|
Cita-cita sekolah tetap menjadi cita-cita bagi Resa yang belum dapat dilaksanakan. Hiruk pikuk yang banyak dilakukan anak-anak di sekitarnya tidak memungkinkan Ibu Aminah, sebut saja “nama kota” untuk Ibu Aminatun yang tiga puluh tahun lalu ikut keluarganya meng-“kota” dari induknya di suatu desa di Pacitan, Jawa Timur, mengirim anaknya ke sekolah. Keluarganya, yaitu bapak dan ibunya, baru saja dikabarkan satu demi satu meninggal dunia di tanah seberang. Ibu Aminatun sendiri, yang sekarang terkenal dengan nama Ibu Aminah, menikah dengan kawan sekampungnya yang kumuh di bilangan Pondok Kelapa di Wilayah Jakarta Timur.
Perkawinan itu dianugerahi dengan seorang anak, Resa, yang sekarang sudah berusia 13 tahun. Resa dibesarkan oleh keluarga ini dilingkungan kumuh dengan pekerjaan utama kedua orang tuanya sebagai pemulung, kemudian pengumpul hasil pemulung, yaitu mengumpulkan hasil pungutan plastik dan kardus bekas yang dikumpulkan pemulung lainnya. Resa tergolong anak yang tidak beruntung. Resa termasuk anak yang secara kultural secara turun temurun berada dalam lingkungan keluarga miskin. Kakek, nenek dan kedua orang tuanya selalu hidup dalam lingkungan kemiskinan. Dukungan kegiatan kakek, nenek dan orang tuanya adalah perjuangan siang malam untuk mendapatkan sesuap nasi melalui kerja yang sangat keras penuh persaingan. Menurut cerita ibunya, kedua kakek dan neneknya selalu bekerja dari sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam sebagai pengumpul plastik dan kardus bekas. Pekerjaan kedua kakek dan neneknya jauh lebih berat dari kedua orang tuanya. Mereka mewariskan senioritas itu kepada Bapak dan Ibunya sebagai Pos Pengumpul hasil pungutan pemulung tetangga-tetangganya. Resa tidak pernah mengenal kakek dan nenak yang menjadi pahlawan dengan warisannya itu. Kedua kakek neneknya sejak dia kecil sudah meninggalkan Jakarta sebagai transmigran ke tanah seberang mengikuti teman-temannya. Kata ibunya, kedua kakek neneknya meninggalkan warisan sebagai Pos Pemulung dengan janji akan mencari kehidupan yang lebih sejahtera dan akan mengunjunginya di Jakarta. Ibunya sendiri, Ibu Aminatun atau Ibu Aminah, tidak ikut transmigrasi ke tanah seberang karena baru menikah. Mereka memutuskan untuk mencoba keberuntungan di Jakarta. Karena itu Resa tidak pernah mengenal kedua kakek dan neneknya yang sudah meninggalkan Jakarta pada saat ibunya menikah dengan ayahnya. Sejak saat itu tidak satu orangpun dari kedua kakek dan nenek itu “pulang” menjenguk anak dan cucunya di Jakarta. Sehingga sejak kedua kakek dan nenek itu dikabarkan meninggal dunia di tanah seberang, Resa dan ibunya merasa putuslah hubungan dengan seluruh jajaran keluarga yang ada, termasuk yang ada di tanah Jawa, di Pacitan, sebagai asal muasal keluarga Aminatun yang mungkin tersisa dan ditinggalkannya saat masih kanak-kanak. Menurut cerita ibunya, ada beberapa Saudara Aminatun yang masih di Pacitan. Tetapi Aminatun juga tidak beruntung. Suaminya meninggalkannya saat tidak kuat lagi ber-“saing” dengan kehidupan ganas di pinggiran Jakarta. Kabarnya dia mencari keberuntungan ke kota lain dan berjanji untuk kembali mengambil Aminatun dan anaknya Resa. Sejak ditinggalkan suaminya, Aminatun meneruskan “perusahaan” bapaknya sebagai Pos pengumpul plastik dan kardus. Pekerjaan itu dilakukan dengan telaten dan lebih gesit karena tidak ada pilihan lain. Hasil dari mengumpulkan plastik dan kardus itu disetor kepada pembeli yang sudah menjadi langganannya. Tidak puas dengan pekerjaan sebagai bos pemulung, dia mencoba mengubah nasib dengan berjualan barang-barang bekas yang berharga. Gagasan ini mengusiknya karena ternyata dari hasil yang dikumpulkan tetangganya sering tersisa “harta”, yang bagi yang punya tidak berarti, tetapi dengan gosokan sedikit saja berubah menjadi “barang baru” yang tinggi nilainya. Sejak saat itu Aminatun mengganti namanya menjadi Aminah agar, katanya, lebih mudah diingat dan terkesan “keren” dengan harapan menambah kepercayaan pada pembeli barang-barang dagangannya, atau pada orang-orang yang menitipkan barang dagangan untuk ditawarkan kepada peminatnya. Pekerjaannya sebagai Pos Pengumpul hasil pemulung tidak ditutupnya. Setiap siang sampai sore Aminah selalu bekerja keras menampung hasil pengumpulan kardus dan plastik para prajuritnya. Kumpulan itu secara bersama-sama ditawarkan atau disetorkan kepada pembelinya. Hasil kumpulan itu menjadikan Aminah seperti “broker” yang dipercaya teman dan tetangganya. Karena Aminah buta aksara, sejak kecil tidak pernah sekolah karena membantu orang tuanya, maka hasil kumpulan itu dicatatnya di dalam hati dengan kecermatan yang sangat tinggi. Tidak pernah ada protes dari para pengumpulnya karena kealpaan membayar bagian dari hasil pengumpulan yang disetorkan mereka. Pembayaran bagian dari setiap pemulung selalu dilakukan dengan tertib seakan sebagai jaminan agar para pengumpul tidak pindah kepada broker lain yang mungkin saja menjanjikan pelayanan yang lebih menguntungkan dan profesional. Kecintaan Aminah kepada anaknya Resa tidak beda dengan orang tua biasa kepada anaknya. Segala hasil keringatnya diberikannya kepada Resa berupa makanan yang memadai dan pakaian yang pantas. Biarpun rumah yang ditinggalinya tidak memadai karena dibangun dengan sisa-sisa bahan yang dikumpulkan dari bahan bekas yang dibuang pemiliknya. Rumah itu adalah peninggalan suaminya yang dibangun diatas tanah yang tidak tahu lagi siapa yang punya. Tidak pernah ada pejabat tanah yang menanyakan, tidak juga pejabat pajak yang meminta pembayaran pajak atas tanah yang ditempatinya. Barangkali para pejabat takut dikeroyok oleh puluhan penghuni yang mungkin saja sama keadaannya. Dengan limpahan cinta seperti itu Resa tumbuh sebagai anak yang cerdik dan tegar. Setiap hari, sebagaimana anak biasa, Resa bisa bermain dengan teman sebayanya dengan ceria. Namun, pada saat-saat ibunya menerima kiriman kardus dan plastik bekas, Resa yang mulai tumbuh sebagai anak balita tidak tinggal diam. Dia ikut membantu mengambil plastik yang berserakan dan kardus yang mungkin saja salah tempat. Tentu dalam batas-batas tenaga anak balita. Setelah tumbuh lebih besar, dengan otot yang lebih kuat, anak muda Resa pada usia diatas enam tahun, seakan mulai bisa bertindak sebagai tuan muda yang tidak jarang menjadi wakil ibunya menerima setoran kardus dan plastik bekas. Resa mulai mengambil tanggung jawab sebagai pemilik pusat pengumpulan yang bertanggung jawab. Suatu tanggung jawab besar bagi anak usia sangat muda. Tanggung jawab itu diterimanya dengan penuh kebanggaan. Bahkan karena kemampuannya itu, ibunya, Aminah, memberi ganjaran dengan uang jajan yang lebih besar dibandingkan saat dia masih berusia balita. Untuk menambah uang jajannya, Resa mulai menjadi pemerhati plastik dan kardus bekas. Kemana saja dia bermain bersama teman-temannya, matanya tidak pernah lepas dari plastik dan kardus bekas. Kalau ada kardus atau plastik bekas yang tercecer, dengan tekun dikumpulkannya dan diserahkan kepada ibunya sebagai hasil tambahan pribadi yang mempunyai nilai tersendiri. Melihat kegesitan Resa, ibu Aminah bertambah sayang kepadanya. Anaknya tidak lagi menjadi beban dan bahkan bersama teman sebayanya ikut membantu membuat jaringan pengumpul baru dengan potensi dan dinamika yang lebih gesit dibandingkan dengan pengumpul yang sudah tua dan lebih nrimo. Resa sering punya masalah. Dalam kesendirian Resa selalu resah kalau melihat teman sebayanya, tetangga yang tinggal dirumah gedongan, setiap pagi, dengan pakaian seragam merah putih, menenteng tas berisi buku dan makanan, tidak harus mengumpulkan kardus dan plastik bekas, tetapi langsung berjalan atau diantar orang tuanya pergi ke sekolah. Resa kadang meneteskan air mata kenapa ibunya tidak mengantarkannya ke sekolah. Kenapa ibunya tidak menyuruhnya sekolah. Kenapa orang tua yang tinggal di gedongan tidak menyuruhnya sekolah. Mungkin, kalau dia tahu, kenapa pak Lurah yang bisa juga sekali-kali memergokinya memungut kardus dan plastik bekas, tidak juga menyuruhnya sekolah. Dia tidak tahu, apakah yang lewat pejabat Dinas Pendidikan atau sekedar pejabat dengan seragam kedinasan, tetapi merekapun tidak menyuruhnya sekolah. Mereka seakan tidak peduli dan terkesan menghindar, siapa tahu takut dimintai sumbangan! Minggu ini Yayasan Damandiri genap berusia sebelas tahun. Dalam kesempatan ini Yayasan telah mencoba memotong rantai kemiskinan dengan memberikan bantuan kredit kepada para keluarga dengan anak balita seperti Ibu Aminah dan anaknya Resa. Yayasan ini belum dapat menjangkau seluruh keluarga, termasuk keluarga Aminah. Tetapi mulai tahun ini Yayasan Damandiri mengajak masyarakat bangkit mengembangkan Pos-pos Pemberdayaan Keluarga atau Posdaya di desa. Posdaya diharapkan dapat menghidupkan kekuatan sosial, modal sosial, dan kebersamaan untuk peduli dan menolong sesamanya di desanya. Kekuatan modal sosial itu akan sangat tahu dan mampu menolong mereka yang ada di sekitarnya. Mudah-mudahan gagasan dan kegiatan baru ini mendapat sambutan yang memadai. Siapa tahu Pos Pemberdayaan Keluarga di desa itu akan bisa menolong Resa untuk sekolah. Kita yakin tidak ada yang tidak bisa, kalau saja kita mau. Insya Allah. Selamat Ulang Tahun.(Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS) Views: 355
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |