Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

PEMUDA INDONESIA, BANGKITLAH JADILAH PAHLAWAN BANGSA Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail

Image
Bersama siswa-siswi sebuah SMU di Bali
Minggu lalu, tepatnya tanggal 28 Oktoberr 2006, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Hari Sumpah Pemuda itu ditandai dengan tekad nenek moyang di masa lalu, sewaktu mereka masih muda, untuk bersatu biarpun mereka melihat kenyataan yang berbeda-beda, baik dari segi suku bangsa, bahasa dan asal usul tempat asal mereka. Tekad bersatu dalam keaneka ragaman itu sungguh sangat menyejukkan karena ternyata nenek moyang kita nampaknya lebih sadar dibandingkan kita dewasa ini. Mereka juga pasti mengetahui dan sadar bahwa banyak hal bisa saja berubah atau diubah, tetapi etnik, suku bangsa dan asal usul daerah tidak bisa diubah dan disamakan menjadi satu. Hanya tekad dan toleransi agung yang bisa menyatukan para pemuda itu untuk bangkit, berjuang bersama-sama untuk membangun Indonesia yang jaya dan sejahtera.

Dewasa ini, pada jaman yang sangat modern, pemuda Indonesia, juga pemuda di negara-negara berkembang lain, menghadapi perbedaan yang lebih luas dibandingkan nenek moyangnya di masa lalu. Pendidikan dan kemampuan keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan, biarpun terseok-seok karena tekanan krisis sosial ekonomi yang berkepanjangan, membawa keluarga bangsa ini lebih baik dibandingkan dengan keadaan pada umumnya di masa-masa lalu.

Perbedaan di masa lalu dalam wujud etnik, bahasa dan asal usul sifatnya relatif sederhana karena yang menjadi wakil pada tingkat pergaulan yang menentukan relatif sedikit jumlahnya. Utamanya kaum intelektual, masih sedikit jumlahnya. Kesempatan bergaul relatif jarang karena belum banyak tokoh yang memperoleh kesempatan menjadi pemimpin bangsa. Kelompok kepemimpinan itu didominasi oleh kaum penjajah, Belanda, Jepang atau Inggris. Di masa kini dimana-mana anak muda bersekolah bersama dalam waktu yang relatif lama, dan dalam jumlah yang sangat besar. Anak-anak muda dari berbagai latar belakang bergaul dengan baik selama sekolah, mulai SD, SMP, SMA, sampai ke perguruan tinggi. Segera setelah lulus, mereka bersama-sama memasuki lapangan kerja dengan latar belakang baru yang beraneka-ragam tersebut.

Perbedaan sebelum sekolah karena etnik, suku dan asal usul, telah disatukan oleh jalur pendidikan yang sama. Setelah mereka lulus sekolah dan terjun ke dalam masyarakat, mereka menyebar dan akhirnya memberi warna kepada strukur baru masyarakat Indonesia yang makin majemuk. Kemajemukan itu sangat luas karena diwarnai tidak saja oleh rakyat biasa di kampung dan pedesaan, tetapi juga diberi warna pelangi yang menarik pada tataran birokrasi dan pimpinan tingkat tinggi di berbagai kantor pemerintah dan perusahaan.

Warna warni itu makin menarik karena usia harapan hidup yang makin panjang. Kepemimpinan di masa lalu yang didasarkan pada usia dan kematangan pengalaman mulai dikalahkan dan diisi munculnya tenaga muda dengan latar belakang pendidikan yang tinggi. Kebiasaan mentor dari tua kepada yang muda mulai terganggu dengan keadaan baru yang biasa disebut ”kebo nusu gudel”, yaitu yang tua belajar dari yang muda, semata-mata karena kenyataannya kemampuan yang muda lebih baik, dan kepemimpinan sudah beralih kepada generasi muda.

Variasi kepemimpinan ini ditambah lagi dengan makin maraknya penduduk dengan perbedaan asal usul etnik, berbeda daerah atau latar belakang lainnya, yang bekerja pada birokrasi atau perusahaan yang sama. Mula-mula anak-anak muda dengan banyak latar belakang yang berbeda itu bekerja pada tatanan staf, tetapi lama kelamaan mereka akan naik pada tingkat pimpinan, dan ikut mewarnai struktur kepemimpinan aparat pemerintah dan perusahaan. Mereka ikut membangun budaya baru, budaya berwarna “pelangi” yang semula berwarna hampir seragam. Mula-mula aparat daerah diisi oleh pejabat asal daerahnya, di Jawa oleh pejabat dari Jawa, di Sumatra oleh pejabat dari Sumatra. Dengan makin menyatunya bangsa, pergaulan yang makin majemuk, utamanya pada tingkat pimpinan, susunan stafnya makin berubah warna. Suatu kantor di Jawa dengan pimpinan dan staf yang berasal dari Jawa, bisa berubah karena staf di kantor dan di perusahaan itu bukan lagi seluruhnya pejabat dari Jawa.

Begitu juga berlaku bagi suatu kantor pemerintah atau perusahaan di Sumatra. Akan terjadi hal yang serupa. Kalau pimpinannya berasal dari Sumatra, bisa saja tenaga tehnis yang bekerja di bawahnya bukan lagi datang dari Sumatra tetapi berasal dari Jawa. Keadaan itu mengharuskan adanya upaya yang sungguh-sungguh untuk mengenal budaya dan menggalang kebersamaan yang lebih berat dibandingkan keadaan yang dihadapi oleh nenek moyang di masa lalu. Variasi tersebut ditambah lagi dengan berbagai phenomena yang makin rumit. Salah satunya adalah karena keberhasilan upaya KB dan kesehatan yang berhasil, Usia Harapan Hidup bangsa ini makin bertambah panjang. Akibatnya jumlah generasi muda makin meledak, dimana-mana anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, yang mempunyai latar belakang pendidikan yang setara, memasuki lapangan kerja dengan variasi yang berbeda-beda.

Persaingan yang biasanya hanya terjadi antara sesama anak muda laki-laki, pada jaman sekarang telah berubah. Anak muda laki-laki harus juga bersaing dengan anak muda perempuan dengan latar belakang yang sama handalnya. Disamping itu orang tua yang biasanya sudah harus mengundurkan diri karena pensiun atau tidak mampu lagi bekerja dengan baik, masih tetap tegar dan mungkin saja masih menguasai tataran pada tingkat puncak di perusahaan swasta, atau bahkan di lingkungan pemerintah. Generasi muda harus menjadi generasi yang tangkas dengan latar belakang ilmu dan ketrampilan yang prima untuk tetap memperoleh tempat yang terhormat dan menentukan.

Karena itu generasi pada jaman ini tidak saja harus menguasai ilmu dan tehnologi, tekad dan semangat persatuan dan kesatuan untuk memelihara keutuhan negara kesatuan RI yang kita cintai, tetapi merekapun harus bangkit menjadi pahlawan bangsa dengan kesadaran yang tinggi untuk siap menghadapi perbedaan yang makin luas dengan hati sejuk tetapi semangat baja pantang mundur membawa bangsa ini maju, sejajar bangsa-bangsa yang maju dan terhormat lainnya. Kebangkitan generasi muda harus bisa mengatasi makin tajamnya perbedaan yang berdemensi luas dengan hati lapang dan damai. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan) – Nopember – Pahlawan – 6Nopember2006.


Views: 337

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4

 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono