Artikel untuk Media

Prev Next

Hari Persatuan Anak Muda Bangsa

Besok pagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Sumpah Pemuda, suatu hari keramat yang dicetuskan anak-anak muda dari seluruh Indonesia melalui sumpah untuk bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu,...

Administrator 20 Oct 2014 Hits:6 Artikel

Read more

Gebyar seribu Posdaya berbasis Masjid

Syukur Alhamdulillah, dimulai dengan pengembangan yang berhasil melalui 50 Posdaya berbasis Masjid sebagai awal, pada waktu ini di Jawa Timut saja telah ada tidak kurang dari seribu Masjid yang memiliki...

Administrator 06 Oct 2014 Hits:24 Artikel

Read more

Memperingati Hari Lansia Sedunia

Minggu lalu, di Alun-alun Wonosobo yang berhawa sejuk, dihadiri lebih dari 5000 peserta lansia dan keluarganya dari seluruh Indonesia, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Drs. Heru Sujatmiko, atas nama Gubernur Jateng,...

Administrator 06 Oct 2014 Hits:26 Artikel

Read more

MENGEMBANGKAN POSDAYA BUDAYA

Posdaya sebagai forum bersama, dalam bahasa populer disebut lingkaran besar, ternyata dalam dinamikanya yang unik mampu mempersatukan lingkaran-lingkaran kecil di sekitarnya. Posdaya menggetarkan nilai kegotong royongan dengan menajak berbagai lingkaran...

Administrator 30 Sep 2014 Hits:25 Artikel

Read more

MENYONGSONG INDONESIA DAMAI

Besuk pagi kita akan memperingati Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI) tanggal 5 Oktober 2014. Kita bersyukur dan bangga karena selama ini bangsa Indonesia selalu bisa mengatasi gejolak yang terjadi tanpa...

Administrator 30 Sep 2014 Hits:16 Artikel

Read more

MEMBANGUN KOMITMEN KEBERSAMAAN

Untuk pertama kalinya, Menteri Sosial, Dr. Salim Segaf, didampingi para pejabat Eselon I dan Eselon II, menugasi Sekretaris Jendral Kementerian Sosial, untuk mewakili Kementerian Sosial menanda tangani Letter of Intent...

Administrator 22 Sep 2014 Hits:36 Artikel

Read more
Otonomi Daerah Dan Peta Kemiskinan PDF Print E-mail

08 September 2001

Bulan depan BKKBN mulai bekerja keras mempersiapkan upaya untuk memperbaharui peta keluarga di seluruh Indonesia. Peta keluarga itu semula dikembangkan untuk membantu keluarga Indonesia mendapatkan dukungan pemerintah, aparatnya dan lembaga-lembaga terkait dalam proses pemberdayaan keluarga. Pemberdayaan awal dimulai dengan bantuan dalam program KB. Selanjutnya di tambah lagi dengan bantuan dalam memperbaiki kualitas anak-anak balita. Makin lama makin luas dan membesar, yaitu bantuan untuk anak remaja, penduduk lansia dan seluruh keluarga. Peta keluarga itu disusun dari data individual keluarga Indonesia. Pada tahun 2000 yang lalu berhasil dikumpulkan data individual dari hampir 47 juta keluarga yang berasal dari seluruh Indonesia.

