|
17 March 2001 Dalam suasana hiruk pikuk membangun demokrasi, kebebasan, keterbukaan, tertib hukum dan kesetiaan kepada konstitusi, yang disertai dengan wacana diskusi hangat, unjuk rasa dan segala cara yang dianggap cocok untuk pendidikan politik baru di Indonesia, tiap kelompok masyarakat tampil dengan pendekatan yang berbeda-beda. Ada yang hampir setiap hari muncul menggelegar membawakan tema-tema menarik di sekitar hotel Indonesia, di depan gedung MPR/DPR, atau di depan Istana Presiden.
Ada yang setiap hari muncul di berbagai Seminar atau unjuk bicara di hotel-hotel berbintang. Ada yang setiap hari muncul di surat-surat kabar membawa pesan gemerlapan dengan tidak putus-putusnya. Ada yang hampir mirip bintang TV, atau bintang Radio, yang setiap pendapatnya memperoleh sorotan yang asyik untuk di tonton khalayak ramai di seluruh Nusantara. Ada pula yang secara tekun bekerja keras menyelesaikan studinya di Universitas dan muncul dengan bahasan-bahasan ilmiah melalui kertas kerjanya, laporan skripsi atau desertasinya dengan tema baru yang lagi "in" tersebut. Ada pula pemeran tradisional, yang biasanya banyak didengar rakyat di desa, muncul dengan gagasan cemerlang tetapi tidak mampu menggeser pemain kota dengan ide yang nampaknya lebih gemilang. Mereka itu adalah para dalang, pemain musik dan gamelan tradisional, yang dengan gayanya yang unik membawa pesan perdamaian dengan sabar dan tekun. Golongan yang terakhir ini tidak banyak mendapat tempat dalam media massa karena mereka tidak pandai menggelar konperensi pers, tidak biasa menggoncang media massa dengan berita hangat, atau tidak menggelar demo atau unjuk rasa menyampaikan gagasan-gagasannya. Namun demikian pengaruh mereka membangun budaya kerakyatan yang cinta damai sungguh tidak dapat diabaikan. Mereka melakukan upaya itu dengan pendekatan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui jalur-jalur budaya yang telah lama berkembang di masyarakat luas. Mereka pandai mengajak masyarakat dengan bahasa sederhana yang mengena secara tekun. Mereka mengetahui bahwa hanya dengan bahasa yang sederhana dan disampaikan dengan sabar, masyarakat bisa memahami ajakan yang disampaikannya itu secara jelas dan dapat dikembangkan sendiri oleh masyarakat menjadi norma baru yang lebih lestari. Bersiap bersama Dalang Dalam suasana seperti itu, para pengurus SENAWANGI, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia, bersama-sama para pengurus Yayasan Damandiri, memadukan upayanya membantu masyarakat dan keluarga miskin mengentaskan diri dari lembah kemiskinan. Secara bersama-sama kedua Pengurus Lembaga itu telah menghadap Menko Polsoskam, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, untuk membicarakan upaya bersama bagaimana menolong rakyat kecil agar bisa membangun dengan aman, tenang dan damai. Kedua organisasi mendapat amanat dan permintaan masyarakat, khususnya keluarga miskin, dari desa-desa agar pemerintah makin menjamin ketenangan dan ketentraman di wilayahnya. Sena Wangi mendapatkan pesanan itu dari para anggotanya, yaitu para dalang, yang sehari-harinya bergelut menghibur rakyat di desa-desa. Yayasan Damandiri, yang selama ini membantu rakyat miskin mengentaskan diri dari lembah kemiskinan, mendapat keluhan bahwa usaha keluarga yang baru tumbuh bisa sia-sia dan segera mati kembali kalau suasana rusuh tidak segera membaik. Rakyat miskin pada umumnya mengeluh karena mereka terlalu miskin untuk membangun dalam suasana yang penuh dengan hiruk pikuk keresahan. Mereka ingin agar milik mereka yang sedikit bisa menghantar dan membantu keluarga mereka secara bertahap mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Menko Polsoskam sangat terketuk hatinya dan menyatakan bahwa pemerintah telah dan akan terus berusaha keras agar suasana makin lebih aman dan tenteram. Beliau berpendapat bahwa SENAWANGI, yang anggotanya adalah para dalang yang berpengaruh dari seluruh