UNIVERSITAS PADJADJARAN GELAR KERJA SOSIAL PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 20 March 2012 05:56

Prof Haryono Suyono selaku Ketua Umum DNIKS menjadi Keynote Speaker Seminar tentang Pengembangan Kurikulum untuk Jurusan Kesejahteraan Sosial yang diadakan Universitas PadjadjaranMinggu lalu, dalam suatu kesempatan Seminar tentang Pengembangan Kurikulum untuk Jurusan Kesejahteraan Sosial, yang diawali dengan laporan oleh Ketua Panita, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Prof. Dr. Asep Kartiwa, Drs, SH., Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Gandjar Kurnia, DEA, dijelaskan bahwa di masa lalu, Program KB berhasil dikembangkan menjadi gerakan nasional dimana semua unsur ikut aktif berpartisipasi. Melalui gerakan nasional itu berhasil diturunkan tingkat kelahiran yang mengantar keluarga Indonesia strukturnya makin ramping sehingga bisa lebih lincah membangun dirinya menjadi keluarga yang bahagia dan sejahtera.



Secara rinci Rektor yang seorang sosiolog dengan segudang pengalaman lapangan di berbagai bidang itu menguraikan berbagai pengalamannya secara rinci sebagai bahan untuk mengembangkan Kurikulum Program Studi Kesejahteraan Sosial di Universitas Padjadjaran yang mempunyai lebih 40.000 mahasiswa tersebut. Pekerjaan sosial di masa depan bukan lagi menolong sisa-sisa atau korban pembangunan saja, tetapi sekaligus mendorong pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan komitmen pimpinan, memberi semangat dan mendampingi setiap keluarga dan penduduk Indonesia mengembangkan diri menjadi keluarga serta penduduk yang lebih sejahtera.

Prof. Haryono yang memberikan paparan tentang pendekatan pengentasan kemiskinan dan pembangnan berbasis MDGs melalui Posdaya menyatakan bahwa di masa lalu, pendekatan KB dimaksudkan untuk merampingkan keluarga agar mampu menjadi kekuatan atau agen pembangunan untuk keluarganya secara mandiri. Karena upaya itu telah mencapai sasaran dengan baik, maka pekerja sosial di masa datang bukan lagi semata membawa alat kontrasepsi ke desa, atau menolong mereka yang terkena musibah, tetapi menjadi motor penggerak untuk proses perlindungan dan pemberdayaan yang bersifat paripurna.

Sejak tingkat yang paling dini para pekerja sosial perlu memberikan dukungan terhadap upaya mendidik anak-anak balita, anak remaja, terutama anak perempuan, agar makin percaya diri dan mempunyai kemampuan setara dengan rekannya anak laki-laki. Dengan kepercayaan diri dan kemampuan yang setara itu maka anak perempuan akan mampu secara demokratis memilih pekerjaan yang diperlukannya untuk membangun keluarga yang sejahtera. Kemampuan kesetaraan itu mengantar setiap penduduk Indonesia sama dan sejajar sehingga dengan demikian tingkat partisipasi angkatan kerja pria dan wanita Indonesia akan seimbang dan membawa kemakmuran pada bangsa secara keseluruhan. Perlu dikembangkan bukan saja kondisi sosial yang kondusif tetapi lingkungan yang memberi semangat gerak yang harmonis antar sesama anak bangsa.

Dalam kesempatan yang sama Rektor Unpad menyatakan kesediaannya untuk ikut bergabung dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Posdaya dengan mengirim ribuan mahasiswa ke desa dan pedukuhan untuk mendampingi dan memberi dukungan upaya pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan sosial ekonomi yang bersifat komprehensif dan terpadu. Rektor bahkan tidak saja memberi dukungan pada upaya KKN tematik Posdaya tetapi juga memberi kesempatan kepada dosen yang melakukan penelitian dan kerja lapangan untuk menjadi penggerak pembangunan di pedesaan diantara dua semester adanya KKN.

Kegiatan itu biasanya menjadi tugas para dosen yang dilakuan diantara dua periode KKN setelah mahasiswa mengenal daerah dan kebutuhan masyarakatnya. Para dosen mempelajari karya mahasiswa dan kemudian memberikan solusi dan melaksanakannya di lapangan. Dalam konteks KKN tematik Posdaya kiranya tugas para mahasiswa dan dosen pembimbing dapat menjadi stimulan dilaksanakannya gerakan pengentasan kemiskinan serta pencapaian target-target MDGs secara tuntas. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).