Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

MENAMBAH ASET PASAR MEMBUKA KESEMPATAN Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

31 August 2000

Untuk meningkatan kesempatan membangun, menambah lapangan kerja, biasanya kita mulai dari jalur produksi dengan membuka kesempatan kerja baru. Kita berusaha meningkatkan kemampuan mengolah bahan baku dengan tehnologi olahan menjadi produk yang canggih dan laku jual. Pendekatan ini biasanya mengalami hambatan karena kita biasanya tidak terlalu peduli menggarap pasar, aksesnya, dan penelitian tingkah laku konsumen yang membutuhkan barang produksi tersebut. Untuk mengatasi kesulitan, biasanya segera dipelajari tingkah laku konsumen dan mencoba menjual produk dengan tehnik-tehnik pemasaran yang cocok dengan tingkah laku tersebut. Gagasan untuk memperhatikan konsumen melalui segala pendekatannya biasanya membawa hasil yang lumayan, sehingga kedua pendekatan itu biasanya menjadi andalan untuk mencapai sukses.

Pendekatan semacam ini untuk produk-produk manufaktur bisa berjalan lancar karena dikelola oleh suatu badan usaha yang lengkap dengan unit pemasaran yang tangguh dan mempunyai program yang komprehensip. Produk-produk manufaktur kemudian diciptakan dengan selera pasar setelah bagian pemasaran mengadakan riset pasar yang seksama. Perubahan bentuk dan penampilan produk disana sini yang dituntut pasar dengan mudah dilaksanakan agar menyesuaikan produk yang lebih akrab dengan pasar dan diminati oleh konsumen.

Dengan produk yang lebih akrab pasar mudah sekali konsumen seakan-akan dipenuhi seleranya dan harus membeli produk tersebut yang menurut “produsennya” telah sesuai dengan selera pasar dan produknya “seakan-akan” sudah sangat dibutuhkan oleh pasar. Bagian pemasaran dengan mudah bisa meng-“create” pasar dengan demand baru atas produk-produk yang dihasilkan oleh usaha besar atau usaha raksasa industri manufaktur tersebut.

Sebaliknya dengan pengalaman dan hasil riset pasar itu bagian produksi makin bisa menyesuaikan produk-produknya menjadi produk yang seakan-akan diminati pasar. Padahal “pasar” itu sesungguhnya telah di-“create” oleh bagian pemasaran dengan tehnik komunikasi dan pemasaran yang canggih. Dengan ciptaan itu sesungguhnya bukan saja mereka bisa membaca selera pasar, tetapi dalam banyak hal mereka bisa juga mencipta pasar untuk barang-barang produknya yang beraneka ragam itu.

Tidak jarang dibuat begitu rupa sehingga proses produksi mengikutsertakan para calon pengguna untuk meyakinkan bahwa proses produksi itu memang dikerjakan “sesuai dengan selera pasar”, atau sesuai dengan permintaan pasar. Unit produksi yang bergerak dengan cara demikian biasanya berhasil meyakinkan suatu “critical mass” yang menjadi pembela produsen bahkan bisa menjadi sangat fanatik terhadap hasil karya suatu produk-produk tertentu. Proses pengikutsertaan masyarakat dengan strategi itu bisa juga menimbulkan kebanggaan tersendiri kepada masyarakat akan produk manufaktur dari daerahnya yang menjadi ciri atau jati diri daerah yang bersangkutan.

Usaha Kecil tidak memiliki Unit Pemasaran
Keadaannya berbeda untuk usaha kecil dan menengah. Pada umumnya usaha-usaha kecil dan menengah tidak memiliki unit pemasaran tersendiri sehingga produk-produk yang dihasilkannya tidak mudah disesuaikan dengan selera pasar. Mereka juga tidak mampu untuk “meng-crate demand”, tidak mampu mencipta pasar untuk menjual barang-barang produknya, sehingga produk-produk usaha kecil tidak mempunyai pasaran yang makin luas dan dapat sejajar atau menyaingi produk dari usaha manufakturing yang lebih besar.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa usaha kecil dan menengah umumnya tidak memiliki aset terhadap pasar karena beberapa sebab. Salah satu sebabnya adalah karena usaha kecil mempunyai modal yang sangat terbatas. Aset pasar umumnya sudah terlanjur dimiliki oleh usaha yang lebih mapan dan atau oleh usaha yang lebih besar. Ketidakmampuan usaha kecil untuk memiliki aset pasar ini sangat membatasi gerakan dari usaha atau pemasaran produk-produknya.

