|
Haryono: Jiwa Sosial dan Semangat Gotong Royong Ditingkatkan Situs Bumi Berisi Tanah dari 200 Negara
Harian Pelita, Sabtu, 14 Nopember 2009
DESA Plajan, Pakis Aji, Jepara, Jateng, bakal menjadi satu-satunya lokasi di dunia yang memiliki kumpulan tanah dari 200 negara. Kumpulan tanah itulah yang mengawali wilayah di lereng Gunung Muria itu, menjadi Situs Bumi. Situs bumi ini menyimbolkan perdamaian umat manusia.
Situs Bumi ini, terletak di dekat rumah Djuyoto Suntani, Presiden Komite Perdamaian Dunia. Bahkan, jalan dari rumahnya menuju Desa Krasak, Kecamatan Bangsri sepanjang sembilan kilometer, kemarin juga diresmikan sebagai Jalan Perdamaian Dunia. Pekarangan rumah Suntani itu menjadi tempat Situs Bumi setelah mewarisi gong berusia 450 tahun dari leluhurnya yang kini ada di Bali dan disebut sebagai Gong Perdamaian Dunia (GDP). GDP dibunyikan kali pertama oleh Presiden Megawati (kala itu) pada 31 Desember 2002 pukul 00.00 WITA, sebelum pencanangan Hari Perdamaian Indonesia 2003. Kali kedua dibunyikan di Jenewa Swiss pada 5 Februari 2003 pada pembukaan Second Global Summit on World Peace. Kini, Gong Perdamaian Dunia, akan ditempatkan secara permanen di Taman Pelita, Kota Ambon, Maluku. Oleh karena itu, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), Agung Laksono, Senin (9/11) lalu, melepas kirab GPD dari Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah menuju Ambon, Maluku, di Jepara. Diringi sejumlah mobil jeep kuno dan 550 kendaraan roda dua, gong yang diangkut sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang dari Plajan, Jepara, menuju Kota Kudus, kemudian dilanjutkan ke Kota Semarang (Ibukota Jawa Tengah). "Penempatan GPD di Taman Pelita Kota Ambon itu dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Dunia Tahun 2009," kata Agung Laksono. Hadir dalam acara itu, mantan Menko Kesra, Prof Dr Haryono Suyono, Muspida Jawa Tengah, Buapti Jepara, dan tokoh masyarakat Jepara. Dalam acara itu, juga dipamerkan hasil produk usaha kecil dan menengah binaan pendamping Petugas PNPM Kabupaten Jepara. Menurut Agung Laksono, GPD merupakan simbol perdamaian, untuk mengubah Maluku menjadi pusat perdamaian yang dapat disejajarkan dengan kota perdamaian lainnya di dunia. Upaya ini, untuk mengakhiri konflik yang terjadi di kota tersebut beberapa waktu lalu. "Mudah-mudahan konflik yang terjadi merupakan yang terakhir dan tidak ada kejadian yang lain," tuturnya. Pelepasan GPD merupakan momentum penting dalam rangka peringatan Hari Perdamaian Dunia 2009 dan menjadi simbol perdamaian dunia yang diidam-idamkan. GPD ditempatkan di kota terpilih di dunia. "Termasuk di Ambon yang akan diresmikan peletakannya oleh Presiden pada 25 November 2009," tegasnya. Peluncuran GPD tersebut, atas prakarsa Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan yang saat itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono. Kerja keras Sementara, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, mengaku mewakili masyarakat Maluku mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, termasuk Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani, atas prakarsa itu. Atas prakarsa mereka, katanya, Kota Ambon ditetapkan sebagai kota ke-35 di dunia dalam rangka peringatan Hari Perdamaian Dunia 2009. "Ada filosofi yang mengatakan, jika kita ingin perdamaian kita harus mempersiapkan perdamaian," tambahnya. Filosofi tersebut, kata Gubernur Maluku, menjadi landasan Pemerintah Maluku untuk mengupayakan perdamaian tetap langgeng bagi kepentingan bersama. Menurut Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani, gagasan GPD sebagai sarana persaudaraan dan pemersatu manusia di planet bumi berasal dari pemikiran bahwa sesungguhnya umat manusia selalu merindukan kebersamaan. "Namun, selama jutaan tahun belum pernah ada sarana universal yang bisa menyatukan umat ke dalam satu wadah. Manusia masih terkotak-kotak dalam sekat bangsa, bahasa, suku, agama, ideologi, budaya, dan kotak paradok lainnya," kata Suntani. Menurutnya, duplikat gong tua itu telah dipasang di beberapa kota di dunia. Pertama kali di Penglai, China pada 20 Agustus 2004 yang diresmikan Presiden China Hu Jintao bersama Dirjen UNESCO dan Djuyoto Suntani. Selanjutnya di tempat terbunuhnya Mahatma Gandhi yakni New Delhi (India), lalu Mozambik (Afrika), Vientiane (Laos), Godollo (Hongaria), Alexandria (Mesir), Belanda, Iran, Finlandia, Kanada, Ukraina, Polandia, Maroko, dan Australia. Sementara, Ketua Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono, menjelaskan bahwa misi perdamaian sudah selayaknya diisi dengan pemberdayaan masyarakat. Melalui kerja keras dan pembentukan kelompok seperti Posdaya, diharapkan terwujud kesejahteraan dan kedamaian. Jiwa sosial yang mulai agak luntur dihidupkan lagi dan semangat gotong royong ditingkatkan. Tanpa kegiatan itu, mustahil masyarakat sejahtera dan mandiri. "Dengan kerja kerasa saja mungkin baru akan terwujud kesejahteraan merata itu sekitar dua pelita," tuturnya.(otto sutoto) |