|
Siaran Haryono Show di Radio DFM 103,4 tanggal 22 Juli 2009 dengan thema SATU MAHASISWA SATU POSDAYA
Laporan: Riri Wijaya
Jika terdapat 300 orang mahasiswa yang akan terjun dalam KKN Thematik Posdaya, maka harus berdiri 300 posdaya pula”, demikian antara lain yang disampaikan Prof. DR. H. Haryono Suyono dalam siaran kita hari ini, yang didampingi DR. Rohadi Haryanto dan Prof. DR. H. Sumarto, MSIE Ketua LPPM Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Tingkat kematian yang tinggi menjadi alasan yang dikemukakan Prof Haryono, kenapa 1 mahasiswa harus mendirikan 1 Posdaya. Menurutnya, Yang namanya gerakan tak ada paksaan oleh sebab itu didalam perjalanannya pasti ada yang mati, persis seperti anak ayam, dimana dalam dua minggu pertama tinggi kematiannya tetapi setelah usianya mencapai sebulan maka akan tinggi harapan hidupnya. Seperti itulah kondisi Posdaya, Jangan sampai ketika datang peserta gelombang berikutnya tak ada lagi Posdaya yang hidup karena Cuma sedikit membangunnya diawal. “Pada saat persiapan, kita perlu 5 mahasiswa untuk saling bantu-membantu, tetapi setelah dilantik, 1 mahasiswa minimal 1 posdaya” Ujarnya optimis. Menurut Prof. Sumarto, ada 1905 mahasiswa UPI yang siap terjun di masyarakat dengan 50 Dosen pembimbing lapangan dan mereka dibagi menjadi 195 kelompok untuk terjun di 4 wilayah yaitu Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut dan Subang. Dikatakannya, KKN Tematik Posdaya bisa menjadi feedback bagi mahasiswa agar setelah lulus dan jadi guru, tidak cengeng serta mengetahui berbagai perkembangan desa. "Mahasiswa KKN kita harapkan mampu membangun masyarakat mandiri, karena Masyarakat desa 'itu kalau kedatangan mahasiswa senang karena dianggap membawa ilmu baru dan disegani. Maka apa yang dilakukan mahasiswa banyak yang ditiru," tuturnya. Sementara itu, DR. Rohadi mengatakan, pada bulan ini ada sekitar 8 Perguruan tinggi yang disetujui untuk KKN Thematik Posdaya, antara lain IPB,UPI, UMM, UN Malang, Unsri, Universitas Bengkulu, Undip dimana lumayan banyak mahasiswa yang akan diterjunkan antara 300-1000an orang, yang pastinya diharapkan akan menjadi pioneer-pioneer masyarakat. Menutup perbincangan, Prof. Haryono mengatakan, sekarang ini gerakan pemberdayaan tak dapat di rem lagi, menyongsong kepemimpinan baru, kita giring masyarakat menjadi ma syarakat demokratis, kalau gerakan ini berkembang tak perlu lagi disosialisasi karena kesadaran sudah tumbuh dan bisa tetap berjalan. Kedepannya bukan pemimpin yg menilai bawahan, tetapi rakyat yang menilai pemimpinnya sebagai tolak ukur keberhasilan pembangunan. |