Menilik Kembali Cerita Program KB PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 16 February 2009 16:08
Harian Republika , Minggu, 15 Februari 2009

Haryono Suyono sukses menjalankan program kependudukan. Ide-idenya bermunculan untuk pemberdayaan keluarga, bahkan di saat ia tak lagi di pemerintahan.

Nama Haryono Suyono 'identik' dengan Keluarga Berencana (KB). Dia perintis KB, sekaligus Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Hasil kerja keras Haryono 'mengantarkan' Indonesia untuk pertama kalinya ke mimbar kehormatan PBB. Di tahun 1989 itu, Indonesia menerima penghargaan tertinggi KB Dunia, UN Population Awards, yang diberikan langsung oleh Sekjen PBB.

Di tahun itu, kesuksesan program KB dan kependudukan di Indonesia menjadi contoh negara-negara berkembang. Bangladesh, Tunisia, dan ribuan orang dari negara lain dikirim ke Tanah Air untuk studi banding mengenai KB. Pemimpin negara-negara berkembang, termasuk Cina, Vietnam, India, Pakistan pun sangat tertarik dengan sistem KB dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Keberhasilan ini mengantarkan kembali Indonesia memperoleh penghargaan dari PBB dalam pengentasan kemiskinan.

''Ingin saya ukir dengan tebal bahwa teladan almarhum ibu saya, Siti Padmirah, dan almarhum Pak Harto menjadi anutan, dan sangat mewarnai hidup saya yang penuh cita-cita ingin menempatkan manusia Indonesia sebagai sentral pembangunan,'' ujar Haryono.

Buku Mengubah Loyang Menjadi Emas merupakan gagasan yang pernah ditulis Haryono Suyono di koran dan majalah. Isinya berkaitan erat dengan masalah kependudukan, KB, pemberdayaan perempuan, kesehatan, ibu dan anak, serta pendidikan anak keluarga tidak mampu. Di buku karya pria kelahiran 6 Mei yang tahun ini berusia 65 tahun itu menceritakan pula peran ibunya yang sangat luar biasa. 'Ibu Padmirah sumber Inspirasi' sebagai ibu penggembleng penuh falsafah dan disiplin.

Proses menimba ilmu diuraikan di seri keempat bagaimana Haryono memburu ilmu dari Yogya sampai ke Chicago. Seru juga membaca pengalamannya. Setelah meraih gelar MA, ia dirayu melanjutkan ke jenjang S3. ''Prof Bogue sangat kagum dengan kemampuan saya dalam bisang statistik dan matematika. Beliau terhenyak, hampir tidak ada mahasiswa dari Asia sebaik saya,'' ujar Haryono.

Ayah empat ini menyetujui dengan dua syarat, yaitu istrinya menyusul ke Amerika dan dicarikan beasiswa selama kuliah. Kedua syarat itu disanggupi Prof Bouge.

Di Chicago tidak hanya sebagai mahasiswa. Haryono juga menjadi asisten dosen, dan membuka jaringan internasional. Istrinya, Astuti Hasinah, dilibatkan menjadi tenaga asisten dosen asal Prancis yang memberi mata kuliah Bahasa Melayu. Dia menjadi asisten dosen dengan honor tak resmi yang cukup besar. Nilainya jauh lebih besar dibandingkan beasiswa Usaid yang diterima Haryono setiap bulannya.

Akhir September 1972, Haryono kembali ke Tanah Air. Bekal menulis paper selama kuliah dan bekal membaca cepat memudahkannya  mempelajari banyak bahan rapat dan menyiapkan pelaporan. Wawasan intelektual pun sangat luas. ''Saya merasa tidak hanya bekerja keras, namun juga cerdas, logis, dan diplomatis,'' ujar Haryono (hlm 258).

Buku otobiografi setebal 429 halaman ini dilengkapi dengan foto-foto menarik. Foto masa lalu, masa pendidikan, saat menjadi menteri, dan masa kini. Di mana kaitan 'Loyang menjadi Emas'? Banyak disebutkan istilah itu, termasuk ketika Haryono menerima gelar dari Sunan Solo, Pakubuwono XII. ''Pengukuhan saya sebagai Kanjeng Pangeran Prof Dr Haryono Kusumo Husodo. Secara resmi, saya menjadi seorang ningrat dari Solo, dalam bahasa resmi 'loyang' dari Pacitan telah menjadi 'emas','' ujar dia.

Haryono sangat serius menangani masalah kependudukan dan pengentasan kemiskinan. Di dekade 1980-an ia mencanangkan KB Mandiri. Ia tak segan berkonsultasi dengan berbagai dokter, mulai dokter anak, dokter gigi, dokter penyakti dalam, hingga dokter kemasyarakatan (public health). ''Program itu saya cetuskan pada tahun ketiga masa kepemimpinan saya, yaitu tahun 1986,'' tulis Haryono (hlm 32).

Tak hanya itu. Program KB Mandiri pun didukung dengan pelayanan yang disesuaikan dengan melihat kondisi wilayah. ''Di Jakarta misalnya, dikembangkan pelayanan KB Telepon,'' tulis Haryono (hlm 33).

Haryono terus berupaya memadukan berbagai program kependudukan. Meski tak lagi duduk di pemerintahan, Haryono masih mencetuskan ide-idenya soal kependudukan. Pemberdayaan keluarga secara menyeluruh bahkan dicanangkan hingga di desa-desa. Dibentuklah pula Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). ''Gagasan Posdaya pertam akali saya coba luncurkan di Bali pada Juli 2007 yang kemudian diangkat oleh Bupati jembrana Prof Dr drg I Gde Winasa dengan nama Posdayandu atau Pos Permeberdayaan Keluarga Terpadu.'' tulis Haryono (hlm 340).

Peluncuran Buku Haryono Suyono diselenggarakan Rabu malam (11/2) di Menara Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Acara itu sekaligus menjadi ajang reuni para pejabat dan mantan pejabat di era Orde Baru. Di antaranya hadir mantan wakil presiden Try Sutrisno, mantan ketua umum Golkar Akbar Tandjung, Sudomo, Subijakto Tjakrawerdaya, Sulasikin Murpratomo, Bismas Siregar. Hadir pula tokoh politik Fuad Bawazier, Ketua Umum DPP PPP yang juga Menko Suryadharma Ali, mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Dalam pesan dan kesannya, Try Sutrisno memberi apresiasi bahwa Haryono adalah seorang yang rendah hati. Haryono selalu menyatakan kesuksesannya berkat bantuan teman sejawat, pimpinan, anak buah, dan masyarakat. Haryono pun selalu menyatakan apa yang diraihnya sampai saat ini berkat doa dan tuntunan dari sang Ibu.

Lain halnya kesan yang diberikan Akbar Tandjung. Baginya, di balik kesuksesan Haryono sebagai pakar statistik dan sosiologi, sukses mengendalikan kelahiran lewat program KB, ternyata memiliki naluri politik yang tinggi. ''Haryono adalah ahli dalam komunikasi politik,'' tutur Akbar.

Sedangkan kesan Sutiyoso terhadap Haryono agak berbeda. "Saya selalu diingatkan Pak Haryono agar tersenyum. Soalnya kalau nggak banyak tersenyum nggak akan dipilih," ujar Sutiyoso berkampanye. Hadirin yang memenuhi ruang Wisma Bhirawa pun tertawa.

Acara peluncuran buku pun menjadi ajang kampanye. Haryono yang tadinya tenang, menjadi ikut-ikutan mengomentari para capres yang hadir di acaranya. Menurut Haryono, yang datang di peluncuran buku malam itu banyak para capres.

''Bang Yos yang sudah mendeklarasikan diri. Giliran berikutnya yang akan mendeklarasikan diri adalah Akbar Tandjung. Sedangkan yang masih malu-malu Suryadharma Ali. Yang menunggu di belakang sambil ngintip-ngintip, Fuad Bawazier. Satu lagi capres yang masih menunggu fatwa untuk maju menjadi capres. Tak lain adalah AM Fatwa.'' Sambutan Haryono kembali disambut tawa seluruh undangan yang memenuhi ruang Wisma Bhirawa.  vie