Karena usaha kecil tidak memiliki unit pemasaran maka usaha kecil umumnya juga tidak mempunyai program pemasaran yang canggih. Upaya yang dilakukan lebih banyak mengandalkan pada kemurahan pemerintah untuk mengembangkan pemasaran atau pada sifat tradisional yang terjadi secara alamiah. Cara ini hanya memberi hasil yang sangat minimal. Lebih-lebih lagi dapat kita ketahui bahwa karena banyak keterbatasannya, umumnya pemerintah hanya bergerak dalam bidang yang bersifat pasip yaitu memberikan legitimasi perijinan. Pemerintah tidak atau belum bergerak dalam bidang pemasaran produk-produk dari usaha kecil dan menengah yang ada.

Kegiatan pemasaran seperti pembuatan paket-paket yang menarik konsumen, mengamankan produk dari segala cara untuk menarik konsumen tidak mendapatkan penanganan yang memadai. Begitu juga usaha kecil tidak bisa mengatur harga dari produk-produknya untuk bisa bersaing dengan produk dari usaha yang lebih besar, menutupi ongkos produksi pada jangka panjang dan menyediakan pelayanan yang memberi nilai tambah yang memadai untuk biaya promosi dan keperluan pemasaran lainnya.

Membuka Aset Pasar Usaha Produk Pertanian
Seperti halnya usaha kecil lainnya, produk pertanian, yang diusahakan oleh para petani di pedesaan juga kurang mendapat dukungan dalam hal pasar dan pemasaran. Produk-produk para petani ini mengalami nasib yang serupa dengan usaha kecil dan menengah. Produk-produk pertanian yang dihasilkan oleh para petani di pedesaan tidak didukung dengan strategi pemasaran yang memadai. Produk-produk para petani umumnya dipasarkan secara konvensional dari hari ke hari kepada pedagang pasar lokal atau pedagang-pedagang antara yang menjemput produk para petani itu di pedesaan. Dengan cara demikian jaminan harga dan kontinuitas penjualan juga sangat tergantung pada apa yang ada di sekitarnya itu.

Adalah sukar sekali membuka aset pasar untuk para petani, lebih-lebih melihat produk pertanian yang kontinuitasnya sangat tergantung pada musim maupun faktor-faktor lain yang ada di sekitarnya. Produk-produk pertanian petani kecil itu juga tidak memperoleh standardisasi yang biasanya dituntut dalam suatu sistem pemasaran modern. Karena tidak ada standardisasi juga tidak ada ketentuan harga yang baku serta mudah diikuti oleh pasar dan para konsumennya.

Salah satu terobosan yang berani sedang dilakukan oleh sebuah perusahaan swasta dari Tanggerang bernama PT Selarasgriya Adigunatama. Perusahaan ini, tidak seperti lainnya, memulai usahanya tidak dari jalur produksi tetapi justru dengan membuka pasar dan menambah aset pasar bagi para pengusaha kecil dan para petani yang berasal dari desa-desa. Aset pasar itu dibuka dengan strategi yang menarik.

Pertama, PT Selarasgriya Adigunatama menanam investasi besar-besaran merencanakan membuka jaringan pasar dengan ketentuan yang lentur agar para pengusaha kecil, menengah dan khususnya para petani dengan tanah sempit dan hasil yang relatif kecil dapat memperoleh aset pasar dengan mudah. Segala kemungkinan dengan tujuan agar setiap petani atau pengusaha kecil memperoleh aset itu diperhitungkan betul dengan seksama. Setiap jaringan direncanakan melayani suatu radius tiga sampai empat jam kendaraan dengan harapan sayur atau buah-buahan itu tetap segar sampai ke pasar yang disediakan;

Kedua, pasar dibuka dengan sistem manajemen terbuka sehingga para pedagang, para pengusaha kecil dan petani dapat memperoleh akses dengan mengetahui secara lebih pasti perkiraan ongkos-ongkos yang dibutuhkan untuk berdagang atau untuk ikut berjualan di pasar yang dibangun secara modern itu. Setiap pedagang, pengusaha kecil atau petani dapat berpartisipasi sesuai dengan kemampuan karena mengetahui biaya yang harus dikeluarkan atau ditanggungnya. Segala ongkos-ongkos yang harus dipikul oleh setiap penghuni dijelaskan kepada para nasabah dengan transparan sehingga tidak ada biaya sembunyi yang harus datang secara mendadak dan diluar perhitungan;