Indonesia, dianggap mempunyai kemampuan, melalui para dalang itu, untuk mengajak rakyat di seluruh pelosok, bersama-sama mengembangkan suasana penuh kedamaian dan kesejukkan, saling tidak bermusuhan, saling bekerja sama tolong menolong, untuk bersama-sama membangun keluarga dan masyarakatnya. Yayasan Damandiri, dengan koordinasi kegiatan operasionalnya oleh Ibu Wakil Presiden, dan seluruh perangkatnya, dianggap telah ikut membantu menentramkan masyarakat dengan upaya-upaya pengentasan kemiskinan yang sangat luas. Upaya itu harus terus dilanjutkan dengan tidak kenal lelah. Pengentasan kemiskinan bukan sesuatu yang mudah seperti membalik telapak tangan, upaya itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan konsistensi yang luar biasa. Menko Polsoskam mempersilahkan Sena Wangi dan Damandiri melanjutkan upaya mengajak masyarakat membangun budaya damai dan sejahtera melalui berbagai pagelaran wayang, baik secara langsung "live" di desa-desa maupun melalui media radio, televisi dan media lain yang memungkinkan. Dengan dukungan moril tersebut, selama bulan Puasa atau bulan Desember 2000 para Pengurus Sena Wangi seperti Bapak Drs. H. Solichin dan Bapak Sudarko disertai oleh para Pengurus Damandiri seperti Bapak Dr. H. Haryono Suyono dan dr. H. Loet Affandi serta beberapa pejabat ex Kantor Menko Kesra dan Taskin seperti Bapak Drs. H. Soedarmadi dan Drs Sutejo Yuwono telah bekeliling ke kota-kota Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, Solo dan Surabaya untuk mengadakan pertemuan sarasehan dengan para dalang untuk membahas rencana dan cara-cara menyampaikan pesan-pesan ajakan membangun Indonesia Damai dan Sejahtera dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh rakyat banyak. Di setiap kota yang dikunjungi, sekitar 150 sampai 500 dalang mengikuti pertemuan silaturahmi yang mengasyikkan tersebut. Dalang-dalang kondang sep erti Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudharsono, Ki Timbul Hadi Prayitno, Ki Purbo Asmoro, Nyi Cempluk Sabdowati, Ki Seno Nugroho dan banyak lainnya telah menyempatkan diri mengikuti pertemuan-pertemuan tersebut. Pertemuan silaturahmi itu dihadiri juga oleh para penabuh gamelan, para pesinden, dan seluruh jajaran lain yang saling terkait. Mereka dengan sangat tulus dan penuh antusias mengikuti diskusi dalam pertemuan-pertemuan tersebut dan mengemukakan banyak masukan untuk upaya yang sangat luhur tersebut. Dalam pertemuan yang biasanya disertai dengan acara buka puasa bagi yang beragama Islam itu mereka bersama-sama merumuskan pesan-pesan yang disepakati untuk diulang-ulang dalam setiap pertunjukkan wayang yang mereka mainkan. Mereka sepakat bahwa dimana saja mereka pentas mereka akan mengingatkan agar masyarakat membangun kebersamaan dalam kehidupan sehari-harinya. Disepakati pula bahwa para pengarang lagu akan menciptakan lagu-lagu populer yang bisa mempertegas pesan-pesan tersebut agar mudah merasuk dalam setiap hati dan perasaan para penonton atau para pendengar wayang. Pengalaman mereka mensukseskan KB yang berhasil mengajak pasangan usia subur beramai-ramai ikut KB, diharapkan dapat diulang untuk membangun budaya damai dan sejahtera dikalangan masyarakat luas. Gelaran Pertama Dengan persiapan yang sangat matang pada bulan Desember 2000 serta sebagian lain pada bulan Januari 2001, para dalang dengan tegar mengembangkan kampanye damai dan sejahtera secara profesional. Mereka siap menggelar pertunjukkan wayang untuk menghibur sekaligus mengajak masyarakat dan seluruh penduduk Indonesia untuk bersatu padu, menggalang ke gotong royongan, dan bersama-sama membangun budaya damai dan bekerja keras untuk mencapai kesejahteraan yang bermakna. Pada bulan Februari 2001, setelah pesta Hari Raya Idul Fitri berakhir, dilakukan persiapan pergelaran dengan menjalin kerjasama dengan beberapa stasiun televisi. Pada bulan itu pula mulai dilakukan rekaman bersama stasiun TVRI dan stasiun TV Indosiar. Para petugas yang profesional dengan kemampuan yang luar biasa mengambil gambar-gambar pertunjukkan wayang yang digelar di Padepokan Wayang di Taman Mini Indonesia Indah dengan kualitas prima. Seperti dijanjikan oleh para dalang dan seluruh perangkatnya yang bertemu selama bulan Desember dan Januari lalu, pertunjukkan wayang itu akan disajikan dengan cara menarik, tidak membosankan, dan mengikuti selera penonton tanpa kehilangan nilai-nilai budaya aslinya karena akan disajikan dengan penuh kreatifitas yang menarik. Lagu-lagu baru akan dicipta secara khusus untuk mengiringi tema pokok wayang disajikan dengan suguhan yang akan mengejutkan banyak pihak. Dalam suatu kesempatan pagelaran khusus, Presiden Gus Dur sendiri sempat menonton pertunjukkan wayang dengan isian tema dan pesan itu serta telah berkenan memimpin dialog interaktif dengan para dalang dan atau tokoh-tokoh wayang yang bermain di dalamnya. Model baru unjuk wayang yang membawa pesan pembangunan dengan dialog interaktif itu ternyata cocok dengan kultur orang desa yang masih sangat sederhana cara berfikirnya. Setelah dilihat bahwa acara percobaan itu sukses, maka gelaran massal pertama telah ditayangkan minggu lalu, hari Sabtu tanggal 10 Maret 2001. Gelaran perdana itu secara serentak ditayangkan pada dua stasiun TV, yaitu di TVRI dan Indosiar. TVRI menayangkan dalang kondang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta dengan cerita Aji Narantaka. Indosiar menayangkan dalang yang tidak kalah populernya, Ki Warseno Slenk dengan cerita Wahyu Makuto Romo. Kedua cerita itu sungguh sangat kental dengan nilai-nilai filosofis bagi para pemimpin untuk bagaimana mengembangkan sikap dan tingkah laku yang paling tepat dalam membantu memimpin dan melayani rakyat banyak. Gelaran dalang kondang Ki Warseno Slenk yang diselingi oleh pelawak ulung Basuki dan Nunung sungguh menggoncangkan mimbar televisi dan anak-anak muda penontonnya selama lima jam penuh. Dari waktu tayang sepanjang lima jam itu tidak kurang dari dua jam dipergunakan untuk dialog interaktip, lawakan Basuki dan Nunung, sajian lagu baru Indonesia Damai, lagu-lagu dhang dhut yang dibawakan oleh penyanyi Lely Marlina yang diiringi joget spontan para penggemarnya dan nampak sekali bahwa hiburan itu sangat digemari para penonton remaja. Yang sungguh sangat menarik adalah wejangan tentang Wahyu Makuto Romo yang sesungguhnya berisi pedoman yang biasanya hanya bisa diperoleh di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) atau bahan kuliah yang berat pada studi politik, manajemen, atau kuliah lainnya seperti itu. Dalang kondang yang suaranya cukup mengesankan itu membawakannya dengan penuh arif dan membuat kuliah yang berat tentang kepemimpinan mengalir dengan lancar dan mudah dimengerti. Tentu saja kuliah berat itu bagi para pemimpin harus dipatuhi dan dilaksanakan. Tetapi bagi rakyat kebanyakan, isi kuliah pak Dalang yang memainkan cerita dengan mengasyikkan itu bisa memberi harapan bahwa pemimpin mereka akan mempunyai sifat dan sikap seperti itu. Minimal, rakyat banyak pasti mempunyai harapan serta mendoakan agar pemimpin mereka menganut falsafah yang disajikan oleh Dalang pujaannya. Kalau harapan itu tidak dipenuhi, hampir pasti pemimpin yang mereka hadapi dan tidak memenuhi kreteria idaman seperti itu tidak akan dianggap lagi sebagai pemimpinnya. Kita berharap semoga "pendidikan kepemimpinan" yang disajikan pada malam minggu yang lalu memberikan kesan tersendiri kepada bangsa Indonesia dan wayang dengan gayanya yang makin menarik dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pendidikan kepemimpinan dengan cara yang lebih halus, penuh kedamaian dan menghantar dan membekali masyarakat dalam membangun untuk meningkatkan kesejahteraannya. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan, Gurubesar Unair) - Damai-1732001 2 Views: 865
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |