|
Akhir-akhir ini bangsa Indonesia terkoyak-koyak dan disuguhi tontonan yang menyebabkan timbul rasa saling curiga antar sesama anak bangsa secara berkepanjangan. Dengan slogan indah demi demokrasi, transparansi, kejujuran dan keadilan bangsa ini dicekoki setiap hari dengan hujatan tanpa mengetahui apakah sesungguhnya seseorang itu benar-benar bersalah atau sekedar mendapat tuduhan yang belum dibuktikan kebenarannya.
Bahan-bahan yang seakan betul itu ditujukan secara keji untuk menghantam orang-orang terhormat sehingga bisa mengakibatkan yang bersangkutan dicaci atau dihindari oleh orang-orang dekatnya. Cilakanya program dan kegiatan yang baik dan tidak ada salahnya ikut dimatikan atau tidak diteruskan. Program baru penggantinya tidak ada. Akibatnya rakyat banyak dirugikan dan sengsara. Para pejabat negara, anggota DPRD, Bupati, Walikota dan Gubernur silih berganti menjadi hiasan media massa dengan rentetan dosa-dosa yang belum dibuktikan kebenarannya. Para pejabat terhormat itu dimuat di media massa telanjang bulat tanpa ampun. Pembeberan terperinci itu dilakukan lama seakan-akan yang membeberkan berita itu mengetahui segala sesuatunya secara tepat dan paling jujur di dunia. Kalau kemudian kasusnya dibawa ke pengadilan dan terbukti tidak bersalah, kabar ‘tidak bersalah’ itu tidak dimuat di media massa, atau kalau dimuat, dalam siratan kecil dan tidak bermakna. Padahal seluruh keluarga dan sahabatnya sudah habis menghindar “merasa tidak kenal dan tidak ikut campur”. Kasus terakhir yang sempat menghias media massa adalah dosa luar biasa mantan Presiden RI HM Soeharto. Dikabarkan PBB dan Bank Dunia merilis berita bahwa pak Harto adalah koruptor nomor satu, juara pejabat negara yang membawa lari kekayaan negara dalam jumlah yang sangat luar biasa. Tetapi kemudian terbukti bahwa data yang dikutip media massa itu adalah data lama yang berasal dari LSM yang selama beberapa tahun ini sudah beredar. Kebenaran data tersebut sempat dilacak oleh pemerintah ke berbagai Bank di luar negeri dan tidak terbukti. Peristiwa yang sama menyedihkannya adalah perselisihan antara MA dan BPK yang memaksa Presiden untuk membantu menyelesaikannya. Peristiwa itu bukan saja masalah boleh memeriksa atau tidak boleh tetapi nampaknya dilandasi “tingginya” rasa curiga atas suatu perbuatan yang tercela. Yang satu merasa tersinggung dan yang satu lagi merasa mempunyai hak dan membawa “amanat rakyat” untuk melakukan tugas demi transparansi, keadilan dan kejujuran. Seminggu lagi kita akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1428 H. Kesempatan ini merupakan awal yang baik bagi bangsa Indonesia yang besar untuk membangun saling percaya dan bersatu padu membangun negara dan bangsa. Hari Raya Idul Fitri adalah kesempatan emas untuk saling maaf memafaafkan dan menghilangkan rasa curiga yang memecah belah bangsa. Ini tidak berarti bahwa kita akan membebaskan para pejabat negara untuk korupsi atau menyalah gunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Tetapi momentum ini dijadikan kesempatan mawas diri dan mengembangkan komitmen untuk melihat dengan hati nurani yang jernih bahwa bangsa ini sangat miskin dan menderita. Tanpa persatuan, kesatuan dan kerja keras akan makin terperosok dan hancur berantakan. Saling curiga akan merugikan kita sendiri. Untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa tidak harus semua berebut menjadi pemimpin, membentuk partai politik sebagai kendaraan untuk merebut kekuasaan, mengalahkan lawan, bahkan kalau perlu, demi kekuasaan, Saudara, sahabat dan kawan baik, bisa juga dijadikan lawan. Sebagai pemimpin yang minta dikagumi, seseorang, dengan kendaraannya menggelar spanduk-spanduk mahal keluar, dengan isian, kalau perlu, mencaci maki kawan, menjelekkan sahabat atau bekas pimpinannya, atau menjadikan setiap lawan tangguh sebagai seteru yang harus “dihabisi”. Kesempatan Hari Raya Idul Fitri bisa menjadi awal bagi kita penduduk biasa, warga negara yang bangga dan mimpi akan persatuan dan kesatuan, dalam lingkungan yang kecil membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan silaturahmi diantara keluarga dihiasi usaha sungguh-sungguh untuk memperbaiki hubungan antar keluarga. Keluarga pulang kampung, seperti halnya keluarga besar Pacitan, Madiun, Banyumas dan daerah lainnya, menggelar acara silaturahmi antar sesama keluarga se kampung. Keluarga yang berkumpul membangun kebersamaan untuk melihat apakah keluarga lainnya sudah cukup mampu merancang masa depan dengan baik. Keluarga pulang kampung membantu saudaranya di desa membangun usaha bersama dengan memberikan dukungan modal awal yang diperlukan. Bekal uang lebaran yang dibawa ke kampung tidak dihamburkan tetapi diberikan kepada sanak keluarga, khususnya yang kurang mampu, dalam bentuk tabungan untuk memulai usaha ekonomi produktif setelah lebaran usai. Suasana lebaran dapat pula dipergunakan untuk merenung demi keadilan dan kebersamaan. Di beberapa kabupaten/kota banyak sekolah pembayaran bagi setiap siswa ditanggung oleh Pemerintah Daerah, sehingga dipermukaan terlihat seakan-akan sekolah itu gratis. Semua anak tidak perlu membayar untuk sekolah, termasuk anak keluarga mampu juga tidak harus membayar uang sekolah. Karena itu perlu direnungkan apa sumbangan keluarga mampu untuk anak keluarga kurang mampu. Keluarga mampu mendidik anak-anaknya untuk peduli terhadap sesama. Anak keluarga mampu membantu teman sebayanya membuka tabungan rekannya anak keluarga kurang mampu. Seperti halnya dilakukan Hipprada, khususnya di Purworejo, Jateng, anak-anak keluarga mampu itu tidak saja membuka tabungan untuk rekannya, tetapi juga secara rutin menganjurkan kepada temannya untuk latihan bekerja dan ikut mengisi tabungan sebagai rasa solidaritas menolong rekannya menata masa depannya yang lebih baik. Kebersamaan bersama sanak keluarga di pedesaan menjadi awal pembentukan Pos Pemberdayaan Keluarga di desanya. Posdaya tersebut kegiatan atau kelangsungan hidupnya ditopang secara bersama. Lembaga-lembaga desa seperti Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD dikembangkan bersama di sekitar Posdaya yang dibntuk. Pemberatasan Buta Aksara dan penanganan anak-anak usia sekolah yang belum sekolah ditolong untuk sekolah. Pembiayaan yang tidak mampu diselesaikan oleh keluarga kurang mampu disediakan secara gotong royong oleh anggota Posdaya. Solidaritas kecil yang nampak tidak menonjol bisa menjadi awal persahabatan dan menjauhkan sesama anak bangsa saling mecaci maki tetapi justru bersatu mengatasi kesulitan dan menjaga kebersamaan. Solidaritas dan kebersamaan yang akrab dan jujur selama masa muda menjadi modal pembangunan persatuan dan kesatuan yang lebih kokoh di masa depan. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan, www.haryono.com) Views: 521
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |