Urban Information Center of Kobe atau AUICK, dan United Nations Fund for Population Activities, atau UNFPA, dalam rangka memperingati Hari Lansia Nasional akhir bulan Mei 2007 menyelenggarakan Seminar Internasional tentang Lansia di Surabaya. Seminar itu berhasil menyepakati pengembangan pemberdayaan dan kelembagaan lansia, yang biasanya hanya berbasis panti, diperluas menjadi berbasis masyarakat. Gagasan pengembangan penduduk lansia berbasis masyarakat itu diilhami oleh adanya beberapa kegiatan lansia serupa di Surabaya. Kegiatan lansia di Surabaya itu tidak seluruhnya menempatkan lansia pada panti-panti werda tetapi memberi kesempatan penduduk lansia tetap tinggal bersama keluarga di rumahnya.

Pada hari-hari tertentu, seluruh lansia pada suatu RW bertemu menggelar acara yang diatur sebelumnya. Forum pertemuan itu sekarang dinamakan Pos Pemberdayaan Keluarga (Podaya) Lansia. Setiap pertemuan diisi kegiatan yang dapat dilakukan bersama, baik untuk waktu-waktu tertentu, atau acara bulanan yang digelar secara rutin. Untuk menarik perhatian, sekaligus mengembangkan dinamika kelompok, tempat dan pimpinan pertemuan diatur secara bergiliran. Dengan cara itu penduduk lansia yang mempunyai idea-idea cemerlang memperoleh kesempatan mengembangkan gagasannya. Ketika gagasan itu dilaksanakan, lansia yang bersangkutan dan kelompoknya merasa bangga dan puas. Bagi lansia penghargaan sesama lansia menumbuhkan rasa percaya diri dan kesegaran yang membawa kebahagiaan dan kesejahteraan.

Setelah pertemuan Seminar, kegiatan yang dikembangkan di beberapa RW dalam kelompok Posdaya Lansia bukan semata untuk sesama lansia, tetapi banyak kelompok lansia melalui kegiatan dalam Posdaya Lansia, pos pemberdayaan keluarga yang dibina oleh para lansia, bekerja dalam bidang sosial kemasyarakatan untuk generasi muda. Sebagian dari mereka yang dimasa mudanya berkecimpung dalam kegiatan Pandu atau Pramuka, melanjutkan kegiatannya bergabung dalam wadah Hipprada, mengembangkan Pramuka berbasis wilayah bersama-sama gugus depan Pramuka yang berpusat sekolah yang ada di kampungnya.

Gugus depan wilayah yang dikembangkan itu dibina bersama para guru dari sekolah yang berdekatan, sedangkan anggotanya terdiri dari anak-anak putus sekolah yang tidak mampu kembali ke sekolah karena keadaan orang tuanya. Mereka bergabung dalam kelompok Pramuka bergugus di daerah pembinaan Posdaya di desanya. Lansia yang membimbingnya, karena di masa mudanya juga anggota atau pimpinan pramuka, dengan mudah memberi bimbingan dan mengantar anak-anak bangsa itu meningkat menjadi anak muda yang berkarakter, menguasai berbagai ketrampilan, bahkan bisa meningkatkan mutu keahliannya untuk mencari sesuap nasi dengan tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang lebih baik. Hasilnya sangat menakjubkan, penghasilan mereka bertambah, tetapi tetap bisa menikmati masa mudanya dengan ceria melalui gerakan Pramuka di gugus depan di desanya.

Para lansia yang mempunyai usaha, melalui kegiatan Posdaya yang dibinanya mengajak dan mendampingi anak-anak muda, utamanya anak-anak gadis putus sekolah, untuk belajar ketrampilan agar kegiatan sehari-hari yang sebelumnya hanya membantu orang tua mengurus rumah tangga, menjadi tenaga muda terampil yang urusannya banyak. Suatu kegiatan di Loji di daerah Sukabumi misalnya, anak-anak muda dilatih menjahit, begitu di daerah dibuka industri garmen, anak desa yang tidak pernah mimpi menjadi karyawan itu diterima kerja di pabrik dan mempunyai penghasilan yang bisa memotong rantai kemiskinan keluarganya dengan baik.

Sebaliknya bagi lansia yang tidak mampu secara fisik, melalui kegiatan Posdaya lansia, akan diketahui keadaannya karena laporan anggota keluarga lain yang berkumpul dalam kelompok. Selanjutnya, secara bergiliran, Pengurus Posdaya mengatur Lansia yang sehat untuk secara bergiliran menengok lansia yang sedang sakit. Bahkan, secara gorong royong lansia serta keluarga muda yang bergabung, mengumpulkan bantuan untuk meringankan biaya pengobatan. Kehidupan gotong royong sesama lansia dengan keluarga yang lebih muda itu memberikan nuansa kehangatan dalam masyarakat. Penduduk lansia yang mampu mempunyai kesempatan untuk beramal bukan satu tahun satu kali, setiap hari raya, tetapi hampir setiap hari bisa mengamalkan kepandaiannya, pengalamannya, bahkan harta bendanya, yang akan mengantar mereka ketika harus menghadap Sang Khalik.

Jumlah penduduk lansia perempuan yang lebih banyak merupakan keuntungan yang menarik untuk kelangsungan pengurusan Posdaya Lansia. Umumnya mereka itu janda dan anggota keluarganya sudah dewasa sehingga tidak banyak lagi yang diurus di rumah tangganya. Biasanya lansia perempuan yang sepuh itu paling bagus mengurus Posdaya karena kesabarannya mengingatkan anggota pengurus maupun anggota lainnya. Lansia perempuan bisa menjadi contoh dan pembimbing anak-anak perempuan untuk berperan secara aktif mengurus Posdaya sebagai awal dari gerakan kesetaraan gender dalam latihan kepemimpinan. Semoga gagasan yang berkembang itu memberi ilham untuk daerah lainnya. Insya Allah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, lansia aktif, www.haryono.com).

Views: 312

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono