|
Minggu lalu media massa kita banyak memuat pengumuman pemerintah tentang Visi Indonesia tahun 2030. Dengan alasan berbeda-beda visi itu menimbulkan pro dan kontra yang beragam. Di masa lalu, pengembangan Visi dengan tahun perkiraan tertentu, misalnya 2030, seperti juga upaya pembuatan proyeksi penduduk, merupakan suatu karya yang menarik tetapi rumit dan memakan waktu. Perkiraan masa depan yang bisa disebut Visi bisa ditafsirkan menjadi berbagai hal sesuai “selera” yang mengembangkan atau yang ingin mempergunakannya. Visi yang berupa proyeksi masa depan itu bisa dipergunakan sebagai rancangan masa depan atau petunjuk apa yang bisa terjadi di masa depan kalau semua asumsi yang dipergunakan berjalan sesuai perkiraan. Proyeksi itu umumnya menganut model dengan berbagai alternatif yang diisi dengan data dan trend dari berbagai variabel yang dianggap sifnifikan dalam model yang dipergunakan.
Penyusunan proyeksi atau “ramalan” seperti itu sekarang bisa disusun dengan relatif lebih mudah karena ketersediaan data statistik yang lebih lengkap. Hasilnya akan sangat bervariasi, tergantung tingkat kepercayaan data yang dipergunakan. Apabila data yang digunakan mempunyai tingkat kepercayaan yang rendah hasilnya bisa meragukan. Kepercayaan atas data bisa tergantung pada data primer atau data sekunder yang dipakai. Data primer yang dikumpulkan dengan metodologi yang handal dan sampel yang cukup besar memberikan prakiraan yang sangat akurat. Sebaliknya kalau metodanya kurang cermat, atau sampling framenya kurang baik, maka prediksinya juga dapat diragukan. Kalau mempergunakan data sekunder, kita patut berpikir dua kali untuk memberikan kepercayaan akurasi prediksi yang dihasilkannya. Kemudahan lain dewasa ini adalah penggunaan metodologi yang makin canggih dengan dukungan perangkat komputer dengan kapasitas dan kecepatan yang tinggi. Metodologi yang mungkin saja sudah banyak dipergunakan di negara lain atau oleh lembaga lain, mungkin untuk keperluan berbeda, bisa memberi gambaran keseksamaan asumsi yang dipergunakan. Medologi yang sudah teruji bisa memberikan prediksi yang sangat bagus apabila variabel yang dipergunakan untuk itu mempunyai data yang baik. Dalam banyak keterbatasan itu, Visi 2030 tidak perlu dianggap sebagai prediksi sakral. Visi 2030 dipergunakan tetap akan sangat berharga sebagai rancangan atau cita-cita yang menuntun semua aparat pemerintah dan swasta untuk bekerja bersama. Agar bisa bekerja bersama, asumsi yang dipergunakan dalam model itu perlu dijelaskan secara luas. Apabila tidak dicapai kata sepakat tentang data awal atau trend yang dipergunakan, maka tidak ada salahnya dikembangkan alternatif visi dengan data yang dianggap lebih akurat. Kalau arah dan trend kecepatan suatu variabel bergerak lebih cepat atau lebih lambat, maka visi itupun perlu direvisi. Dengan demikian, Visi 2030 bisa dibuat dan direvisi karena alasan diatas. Bahkan para ahli bisa juga mengembangkan Visi tandingan dengan mempergunakan variabel-variabel lain, termasuk kesepakatan dunia yang makin memperhitungkan kesejajaran antara upaya pembangunan ekonomi dengan pembangunan bidang sosial kebudayaan yang pengaruhnya terhadap kesejahteraan bangsa lebih luas. Apapun yang dipilih pemerintah harus berani mengambil keputusan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh dalam model yang dipergunakan harus menjadi bagian dari upaya pembangunan dengan prioritas tinggi. Kalau salah satu variabel penting tidak sejalan dengan upaya pembangunan yang dianggap prioritas oleh pemerintah dan tidak mencapai target yang diasumsikan, hampir pasti prediksi model itu tidak tercapai. Kalau asumsi Visi 2030 itu meleset, bukan karena salah prediksi, atau salah intervensi, tetapi semata-mata tidak ada yang mengamati dan menjamin bahwa variabel itu diukur sesuai dengan pengukuran pada waktu membuat modelnya, maka akhirnya perkiraan para penyusun visi tersebut akan juga meleset. Masih banyak pekerjaan rumah para perancang dan pengambil keputusan setelah pengumuman tentang Visi 2030. Yang lebih menyedihkan adalah apabila pemimpin yang harus menggerakkan intervensi pembangunan tidak mengerti variabel atau intervensi prioritas pembangunan yang utama. Pemimpin yang mungkin saja merasa sudah bekerja keras, tetapi kerja kerasnya tidak nyambung dengan variabel penting yang dipergunakan untuk mengusung Visi tahun 2030, bisa menggagalkan seluruh usaha mulia itu tanpa disadarinya. Untuk mencegah segala sesuatu sebelum terlambat diperlukan penjabaran dan pejelasan yang sederhana dan mengarah agar pembangunan makin fokus sesuai dengan asumsi Visi 2030 dan menguntungkan rakyat banyak. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Umum DNIKS). Views: 618
Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar. Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu. Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4 |