Awal 2001 Jumlah Penduduk Indonesia 205 juta PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 03 April 2007 15:16

06 January 2001

Hari Rabu lalu Badan Pusat Statisitik (BPS) mengumumkan hasil sementara Sensus Penduduk yang diselenggarakan bulan Juni 2000 yang lalu. Jumlah penduduk Indonesia pada sekitar bulan Juni 2000 itu adalah 203,46 juta jiwa. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi yang dibuat sebelumnya. Pada akhir tahun 1960-an para ahli memperkirakan proyeksi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 sekitar 280 juta jiwa. Angka itu diubah pada tahun 1980-an menjadi 240 juta jiwa. Kemudian disempurnakan dengan hasil Sensus dan Survey yang makin banyak menjadi sekitar Ib>220 juta jiwa. Pada tahun 1995 dibuat proyeksi baru dan diperkirakan jumlah penduduk Indonesia adalah sekitar 213 juta jiwa. Dengan adanya data yang lebih lengkap dan hasil-hasil Program KB yang makin gencar, pada tahun 1997 angka itu disempurnakan lagi menjadi sekitar 208 juta jiwa. Memang, dengan cara sederhana kita selalu bisa mengembangkan proyeksi baru dengan menyesuaikan beberapa variabel yang dianggap tidak cocok lagi dengan perkiraan yang dipergunakan sebelumnya. Dengan cara itu semua ahli demografi tahu bahwa usaha itu bisa menghasilkan angka perkiraan baru yang jumlah dan variasinya hampir tidak terbatas.

 

Menurut Proyeksi Penduduk itu nyata sekali bahwa pengumuman hasil sementara Sensus Penduduk jumlah penduduk Indonesia itu jauh dibawah angka-angka yang diproyeksikan oleh para pakar yang ada. Kenapa bisa demikian ?

Hasil Proyeksi Penduduk yang terakhir dengan perkiraan jumlah penduduk sebesar 208 - 213 juta jiwa, diolah berdasarkan data Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995, dan diperbaharui dengan data hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997. Karena beberapa alasan nampaknya hasil proyeksi itu tidak lagi cocok sebagai perkiraan jumlah penduduk Indonesia untuk tahun 2000 atau untuk tahun 2001.

Proyeksi Penduduk dan Fertilitas yang Direm
Untuk sampai pada perkiraan angka-angka proyeksi jumlah penduduk untuk suatu periode tertentu harus dipertimbangkan trend beberapa variabel kependudukan sebelumnya selama masa tertentu pula. Pada waktu menyusun proyeksi di tahun 1995-1997, para ahli agak ragu-ragu memperkirakan penurunan fertilitas yang terlalu tajam. Para ahli hanya sepakat mengambil asumsi penurunan fertilitas yang relatip lamban. Tetapi ternyata gerakan KB, yang mendapat komitmen politik yang tinggi, dilaksanakan dengan strategi yang tepat dan diikuti oleh partisipasi masyarakat yang luas, telah ikut menggoncangkan asumsi tersebut. Dengan pendekatan komunikasi, informasi dan pelayanan yang tepat dan meyakinkan, dilakukan hampir oleh seluruh lapisan masyarakat, oleh para pemimpin formal, para ulama dari segala agama, masyarakat umum secara luas, telah mengundang dan diikuti dengan partisipasi pasangan usia subur muda dengan paritas rendah yang sangat tinggi. Keikut sertaan PUS muda paritas rendah itu menghasilkan penurunan fertilitas yang meyakinkan. Penurunan fertilitas itu makin kelihatan signifikan dalam hasil-hasil penelitian setelah tahun 1995 atau setelah tahun 1997. Angka-angka fertilitas yang dilaporkan oleh beberapa survey setelah periode itu berbeda dengan keadaan yang terekam sebelumnya. Proyeksi Penduduk tahun 1995 mempergunakan asumsi angka fertilitas hasil Supas tahun 1995, yang sesungguhnya adalah keadaan fertilitas antara tahun 1991-1995, atau antara tahun 1993-1995, dan bukan keadaan fertilitas tahun 1995. Dalam keadaan fertilitas sedang naik, dan mortalitas sedang menurun, keadaan itu akan menghasilkan suatu estimasi yang aman. Tetapi dalam keadaan trend fertilitas yang menurun dan mortalitas yang mandek, estimasi itu makin lama akan makin tidak tepat.

Untuk mengembangkan asumsi trend perkembangan fertilitas selama masa proyeksi, 1995-2005, diberlakukan "rem fertilitas pada angka TFR = 2,0 anak. Dengan perlakuan ini berarti bahwa apabila suatu propinsi telah mempunyai tingkat fertilitas sebesar 2 anak, atau TFR=2, maka selama masa proyeksi angka fertilitas itu dianggap tidak berubah atau tetap sama, yaitu TFR = 2,0 anak. Dengan asumsi itu, maka teoritis ada Propinsi "yang tidak boleh berubah fertilitasnya", yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali. Kenyataannya adalah bahwa propinsi-propinsi tersebut mengalami penurunan fertilitas yang sangat tajam. Karena propinsi-propinsi tersebut mempunyai jumlah penduduk yang relatip besar, maka pengalaman propinsi-propinsi itu mempengaruhi penurunan fertilitas secara nasional. Sementara itu, dalam proyeksi juga diperhitungkan bahwa trend penurunan fertilitas di propinsi atau di daerah lain seakan-akan berjalan sesuai dengan kecenderungan umum yang berkembang selama tahun-tahun sebelumnya.

Padahal, selama tahun-tahun 1993-1998 diusahakan peningkatan dan penyempurnaan program KB justru di daerah-daerah yang di tahun-tahun sebelumnya tidak mengalami kemajuan yang berarti.

Kedua jenis hasil kegiatan program itu mempengaruhi "tidak benarnya" asumsi penurunan fertilitas yang "dipaksa" di rem atau "dipaksa lamban". Penurunan angka fertilitas, minimal dalam lima tahun pertama sampai tahun 2000, kenyataan sebenarnya adalah lebih cepat atau lebih tajam dibandingkan asumsi yang dipergunakan dalam proyeksi itu. bahwa pada waktu menyusun berbagai asumsi di tahun Dugaan diatas pertama-tama didasarkan pada kenyataan 1997-an, ada keragu-raguan akan efektifitas gerakan KB yang sangat menonjol waktu itu. Sebagai referensi lain, apakah ada penurunan fertilitas karena partisipasi KB yang efektip, bisa juga di pergunakan hasil pendataan oleh BKKBN yang dilakukan dari tahun 1998 sampai tahun 2000.

Pada tahun-tahun itu jumlah peserta KB aktip relatip tidak berubah, yaitu 25,7 juta, 25,2 juta, dan 24,5 juta. Kalau terlihat ada penurunan, angka penurunan itu tidak mempengaruhi tingkat fertilitas secara signifikan. Lebih menarik adalah bahwa selama tiga tahun terakhir ini, jumlah peserta KB dengan metoda kontrasepsi jangka panjang juga tidak banyak berubah, yaitu sebanyak 9,2 juta di tahun 1998, 9,0 juta di tahun 1999, dan 8,5 juta di tahun 2000.

Biarpun ada sedikit penurunan jumlah peserta KB pada tahun 2000, tetapi ada juga phenomena lain yang menarik. Jumlah peserta KB yang memperoleh pelayanan dengan cara membayar (mandiri) ternyata mengalami kenaikan dengan jumlah yang cukup menyolok. Berturut-turut jumlahnya pada tahun 1998 adalah 9,6 juta, tahun 1999 adalah 9,4 juta, dan pada tahun 2000 melonjak menjadi 13,8 juta. Menurut pengalaman, jumlah peserta KB dengan dua jenis sifat itu menghasilkan dampak penurunan fertilitas yang tinggi.

Penurunan Mortalitas yang Didorong
Dalam menggunakan data mortalitas, asumsi yang dipergunakan dalam proyeksi itu juga batal. Pada waktu para ahli menyusun berbagai asumsi untuk proyeksi penduduk itu, kualitas data tentang mortalitas tidak sebaik kualitas data fertilitas. Kita tidak memiliki data yang mutakhir tentang kematian ibu hamil dan melahirkan. Kita juga tidak memiliki data yang akurat tentang kematian bayi dan data tentang kematian anak. Ketiga data tentang kematian itu sangat saling berhubungan dan bisa menjadi penentu yang baik untuk memperkirakan data mortalitas yang lebih akurat. Pada Proyeksi Penduduk yang berlaku sekarang telah dipergunakan perkiraan mortalitas yang cukup optimistis dari data yang tersedia. Lebih dari itu, kalau dalam pengukuran fertilitas selama masa proyeksi dipergunakan rem TFR pada angka TFR=2,0, untuk mortalitas justru dipergunakan asumsi penurunan mortalitas yang didorong dengan kecepatan yang lebih tinggi dengan alasan adanya komitmen yang lebih kuat dalam perbaikan pelayanan kesehatan serta prioritas dan fasilitas kesehatan yang dijanjikan akan lebih baik. Padahal justru, karena adanya krisis keuangan yang mendadak, yang berlanjut menjadi krisis multidemensi selama tiga tahun terakhir ini, kondisi yang dijanjikan dalam asumsi awal itu tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Biarpun hal itu tidak otomatis membawa keadaan menjadi sangat memburuk, tetapi ada dugaan bahwa angka mortalitas yang dipergunakan telah mengikuti >b>pola penurunan mortalitas yang lebih tajam dibandingkan dengan keadaan yang sebenarnya.

Perpindahan Penduduk
Komponen lain dari Proyeksi Penduduk adalah jumlah penduduk yang melakukan migrasi. Untuk angka nasional Indonesia, terutama dalam lima tahun terakhir ini, keadaannya tidak banyak membawa pengaruh. Karena adanya pergolakan di beberapa propinsi tertentu, mungkin saja bisa mempengaruhi jumlah penduduk yang ada atau yang diproyeksikan pindah ke propinsi lain. Tetapi secara nasional jumlah perpindahan di propinsi-propinsi itu, karena asalnya dari Indonesia, tidak mempengaruhi pertumbuhan penduduk atau jumlah penduduk nasional secara signifikan. Begitu juga adanya penduduk asing yang masuk ke Indonesia dianggap tidak signifikan.

Namun secara regional, perpindahan penduduk antar wilayah itu telah menghasilkan daerah-daerah baru dengan jumlah penduduk yang besar. Pada tahun 1990 jumlah kota dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa hanya 10 kota, pada tahun 2000 jumlah kota dengan penduduk sebesar itu telah membengkak menjadi 13 kota. Kota dengan penduduk antara 500.000 jiwa sampai 1 juta jiwa di tahun 1990 hanya 5 kota saja, pada tahun 2000 telah membengkak menjadi 9 kota. Jumlah kota dengan penduduk antara 200.000 - 500.000 jiwa di tahun 1990 hanya 15 kota, di tahun 2000 telah membengkak menjadi 21 kota. Dengan demikian, angka perpindahan penduduk, baik antar daerah maupun secara nasional, hanya mempengaruhi pertumbuhan kota-kota baru dengan penduduk yang jumlahnya besar, tetapi tidak mempengaruhi jumlah dan pertumbuhan penduduk secara nasional.

Pertumbuhan alamiah yang rendah
Dengan "diabaikannya pengaruh penduduk masuk dan keluar Indonesia" itu maka pertumbuhan penduduk relatip ditentukan oleh angka fertilitas dan mortalitas. Dengan adanya kemungkinan tingkat mortalitas yang agak lebih tinggi dan tingkat fertilitas yang menurun lebih drastis itu, maka dampaknya adalah pada penurunan pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi.

Hasil sementara Sensus 2000 melaporkan pertumbuhan penduduk antara tahun 1990 - 2000 adalah sebesar 1,35 persen. Pertumbuhan penduduk ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk dasawarsa sebelumnya sekitar 1,97 persen, atau perkiraan lain yang ditawarkan oleh para ahli sebelumnya.

Penduduk Indonesia tahun 2001
Dengan hasil sementara Sensus Penduduk tahun 2000 dan tingkat pertumbuhan sekitar 1,35 persen itu, kita bisa memperkirakan jumlah penduduk Indonesia pada awal tahun 2001 sebesar 205 juta jiwa. Bagi kita semua, jumlah penduduk Indonesia dewasa ini sudah sangat besar dan adalah nomor empat di dunia. Kita harus segera bekerja keras membantu pemberdayaan penduduk itu agar dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas ! Selamat Hari Raya Idulfitri kepada seluruh penduduk Indonesia, mohon maaf lahir dan bathin. Selamat Tahun Baru 2001. (Prof. Dr. Haryono Suyono adalah Pengamat Masalah-masalah Sosial Kemasyarakatan) -Penduduk-P-612001.