Dengan data itu disusun peta keluarga, termasuk peta keluarga miskin, dengan segala cirinya yang penting untuk keperluan pembangunan. Dengan berpedoman pada peta itu berbagai instansi dan lembaga masyarakat mengembangkan program-program sesuai kondisi dan pilihan sasaran. Sayang pemerintah sendiri mempunyai anggaran yang sangat terbatas. Tidak banyak bisa mengembangkan program yang menguntungkan masyarakat. Namun kita patut bersyukur, mulai banyak program dan kegiatan mempergunakan peta yang sama untuk menentukan sasarannya secara tepat. Sebagai contoh, bantuan untuk penduduk miskin melalui pemberian “kartu sehat” mempergunakan data dan peta tersebut dengan penyempurnaan seperlunya. Bantuan beasiswa GN OTA untuk anak-anak miskin juga mempergunakan peta yang sama dengan penyempurnaan yang baik. Upaya membantu keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I, atau keluarga yang kalau tidak dibantu akan dengan mudah jatuh miskin, menjadi pemakai utama yang berhasil. BKKBN sendiri, sebagaimana tujuan awalnya mengembangkan peta itu dimasa lalu, mempergunakan peta ini untuk membantu setiap keluarga pasangan usia subur mendapatkan pelayanan KB. Atas dasar data peta itu setiap pasangan mendapatkan informasi, edukasi dan komunikasi. Pelayanan itu diantar ke rumah-rumah pasangan usia subur agar mereka bisa “melek KB”. Selanjutnya setiap pasangan subur bisa mengambil keputusan untuk pergi ke klinik KB atau menunggu pelayanan lapangan yang biasanya diantar oleh para bidan bersama petugas lapangan lainnya. Peta itu telah menolong tidak saja ribuan, tetapi jutaan atau bahkan hampir semua pasangan usia subur berupa pelayanan KB yang sangat baik dirumahnya, di RT-nya, di RW-nya atau minimal di desanya. Biarpun ada yang melontarkan kritik untuk program KB yang berhasil selama ini, dengan peta sasaran yang baik, tidak kurang dari 35 juta keluarga pasangan usia subur telah memperoleh pelayanan informasi dan kontrasepsi dengan teratur. Tidak tanggung tanggung, jutaan ibu-ibu dan bayi yang tidak berdosa telah dapat dibebaskan dari kematian akibat kehamilan yang terlalu sering, terlalu rapat, atau sudah terlalu tua masih juga mengandung dan melahirkan. Karena itu tidak terhitung jumlah suami yang tidak jadi kehilangan isterinya. Tidak terkirakan lagi anak-anak balita yang tidak jadi kehilangan ibunya karena upaya penyelamatan yang sangat luhur tersebut. Kebahagiaan itu terjadi karena para petugas di lapangan, para ibu-ibu PKK, para alim ulama, dan banyak lagi sukarelawan yang sangat berjasa telah berhasil membuat peta keluarga yang sangat berguna. Ada juga beberapa instansi yang belum sepakat mempergunakan peta yang sama. Bagi yang belum setuju umumnya mencari kekurangan, bukan kesamaan atau kelebihan peta sasaran tersebut. Akhirnya instansi dan lembaga kemasyarakatan itu membuat peta sendiri yang pasti tidak luput dari kekurangan juga. Alangkah baiknya kalau semua pihak bukan saja bisa memberikan kritik, tetapi mengulurkan tangan dan bekerjasama menyempurnakan data dan peta tersebut untuk dipergunakan bersama sebagai acuan pembangunan. Peta acuan itu dijadikan alat untuk memadukan program dan bantuan. Bulan depan kegiatan menyempurnakan peta itu dimulai lagi. Alangkah baiknya apabila pemerintah daerah, dalam era otonomi, meluangkan waktu, menyediakan tenaga dan dana tambahan, untuk memperluas cakupan dan meningkatkan mutu pendataan tersebut. Perluasan cakupan itu dapat dilakukan dengan memilih berbagai prioritas yang cocok untuk kepentingan daerah. Bisa untuk memperbaiki pelayanan sosial kemasyarakatan. Bisa untuk mengembangkan peta pembangunan ekonomi kerakyatan yang berwawasan kependudukan, yaitu dengan mengedepankan penduduk sebagai sumber, pelaku dan akhirnya menikmati hasil pembangunan sesuai sumbangannya. Upaya untuk meningkatkan mutu pendataan itu dapat dilakukan dengan memberi petunjuk yang jelas kepada setiap Kepala Desa, Ketua RW dan Ketua RT untuk memberi bantuan secara jujur dan sewajar-wajarnya. Para petugas dan siapa saja yang secara sukarela membantu mengumpulkan data dari penduduk setempat diharapkan bekerja sama secara jujur. Data yang dikumpulkan benar-benar hasil wawancara yang tidak di rekayasa. Kejujuran menjawab pertanyaan dan mengisi berbagai kolom dalam daftar pertanyaan sungguh akan meningkatkan mutu data yang dikumpulkan. Lebih dari itu, apabila para pejabat dan petugasnya di daerah dapat ikut serta secara aktip mengembangkan peta pembangunan itu, diharapkan upaya yang nanti akan direncanakannya mempunyai titik pijak yang nyata dan benar. Upaya itu didasarkan pada data atau kenyataan lapangan yang setiap tahun diperbaharui. Setiap tahun dapat dilihat kemajuannya secara faktual. Pembangunan tidak lagi menjadi sekedar “buah bibir”, dan dilaporkan secara kualitatip. Keberhasilannya setiap waktu dapat dinilai dan diukur secara kuantitatip. Selanjutnya keberhasilan atau kekurangan itu dapat disajikan secara transparan.

Membuat Peta Kemiskinan
Kesediaan lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, IMF, Bank Pembangunan Asia, Pemerintah Amerika, Pemerintah Jepang, serta lembaga-lembaga lain seperti UNICEF, WHO, UNFPA, UNESCO, FAO, US AID, AusAID, dan lainnya, sungguh menggembirakan. Mereka siap membantu mengentaskan kemiskinan, termasuk ikut mengurangi penderitaan ibu dan anak-anak, mengatasi masalah kekurangan gizi, pelayanan kesehatan dan KB, kekerdilan dalam pengertian reproduksi sehat, pendidikan, produksi pangan, dan lainnya patut disambut dengan persiapan yang memadai.

Salah satu persiapan untuk menyambut uluran tangan lembaga-lembaga internasional itu adalah memberikan arah sasaran yang tepat dan tidak tumpang tindih. Untuk memberikan arahan yang tepat itu diperlukan sasaran bersama yang bisa menjadi acuan program terpadu. Tiba waktunya pemerintah daerah, sebagai pemegang otonomi, bekerja keras mengusahakan agar pendataan yang setiap tahun selalu diperbaharuhi itu bisa menjadi acuan bersama yang bermutu. Acuan bersama ini bisa dipergunakan untuk meng-koordinasikan program dan kegiatan tanpa harus ikut campur terlalu mendalam pada ”tetek bengek” kegiatannya. Acuan bersama berfungsi mengarahkan sasaran secara tepat. Arahan terpadu melalui sasaran itu akan memungkinkan setiap lembaga dengan berbagai program dan kegiatan mengisi sasaran yang sama dengan dukungan bervariasi. Dengan demikian seluruh intervensi program dapat diarahkan secara terpadu bukan karena instruksi Bupati atau Walikota, tetapi karena sasarannya jelas dan sama. Sasaran itu, yang adalah rakyat kita, harus yakin bahwa seluruh dukungan untuk pembangunan itu bisa sampai secara mulus kepadanya. Otonomi Daerah harus bisa dipergunakan oleh Pimpinan yang Visioner untuk maju dengan cepat. Dengan Otonomi Daerah harus bisa meningkatkan dinamika pembangunan dengan merubah orientasi dari pendekatan “PC”, yang dulu artinya ”Power Centered”, kepada orientasi baru, “PC” baru, yang artinya “People Centered”. PC baru adalah Pembangunan berbasis Kerakyatan. Kesempatan emas ini datang tidak secara tiba-tiba. “Emas”-nya sendiri sekarang telah mempunyai kualitas yang dapat dibanggakan. Karena itu dalam empat bulan ini Pemerintah Daerah dengan aparatnya, dalam rangka otonomi yang dinamis, dapat dengan sigap mengambil sikap dan memanfaatkan momentum untuk membuat peta wilayah itu. Peta wilayah itu sekaligus bisa menjadi peta kemiskinan yang hampir pasti akan disambut rakyat banyak dengan antusiasme yang tinggi. Lebih lagi kalau mulai awal tahun 2002, dengan peta kemiskinan yang akurat, segera diikuti dengan program dan upaya pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan penduduk secara sistematis. Dengan peta kemiskinan yang akurat diharapkan berbagai Instansi, pusat dan daerah, serta lembaga-lembaga donor, dari dalam maupun luar negeri, masyarakat luas, termasuk keluarga dan penduduk miskin sendiri, dapat diajak mengembangkan program pembangunan yang berdimensi ganda. Minimal dapat dikembangkan program dan kegiatan pembangunan dengan pendekatan tiga dimensi, dimensi manusia, dimensi wilayah dan dimensi usahanya.

Dengan sasaran penduduk, anggota keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I, yang hampir mirip dengan keluarga miskin, dapat diusahakan dukungan terpadu untuk program-program kesehatan, pendidikan dan usaha ekonomi mikro yang memadai. Usaha bidang kesehatan dapat diprioritaskan pada upaya pencegahan seperti imunisasi dan pengobatan penyakit-penyakit yang umumnya diderita oleh anak-anak bayi atau anak balita. Dukungan untuk pendidikan dapat diarahkan untuk meningkatkan cakupan wajib belajar sembilan tahun, khususnya menggiatkan perluasan cakupan pendidikan sekolah menengah tingkat pertama dan sekolah menengah umum lainnya.

Dukungan untuk usaha ekonomi mikro diarahkan untuk meneruskan berbagai kegiatan yang selama ini telah berhasil merangsang gerakan ekonomi kerakyatan. Dukungan itu diarahkan pada usaha mikro, usaha kecil dan menengah serta gerakan koperasi pada umumnya. Pemberian modal dan bimbingan oleh para pejabat dan tenaga profesional bisa lebih diarahkan pada sasaran dengan lebih tepat, sungguh-sungguh dan berkesinambungan. Dukungan untuk pengembangan wilayah diarahkan untuk “menghidupkan” wilayah-wilayah terbelakang agar secara ekonomis bisa memberi peluang yang makin besar. Rakyat yang selama ini “terpaksa tidur” karena wilayahnya mati, atau secara ekonomis tidak ada fasilitasnya, harus dibangkitkan semangatnya untuk ikut serta dalam pembangunan yang menjanjikan. Dengan partisipasi rakyat yang makin tinggi itu, pengembangan wirausaha untuk wilayah dan penduduk pada umumnya akan mempunyai makna yang lebih baik. Dengan demikian pengembangan kewirausahaan tidak harus membuka kesenjangan karena semua pihak ikut serta dalam partisipasi yang proporsional sesuai kemampuan atau pilihannya secara demokratis. Peta wilayah yang akurat akan memberi makna kepada otonomi dengan sentuhan yang mengena hati rakyat banyak. Rakyat harus melihat bahwa otonomi daerah adalah untuk memperbaiki nasib rakyat, melalui kesempatan membangun yang diberikan kepada rakyat. Otonomi bukan sekedar untuk menaikkan pendapatan daerah, atau memberi kesempatan para pejabatnya mendapat honor lebih tinggi, jalan-jalan ke luar negeri atas beban rakyat banyak, atau membangun dengan mengorbankan gaji guru atau karyawan kecil lainnya. Mudah-mudahan hal-hal yang nampaknya sederhana tetapi sangat strategis dan menyentuh hati nurani rakyat kecil itu mendapat perhatian Ibu Presiden Megawati Soekarnoputri bersama para Menterinya, para Gubernur, para Bupati dan Walikota, serta kekuatan pembangunan lainnya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita sekalian. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Pengamat Masalah Sosial Kemasyarakatan). – Otonomi-Miskin-892001.

 

Aktifitas Terkini

JAMBORE LANSIA: HARAPAN DAN KEPEDULIAN PARA LANSIA INDONESIA

Oleh Riri Wijaya, reporter Radio DFM

“Menjadi lansia bukanlah akhir dari segalanya, namun dapat menjadi titik awal yang lebih terbuka untuk mengabdikan diri pada bangsa dan Negara.”  Demikian pernyataan dalam kata sambutan yang penuh optimisme dari Ketua Panitya Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HALUN) 2012,  Prof. DR. H. Haryono Suyono, dihadapan peserta Jambore Lansia yang berlangsung di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah, Selasa  malam (29/5).


Read More...

PERINGATAN HALUN DI ISTANA NEGARA MENGUKUHKAN GERAKAN LANSIA PEDULI TIGA GENERASI

Oleh Riri Wijaya, reporter Radio DFM

Ketua Panitia Hari Lanjut Usia  Prof. DR. Haryono Suyono menyatakan, peringatan Hari Lansia Nasional 2012 yang jatuh pada hari ini, akan dijadikan momentum gerakan Lansia Peduli Tiga Generasi. Selain gerakan peduli sesama lansia, melalui gerakan Posdaya, lansia bisa memberikan manfaat dan perhatian kepada generasi di bawahnya, yaitu balita dan remaja.


Read More...

Musyawarah Daerah PWRI Jawa Tengah, 27 Maret 2021



Selaku Ketua Umum PB PWRI Prof Dr Haryono Suyono memberi sambutan pada pembukaan Musyawarah Daerah PWRI Jawa Tengah, di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (27/3)


Read More...

ToT dan OST Posdaya se Sumatera Barat, 26 – 27 Maret 2012


Training of Trainer (ToT) dan Observation Study Tour (OST) yang diikuti oleh LKKS, SKPD terkait dan LPM Perguruan Tinggi se Sumatera Barat.


Read More...

Lokakarya Klinik IPTEK MINA Bisnis Kementerian Kelautan dan Perikanan, 22 Maret 2012


Lokakarya Klinik IPTEK MINA Bisnis yang diselenggarakan oleh Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 22 Maret 2012.


Read More...

Gebyar Percepatan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi DKI Jakarta, 22 Maret 2012


Gebyar Percepatan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi DKI Jakarta diisi kegiatan Pengukuhan PPKB RW, Penganugrahan bagi PPKB RW, Penganugrahan KB Lestari, Penghargaan Ketua TP PKK Kelurahan, Temu Wicara, Penghargaan Pengelolaan Program , 22 Maret 2012.


Read More...
012345

Klipping

Wirausaha haras peduli sesama

Harian Duta Masyarakat, Rabu, 28 Oktober 2009

J1WA wirausaha (entrepreneur) ada dalam setiap diri manusia. Untuk itu harus ditumbuhkan, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, melainkan juga untuk kepentingan sesama menuju kemakmuran bersama. Dalam kaitan ini, Yayasan Damandiri bersama Haryono Center menyelenggarakan "Pelatihan Pengembangan Kewirausahaan Bagi Pemuda" yang dibuka Kamis (22/10) di Griya Gemari, Buncit Indah, Jakarta Selatan.


Read more...

RT/RW DKI Boleh Gunakan HSC

RT/RW DKI Boleh Gunakan HSC

Harian Pelita, Senin, 4 Februari 2008

GEDUNG Haiyono Suyono Centre, memang belum resmi dibuka namun sudah bisa digunakan terutama untuk masyarakat yang menggelar berbagai kegiatan kemasyarakatan, bukan kegiatan politik atau fahm-fahm tertentu.


Read more...