|
HARYONO TIWIKROMO Tamu dari Desa Sederhana (1) Harian Pelita, Sabtu, 10 Oktober 2009
Sinten purun kulo dongengi/dongenge sedular ndesp/sugih sawah Ian sugih pari/Atine ayem ora dora/Kathah labeting dateng negari/rupo arto Ian rupo bondho/zaman gerilya ing uni/tiyang kuto ngungsi ten ndeso/kakang Ian mbakyu sing nampi/ kanthi lilo Ian legowo/dikantheni sesanti qji'suk yen aman mbalesku opo/welinge sing ndongengke inif yen kakang Ian mbakyu ten kutho/welinge ojo nganti lali..... Ian ojo disio.... sio. (Petikan lagii keroncong).
"Kisah saudara-saudara dari pedesaan berkunjung ke saudaranya di kota. Mereka tidak diterima dengan baik karena dianggap memalukan, miskin, compang camping, mukanya kusut seakan sebulan tidak mandi, anaknya pasti banyak karena di jalanpun masih menggendong bayinya yang masih sangat kecil, pasti di rumah masih ada ratusan lagi yang Balita," demikian Prof Dr H Haryono Suyono mengomentari migran kota dan mefeka yang mudik.
Arus balik akan segera terjadi. Tiket pesawat, kereta api, bus sudah habis terjual. Mobil sewaan laris manis disewa oleh juragan-kota yang ingin pulang kampung sambil pamer bahwa mereka sudah beli mobil baru, lengkap dengan sopirnya.
Banyak toko-oko dan mall mengobral barang dagangannya. Baju, celana, kain kebaya, rok dan segala untuk perempuan niaupun laki-laki dijual murah dengan potongan harga gila-gilaan. Ada yang sepuluh persen, duapuluh persen, bahkan yang limapuluh persenpun ada. Kita tidak pernah tahu apakah potongan itu benar, atau sekedar permainan label harga. Kita tidak tahu harga sebelumnya karena pada bulan-bulan biasa tidak pernah berkunjung ke Mall-mall megah tersebut. Hanya karena pengin pulang kampung, kita harus beli barang baru, oleh-oleh atau untuk sendiri dari Mall-mall bernama itu.
Kalau untuk sendiri harus dipastikan pada waktu dipakai labelnya masih menempel. Di hadapan saudara di desa harus dibuat kejutan karena label itu meng-ganggu. Barulah di muka khalayak yang terheran-heran label itu dicopot sambil berteriak, "wah mas belinya di Mall yang terkenal itu ya".
"Oh, maaf iya, iya, karena aku ingin barang yang berkualitas".
"Kalau ,di pinggir jalan tidak yakin baru dipakai sehari saja sudah robek".
"Maklum di mana-mana di Jakarta banyak orang jualan barang tiruan !" Begitu jawab orang kota dengan penuh keyakinan.
Inilah bedanya. Tamu dari pedesaan datang dengan segala kesederhanaan, kemiskinan, kepapaan, dan berusaha meyakinkan semua pihak bahwa kehi-dupannya di desa masih dalam penderitaan. Biarpun mungkin mereka dihormati oleh sesamanya. Mereka adalah warga negara yang masih punya hati nurani,. masih punya kepedulian terhadap sesamanya. Yang kita orang kota, mungkin masih miskin, tetapi tidak man kalah, tidak mau mengakui.
Merasa merasa telah berhasil. Kalau tidak punya mobil, tidak bisa membawa mobil kantor. apa boleh buat, menyewa mobil jadi juga. Kalau perlu dengan sopir yang wanti-wanti dipesan untuk berkata bahwa sopir itu adalah sopir pribadi yang selama mi setiap hard mengantar sang majikan ke kantor, atau ke toko, atau ke pasar. |