MEMAKNAI INDIKATOR MDGs, PENGENTASAN KEMISKINANPembangunan nasional di banyak negara sekarang ini perlu dirombak pendekatannya dengan menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan. Seruan perombakan pendekatan pembangunan itu muncul ketika para pemimpin dunia menyadari dan bersama-sama mencanangkan komitmen untuk mengentaskan kemiskinan. Tidak kurang dari 189 pemimpin dunia pada sidang PBB di New York pada tahun 2000 sepakat untuk menerima prioritas pembangunan dalam lima belas tahun ke depan menganut sasaran dan target MDGs. Target ini menganut 8 sasaran utama yang perlu dipahami secara luas. Namun pada tahun 2005 pemahaman itu belum memadai sehingga dalam pertemuan yang hampir sama di New York para pemimpin dunia menyegarkan komitmennya.
Prioritas pertama dari target MDGs tersebut adalah pengentasan kemiskinan dengan dua sasaran utama yaitu menurunkan menjadi separuhnya proporsi penduduk yang pendapatannya kurang dari US$ 1.00 per hari pada tahun 2015. Sasaran kedua adalah menurunkan separuhnya penduduk yang menderita kelaparan pada tahun 2015. Kedua sasaran tersebut nampaknya sederhana, bahkan sering disalah artikan. Jumlah uang US$ 1.00 sama dengan sekitar Rp. 9.000,-, kalau dijumlah satu bulan menjadi sekitar 30 x Rp. 9.000,- sama dengan Rp. 270.000,- . Barangkali, dengan asumsi bahwa penduduk secara mandiri sudah bisa memperoleh dua pertiga dari pendapatan yang dituntut selama satu bulan, pemerintah dengan menambah sepertiganya, bisa dianggap masalahnya selesai, target yang pertama pengentasan kemiskinan terpecahkan. Atau, dengan membantu sebesar Rp. 100.000,- setiap bulan, penduduk miskin bisa memperoleh modal untuk mencari pekerjaan yang akhirnya mengentaskan mereka dari pendapatan yang dituntut diatas Rp. 270.000,- setiap bulannya. Atau, karena krisis ekonomi, penduduk pendapatannya menurun sehingga perlu dipacu untuk naik kembali dengan bantuan uang tunai tersebut. Kedua asumsi itu salah, karena yang dimaksud dengan target tersebut bukan sekedar melengkapi pendapatan seseorang, tetapi bahwa penduduk mendapatkan pekerjaan yang mendorong seseorang memperoleh pendapatan lebih dari US$ 1.00 setiap harinya. Bagian dari penduduk miskin yang terbesar ada di pedesaan. Penduduk desa umumnya bekerja dalam bidang pertanian. Oleh karena itu penduduk umumnya bekerja tidak penuh sehingga tidak bisa dijamin pendapatannya secara rutin karena ketika tidak bekerja di sawah atau di ladang penduduk tidak memperoleh pendapatan untuk hari-hari yang menganggur tersebut. Oleh karena itu pemerintah perlu mengubah kebijakan yang ditempuhnya dengan intensifikasi pertanian di kala tidak hujan. Pelatihan kepada tenaga muda yang meledak jumlahnya, serta penyediaan lapangan kerja non pertanian yang baru di pedesaan perlu digalakkan. Penduduk yang menganggur pada waktu tidak bekerja di sawah atau ladang dikurangi sehingga tidak terjadi pengangguran di pedesaan. Kemiskinan dan meningkatnya pendapatan keluarga petani tersebut tidak saja diukur dari nilai uang yang diterima setiap keluarga, tetapi juga diukur dari konsumsi penduduk miskin untuk menjamin gizi yang mencukupi dan hidup sehat yang memadai. Konsumsi keluarga miskin yang lebih baik berhubungan dengan target yang indikatornya adalah pembebasan dari kelaparan. Indikator yang menjadi pengukur dari target kemiskinan bukan saja dari orang tua yang miskin tetapi harus dilihat dari keluarga miskin dengan seluruh anggotanya, yaitu anak-anaknya secara lengkap. Seluruh keluarga harus memenuhi sasaran kecukupan makan dengan nilai gizi yang memadai. Salah satu indikator yang penting yang sering dijadikan jaminan bahwa penduduk tidak lagi kelaparan adalah jumlah anak yang lahir dibawah berat minimum serta anak-anak balita yang beratnya tidak lagi dibawah standar normal. Oleh karena itu suatu program pengentasan kemiskinan yang dianggap berhasil mencapai target utama dan pertama dalam rangka MDGs bukan saja dari pengakuan kedua orang tuanya tentang status kelaparan atau tidak, atau indikator tidak ada orang tua kelaparan, tetapi bahwa bayi dan anak-anak balita tidak ada satupun yang berada dibawah ukuran berat badan normal. Oleh karena itu pengentasan kemiskinan dalam pengertian sasaran dan target MDGs yang pertama ini harus dibaca dengan keterbukaan pikiran yang luas. Pengertian sederhana dan sempit dengan mencari terapinya melalui bantuan keuangan atau bantuan ekonomi semata menjadi salah dan tidak mengena. Seperti dianjurkan Gubernur DKI Jakarta yang baru, Fauzi Bowo, masyarakat harus diajak melakukan perubahan mind set, perubahan sikap dan perilaku keluarga serta seluruh masyarakat yang mendukungnya. Sehingga prakarsa Gerakan PKK DKI Jakarta untuk mengembangkan pembangunan dengan cita-cita pencapaian sasaran dan target MDGs melalui kegiatan PKK dari tingkat RW pantas disambut dan diberikan pembekalan secara lengkap. Itulah sebabnya kita sarankan agar segera dibentuk koperasi pada tingkat kelurahan dengan mengubah dana yang sekarang disediakan sebagai bantuan yang bersifat “charity” atau hibah tanpa syarat kerja keras, diubah dan disalurkan sebagai kredit yang dimonitor secara ketat dengan sistem subsidi bunga secara bertahap. Keluarga kurang mampu dikembangkan menjadi nasabah melalui serentetan pelatihan yang serius. Bagi yang baru mulai diberikan kredit dengan jumlah kecil disertai anjuran untuk bergabung atau magang pada pengusaha kecil atau menengah. Proses bergabung ini sebagai kerjasama belajar bekerja dengan disiplin yang secara bertahap belajar berusaha. Kepada pengusaha yang bersedia memberikan pendampingan dan pengajaran kepada keluarga kurang mampu itu diberikan kredit, seakan-akan sebagai penyertaan modal dari keluarga atau penduduk kurang mampu yang diasuhnya. Kalau penduduk yang diasuh ini makin terampil, maka mereka diberikan honor sepantasnya. Syukur kalau akhirnya diambil sebagai karyawan. Dalam keadaan asuhan yang makin mahir ini maka pinjaman yang diberikan makin dikurangi subsidinya, artinya kalau pada awal diberi subsidi sebanyak 100 persen, atau bebas bunga, secara bertahap diberikan kewajiban membayar bunga dan dinaikkan bunganya secara bertahap. Pengentasan kemiskinan sebagai sasaran dan target pertama MDGs dilaksanakan dengan pemberdayaan kepada setiap keluarga kurang mampu dan kerjasama yang erat dari keluarga yang mampu untuk menjadi pendamping dan membantu mengentaskannya dari lembah kemiskinan. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat – www.haryono.com) Views: 6335
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |