|
Biarpun tidak terlalu menyolok Calon Presiden SBY, yang selama lima tahun ini menjabat sebagai Presiden RI, dan Calon Presiden JK, yang selama ini mendampingi SBY sebagai Wakil Presiden RI, nampaknya menyesal karena selama lima tahun terakhir ini “agak” mengabaikan penanganan masalah kependudukan di Indonesia. Dalam tayangan acara Debat Capres keduanya nampak “mengaku bersalah” mengabaikan penanganan kebutuhan penduduk, utamanya melalui program KB, yang semestinya menjadi awal dari proses pemberdayaan penduduk menuju keluarga bahagia dan sejahtera. SBY, kalau terpilih kembali, berjanji akan meningkatkan penanganan masalah kependudukan tersebut. JK, kalau terpilih menjadi Presiden, juga berjanji akan mengembangkan kelembagaan yang lebih berbobot di tingkat daerah agar penanganan masalah kependudukan dapat dilakukan dengan baik.
Pernyataan kedua tokoh itu sebaiknya dianggap sebagai komitmen konkrit Presiden SBY dan Wakil Presiden JK, pemerintah yang sekarang, karena keduanya terlibat dalam penanganan masalah kependudukan. Presiden SBY adalah putra tunggal seorang Kepala BKKBN Kabupaten yang berhasil. Wakil Presiden JK sering terlibat dalam berbagai upacara meresmikan kegiatan nasional dan internasional dalam bidang KB dan Kependudukan. Namun demikian, marilah kita sambut janji baru tersebut dan kita lupakan apa yang sudah terjadi selama lebih sepuluh tahun ini. Kita catat komitmen kedua calon Presiden itu dengan baik karena kalau tidak dilaksanakan, program pembangunan yang gegap gempita akan tertelan habis oleh laju pertumbuhan penduduk yang makin tidak terkendali, dan kemiskinan yang dihasilkan karena kesempatan setiap keluarga membangun akan tertelan habis oleh tekanan kependudukan dalam konteks mikro pada setiap keluarga. Kita sesungguhnya sangat beruntung. Sebagian besar pasangan subur yang sejak tahun 1970 telah bertekad menangani masalah kependudukan masih tetap ber-KB dan yang lain siap ikut KB dengan sungguh-sungguh dan berhasil. Melalui kesertaan dalam KB sebagian keluarga mulai menjadi agen pembangunan, mengantar dan mendampingi anak-anaknya sekolah dan sebagian lagi telah lulus pendidikan tinggi dan menjadi manusia Indonesia seutuhnya, bekerja keras dan mempunyai masa depan yang gemilang. Namun sebagian besar lainnya masih tertinggal, miskin, dan belum mampu untuk mengembangkan keluarga mereka menjadi keluarga yang bermutu serta mampu mengembangkan keluarga mereka dengan lebih baik. Dalam rangka menyongsong pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, utamanya dalam rangka Hari Kependudukan Dunia 11 Juli 2009, komitmen para calon Presiden itu perlu digarisbawahi dan dilengkapi. Pada tahun 1970 – 1990 masalah kependudukan yang utama adalah tingkat kelahiran, pertumbuhan anak-anak balita dan remaja disertai tingkat kematian ibu hamil, melahirkan dan anak-anak yang sangat tinggi. Melalui program KB yang menjemput bola secara intensif ke desa dan pedukuhan serta pelayanan secara gotong royong oleh semua kalangan, tingkat kelahiran dan pertumbuhan anak-anak balita dan remaja berhasil diturunkan lebih separonya. Sampai tahun 2025 nanti penduduk di bawah usia 15 tahun bisa dipertahankan pada jumlah sekitar 60 jutaan. Melalui pelayanan kesehatan yang intensif, juga dengan program pencegahan yang dilaksanakan bersama rakyat di pedesaan, tingkat kematian yang tinggi itu berhasil diturunkan sampai lebih dari separo dibanding keadaannya tahun 1970-an. Tersisa pada penyakit menular baru seperti HIV/AIDS, penanganan kesehatan ibu hamil agar melahirkan karena jumlah anak yang lebih sedikit tetapi sehat, sisa-sisa malaria, serta penyakit degenerasi yang mulai muncul memerlukan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu sampai ke tingkat pedesaan. Karena itu penanganan kependudukan di masa depan perlu dikembangkan sebagai proses pemberdayaan untuk menjamin agar setiap penduduk dikembangkan menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang bermutu. Manusia yang sanggup berdiri sejajar dengan manusia unggul dari segala penjuru dunia, bukan hanya satu atau dua orang menjadi juara lomba matematika internasional tetapi tersisa sebagian besar hanya lulus UAN dengan nilai rata-rata 4,5 saja. Penanganan masalah kependudukan merupakan proses pemberdayaan dengan menempatkan penduduk sebagai titik sentral pembangunan. Proses itu menyangkut pengembangan moral, etika, peningkatan pengetahuan, kemampuan tehnologi, kesehatan, kesetaraan gender dan kemandirian yang menjadikan setiap insan memiliki jiwa entrepreneurship yang sanggup menciptakan karya-karya besar yang mampu mengangkat keluarga, masyarakat, dan kebanggaan nasional. Insya Allah. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menko Kesra RI, www.haryono.com). Views: 892
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |