Membangun Masyarakat Melalui Posdaya PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 15 September 2009 12:22
Bojonegoro Mengulang Sukses Malowopati

Membangun Masyarakat Melalui Posdaya

Harian Pelita, Sabtu, 12 September 2009

Kerajaan Malowopati sangat mashur di masa silam. Kerajaan yang adil makmur, gemah ripah lohjinawi, thukul kang sarwo tinandur. Rakyatnya sejahtera, aman tenterm di bawah Raja Gungbinatoro Anglingdharmo didampingi istri Setyowati dan Patih Batik Madrim.

Malowopati kini wilayahnya dari Bojonegoro (Rajekwesi) hingga sebagian Lamongan. Nama Anglingdharmo diabadikan menjadi salah satu ruamgan dalam pendapa kabupaten Bojonegoro. Nama kerajaan (Malowopati), istri (Setyowati) dan patihnya (Batik Madrim) diabadikan menjadi nama jalan. Bahkan belibis putih, yang diyakini sebagai penjelmaan Anglingdharmo, diabadikan menjadi nama objek wisata yaitu Tamari Meliwis Putih.

Sosok Anglingdharmo memiliki jejak sejarah yang sangat terkenal di JawaTimur dan Jawa Barat. Di Jati Gede, terdapat situs yang namanya Curug Mas, salah satunya terdapat makam Embah Dalem Panungtung Haji Putih Sungklanglarang, penyebar agama Islam dari Kasultanan Mataram dan makam pengikutnya yang bernama Anglingdharma.

Sedang di sebuah desa di Kediri, yaitu desa Banyakan ada sebuah nama yang dikenal sebagai Petilasan Anglinghharmo. Kisah Anglingdharmo merupakan salah satu lakon yang mashur dan sering dipentaskan dalam pagelaran seni Ketoprak di Jawa Timur.

Bupati Bojonegoro Drs H Suyoto, MSi ketima bersama Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr H Haryono Suyono mengemukakan Posdaya sebagai upaya pengentasan kemiskinan di masyarakat. Model yang dlkembangkan sangat tepat bagi masyarakat Bojonegoro. Sebab elemen yang ada di dalam Posdaya itu sangat lengkap. "Khususnya yang bisa memberdayakan masyarakat baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan," ujarnya.

Menurut Bupati Bojonegoro semua itu bukan hal yang baru bagi masyarakatnya. Metode yang disampaikan lewat posdaya merupakan pengembangan dari yang sudah ada. Posdaya lebih menitikberatkan pada pembentukan jaringan untuk mengembangkan pemberdayaan. Masyarakat Bojonegoro selama ini telah mempunyai instrumen untuk pemberdayaan keluarga.

"Kami telah memiliki 25 koperasi yang mendapatkan bantuan Rp25 juta per koperasi. Selain itu, untuk jaringan ke luar, kami juga sudah ada kesepakatan kerja sama dengan pihak Universitas Airlangga (Unair)," tuturnya.

Jadi program pemberdayaan keluarga lewat Posdaya sangat sejalan dengan program-program yang telah ada di Bojonegoro. Begitu usai pengarahan dari Ketua Yayasan Damandiri, Bupati Bojonegoro langsung memberikan instruksi kepada jajarannya. Di antaranya agar segera dilakukan pemetaan keluarga miskin di wilayahnya, upaya advokasi segera ditingkatkan, dan gerakan pemberdayaan harus selalu dilakukan terus-menerus. Perlu diketahui bahwa Bojonegoro terdiri dari 27 kecamatan dan 430 desa/kelurahan.

Peran serta masyarakat

Haryono Suyono mengemukakan gerakan pembangunan harus mengajak peran aktif berbagai komponen untuk membangun perekonomian. Aparat pemerintahan tidak sekadar memberikan arahan, tapi harus melakukan langkah nyata.

Dalam sambutan sosialisasi Posdaya di Bojonegoro, Jawa Timur yang dihadiri sebanyak 300 peserta yang terdiri dari para camat, lurah, dan kepala desa itu, pengentasan masyarakat miskin di suatu daerah bukan hanya sekadar memberikan bantuan kepada warga masyarakat. Lebih penting lagi memberikan pancingan agar warga masyarakat mau bekerja keras.

Pada kesempatan itu diperkenalkan upaya pemberdayaan keluarga dalam rangka mengentaskan kemiskinan. Pemberdayaan keluarga bisa dilakukan dengan pembentukan Posdaya. "Posdaya bisa dihidupkan dalam bentuk apa pun. Dia bisa berbasis lembaga masyarakat, masjid, perseorangan, atau organisasi asalkan untuk memberdayakan keluarga," tuturnya.

Keberhasilan pembentukan Posdaya bukan dari nilai kekayaan lembaga tersebut, melainkan pada partisipasi masyarakat yang menjadi anggotanya. Perlu diingat pembentukan Posdaya sasarannya haruslah keluarga muda yang secara keseluruhan menjadi anggota, baik bapak, ibu, maupun anak-anaknya.

Pasalnya yang diberdayakan itu keluarga, bukan orang per orang. Keluarga muda yang menjadi sasaran Posdaya harus mampu bekerja keras. "Jangan selalu berharap pada Dinas Soisal. Kemiskinan harus ditangani dengan kerja keras," katanya.

Salah satu caranya dengan meningkatkan keterampilan. Untuk meningkatkan keterampilan, bisa dilakukan ketika anak dari keluarga muda berada dalam proses pendidikan anak usia dini (PAUD), sang ibu harus ikut kursus keterampilan. Ke depan sang ibu bisa ikut program magang di perusahaan-perusahaan yang ada.

Program pengentasan kemiskinan lewat Posdaya harus melibatkan semua komponen. Harus ada rasa kepedulian setiap lembaga yang ada, baik swasta maupun pemerintah. Perusahaan swasta harus bersedia memberikan kesempatan magang bagi ibu-ibu keluarga muda tak mampu yang telah mengikuti kursus keterampilan.

Pemberdayaan keluarga lewat peningkatan gizi bisa dilakukan dengan cara pembudayaan penanaman tanaman sehat di sekitar rumah. Bukan dengan memberikan makanan tambahan dan pendamping ASI yang sebulan sekali. Setiap rumah di Bojonegoro seyogianya memanfaatkan pekarangannya dengan tanaman sehat, seperti bayam, tomat, cabai, atau tanaman sayuran lainnya. "Ini harus menjadi gerakan seluruh keluarga sehingga bisa membantu perbaikan giji koluarga dengan murah," katanya (djo)