Ketiga, pasar dibuka dan disewakan dengan harga sewa yang bervariasi agar mereka yang mampu untuk menyewa dalam jangka panjang dapat melakukannya dengan mudah. Sebaliknya mereka yang hanya mampu menyewa untuk jangka pendek atau bahkan harian dapat pula melakukannya dengan sama mudahnya. Yang menjadi pedoman penting adalah bahwa pasar itu menjadi wahana untuk berpartisipasi dalam membangun kesejahteraan warga penghuninya;

Keempat, mereka dapat memperoleh informasi tentang barang dan produk apa saja yang laku jual di pasar itu melalui sistem informasi yang dikeluarkan oleh manajemen pasar secara teratur. Informasi yang teratur ini dapat dipergunakan untuk memprediksi kebutuhan pasar bagi setiap nasabah yang memiliki kios di pasar itu. Prediksi kebutuhan pasar itu disebarluaskan juga kepada para petani agar mereka dapat mengatur pola tanam untuk tidak menggoncangkan keseimbangan supply dan demand yang bisa mengacaukan harga penjualan. Prediksi penjualan atau kebutuhan pasar itu juga berguna untuk konsumen yang bakal datang agar mereka mendapat dukungan dari para produsen yang membaca kebutuhan produk apa yang harus dihasilkan untuk mengisi pasar pada suatu periode tertentu. Pengaturan keseimbangan antara supply dan demand oleh para pedagang yang ada di pasar dan para produsennya menghasilkan pula upaya bersama pemeliharaan kualitas dari produk yang dihasilkannya;

Kelima, pasar dan asetnya dikelola bersama oleh pemilik pasar, penghuni pasar, para usahawan, petani supplier, konsumen serta tamu pada umumnya. Segala kebutuhan sehari-hari pasar dan penghuninya mendapat perhatian yang seksama seperti misalnya keperluan untuk sholat disediakan masjid dan mushola yang lengkap, keperluan untuk kebersihan dijamin dengan penyediaan air yang melimpah dengan tower yang bisa untuk mengatur pengglontoran seluruh kawasan pasar secara periodik, keamanan dijamin dengan sangat baik agar tidak ada rasa kawatir bagi para penghuninya.

Disamping hal-hal diatas pasar dan sekelilingnya juga dikelola dengan fasilitas yang memadai seperti misalnya adanya jalan-jalan dalam pasar yang lebar dengan akses langsung ke setiap kios. Setiap kendaraan bisa merapat sampai ke pinggir kios-kios yang memudahkan para penghuni kios menurunkan dan mengangkat barang-barang ke kendaraan yang merapat ke pinggiran masing-masing kios. Setiap penghuni kios bisa dengan mudah mengawasi dinaikkan dan diturunkannya barang-barang ke kendaraan yang ada. Tower air yang cukup kecuali untuk membersihkan pasar, juga menjamin tempat-tempat pencucian bagi beberapa kios makanan mencuci piring dan keperluan lainnya.

Dengan kebijaksanaan dan pola pengelolaan itu PT Selarasgriya Adigunatama mulai berhasil. Dalam kasus di Pasar Induk Tanggerang, dia berhasil menggairahkan pasar yang dibangun dengan modal swasta itu. Setiap siang mulai berdatangan truk-truk pengangkut dari sumber daerah asal pertanian. Menjelang malam sampai tengah malam berdatanganlah pembeli secunder dari pasar-pasar di Tanggerang sampai ke wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat sampai ke Jakarta Utara, mungkin juga bahkan ke seluruh Jakarta. Akses ke pasar itu sangat mudah karena bisa melewati jalur tol ke Bandar Udara Soekarno Hatta yang memudahkan hubungan antara Tanggerang dan Jakarta sekitarnya. Kalau eksperimen yang sungguh sangat menarik ini berhasil, PT Selarasgriya Adigunatama akan memperluas usahanya ke Palembang dan Surabaya dengan pola yang sama. Pola ini tidak lain adalah menyadiakan pasar modern yang dikelola dengan cara terbuka, profesional dan sangat memperhatikan penghuninya lengkap dengan segala kebutuhannya.

Semoga makin banyak perusahaan yang peduli terhadap petani, usaha kecil dan menengah di Indonesia karena kesejahteraan mereka adalah kesejahteraan kita bersama juga
(Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan)-Pasar-318200


Views: 1131

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono