Bapak Haryono Suyono Tiada Hari Tanpa Inovasi PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 13 May 2008 14:35

Bapak Haryono Suyono Tiada Hari Tanpa Inovasi

Oleh Drs. MUCH. SOEDARMADI

Saya mengenal dan bahkan bekerja bersama serta mendapat bimbingan dan pembinaan dari Bapak Profesor Doktor Haryono Suyono PHD pada awal tahun 70-an, yaitu sejak beliau kembali dari menyelesaikan studi sebagai Doktor dari Universitas Chicago USA. Penugasan pertama beliau di BKKBN sebagai Pejabat Kepala Biro Pencatatan dan Pelaporan dimana saya telah bertugas disana sejak tahun 1970 sebagai salah satu Kepala Seksi dan pak Soetedjo Moeljodihardjo sebagai Kepala bagiannya. Selain sebagai Pejabat Kepala Biro, oleh Kepala BKKBN, Bapak Dr. Suwardjono Suryaningrat, pada waktu itu pak Haryono Suyono juga ditugasi sebagai Deputi Penelitian dan Pengembangan yang mengkoordinasikan tugas dan fungsi dari Biro Pencatatan Pelaporan dan Evaluasi serta Biro Penelitian.

Sejak itulah saya mencatat bahkan ikut dalam kiprahnya Bapak Haryono Suyono yang terus berkembang penuh variasi dengan ide-ide baru serta terobosan yang innovatip. Dengan referensi ”Repid Feedback System” salah satu manual dari Comunity Family Study Center (CFSC) Universitas Chicago, data dari laporan yang diolah di Biro Pencatatan dan Pelaporan secara cepat dikirim kembali sebagai informasi dan analisa ke Daerah sebagai umpan balik terhadap laporan hasil yang dicapai. Penyebaran data dan informasi feed back dan analisa kepada seluruh lapisan pimpinan sangat menjadi kunci dalam mendorong pencapaian target dan penentuan kebijakan. Unit kerja Pusat Data dan Informasi di Biro Pencatatan dan Pelaporan, dikatakan sebagai ”anak gajah” karena unit kerja ini akan tumbuh besar menjadi ”gajah” yang mempunyai fungsi sangat strategis. Dengan kepemimpinan pak Haryono Suyono unit kerja tersebut digerakan berfungsi sangat efektip sehingga mempunyai peran penting dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan. Tumbuhnya ”anak gajah” yang berkembang dewasa sebagai ”gajah” itu bukan saja fungsi dan peran managemen yang membesar , sejalan dengan itu unit kerjanya berkembang juga menjadi gajah yang besar. Unit kerja tersebut organisasinya mekar menjadi tiga Biro yaitu Biro Pusat Jaringan Informasi dan Dokumentasi, Biro Analisa dan Evaluasi serta Biro Pusat Pengolahan Data dan  komputer.

Tersedianya data dan informasi yang tepat, cepat dan dapat dipercaya adalah merupakan andalan keberhasilan program maupun untuk penentuan kebijakan. Pada waktu sebagai Kepala BKKBN. Bapak Haryono Suyono bersama Bapak Prof. Emil Salim selaku Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, pada tahun 1992 berhasil memperjoangkan dan terbitnya Undang Undang No. 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera. Dengan landasan UU No. 10 th. 1992 tersebut oleh pak Haryono Suyono dikembangkan data dan informasi tentang keluarga sejahtera. Bersama Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) diciptakan indikator dan kriteria lima tingkat tahapan keluarga yaitu: Keluarga Pra Sejahtera, Keluarga Sejahtera I, Keluarga Sejahtera II, Keluarga Sejahtera III dan Keluarga Sejahtera III Plus. Pendataan keluarga dan peta penduduk sampai dengan alamat dan lokasi yang diolah dan direkam secara komputerisasi sampai tingkat Kecamatan adalah merupakan peta sasaran dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan keluarga sejahtera. System pendataan untuk membangun peta data keluarga dan penduduk tersebut setiap tahun dilakukan pemutakhiran dengan pendataan ulang. Sewaktu Bapak Haryono Suyono sebagai Menteri Negara Kependudukan yang merangkap juga sebagai Kepala BKKBN, penyelenggaraan pendataan keluarga dan penduduk tersebut dikembangkan sebagai Sistem Informasi Penduduk dan Keluarga (SIDUGA). Dengan SIDUGA yang menghasilkan data penduduk dan peta keluarga yang rinci menurut alamat, harapannya dapat dipakai secara tepat sebagai sasaran pembangunan dari semua instansi dalam upaya pemberdayaan keluarga. Terutama pada Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I ditingkatkan tahapannya menjadi Keluarga Sejahtera II sampai Keluarga Sejahtera III Plus.

Sebagai Deputi Penelitian dan Pengembangan pak Haryono Suyono melakukan terobosan dengan mengembangkan studi dalam pendekatan KB pedesaan. Kalau semula pendekatan dan pelayanan KB berbasis pada klinik, melalui model studi tersebut dikembangkan dengan pendekatan kemasyarakatan. Dengan pendekatan baru tersebut pelayanan KB lebih dekat pada masyarakat sekaligus menggerakan partisipasi masyarakat melalui lembaga yang ada di Desa/Dukuh. Studi pendekatan KB pedesaan yang sangat berhasil ini selanjutnya pada waktu beliau ditugasi sebagai Deputi KB atau Deputi Operasional, lebih dikembangkan lagi dan terus dioperasionalkan secara lebih luas. Dengan pendekatan kemasyarakatan dilakukan ”gugur gunung” digerakan partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat digerakkan melalui operasinal yang disebut sebagai ”safari senyum KB. Dari keberhasilan pendekatan kemasyarakatan ini, maka tumbuh dan terbangun pelayanan KB dilembaga seperti Banjar di Bali, Pos Pelayanan KB Desa/Dukuh atau PPKBD di Jawa, HAPSARI di Yogyakarta, Pos KB Baruga di Sulawesi Selatan, Geucik di Aceh dan banyak lagi sesuai dengan lembaga masyarakat setempat yang ada.

Sebagai doktor sosiologi, pak Haryono Suyono dalam melakukan terobosan dan mengembangkan pendekatan kemasyarakatan, tidak berhenti untuk pelayanan KB saja. Kreasi lebih lanjut adalah memadukan pelayanan KB , kesehatan dan gizi melalui kesepakatan dan kerjasama dengan Menteri Kesehatan sangat berhasil membangun Posyandu sebagai ”icon” keberhasilan pembangunan kelembagaan dan partisipasi sebagai gerakan masyarakat di pedesaan. Sebagai lembaga partisipasi masyarakat di perdesaan gerakan tersebut terus dikembangkan dan diperluas isi dan jenis kegiatannya. Tumbuhlah kemudian seperti kelompok-kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS), kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR), kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) dan sebagainya.

Setelah sistem pendekatan KB pedesaan, pak Haryono Suyono memberi perhatian kepada sistem KB perkotaan. Sebagai seorang ahli komunikasi pak Haryono Suyono selain piawai dalam pidato, berorasi dan menyampaikan pandangan-pandangan secara jelas sederhana dan mudah tetapi juga kreatip dengan ide-ide baru. Di kota-kota besar dan disisi jalan raya, marak adanya bill board dengan pesan mengajak partisipasi ber KB. Walaupun BKKBN tidak ada anggaran untuk pasang billboard tetapi pihak swasta dan perusahaan diajak dan dapat didorong partisipasinya yang menyelenggarakan. Diciptakan billboard bersama yang berisi pesan KB dengan logo atau produk perusahaan yang dipasang sebagai promosi bersama. Tidak saja billboard besar yang dipasang statis dipinggir jalan tetapi juga dibus, kantong belanja Supermarket dan media komunikasi lainnya yang waktu itu belum banyak dilakukan dalam menyampaikan pesan pembangunan dari instansi dan lembaga Pemerintah. Partisipasi swasta dan perusahaan oleh pak Haryono digerakan dengan diminta untuk memberikan potongan harga belanja kepada para peserta KB dengan membagikan kartu potongan harga ” discount cart”. Untuk pelayanan kontrasepsi diperkotaan dikembangkan pelayanan ”KB mandiri”. Dokter dan Bidan praktek swasta diberikan dorongan dan difasilitasi. Diciptakan produk kontrasepsi khusus yang dibarengi dengan pemasaran sosial. Program LIBI (lingkaran biru KB) dan LIMAS (lingkaran Emas KB) dikembangkan bersama dengan para produsen obat dengan pemasaran sosial yang gencar dan disertai dengan penjualan produk kontrasepsi dengan potongan harga. Program KB mandiri yang berhasil diperkotaan tersebut pada gilirannya berkembang kepinggiran kota dan bertahap meluas ke beberapa dipedesaan yang maju.

Konsep pendekatan kemasyarakatan dan dibangun dengan system serta sosialisasi yang efektip adalah kata kunci kiprah pak Haryono. Tentang pendekatan system yang jadi acuan pak Haryono, ada catatan khusus yang merupakan kenangan saya waktu menerima tugas sebagai Kepala Biro Tata Usaha. Pada waktu Bapak Haryono Suyono mendapat kepercayaan sebagai Kepala BKKBN , beliau segera melakukan penataan organisasi sekaligus pengaturan dan perubahan personel. Sebagai Kepala Biro Pelaporan dan Evaluasi saya dimutasi dan mendapat tugas sebagai Kepala Biro Umum dan Tata Usaha. Perasaan kaget dan merasa kurang sesuai dengan kemampuan saya. Sempat timbul pertanyaan dalam pikiran saya kenapa Bapak Haryono Suyono memberikan tugas sekaligus kepercayaan yang saya merasa tidak kuasai dan diluar bidang kemampuan maupun pengalaman yang telah saya miliki. Pengalaman dan kemampuan saya selama lebih sepuluh tahun adalah dibidang statistik kuantitatip dan evaluasi program KB dan demografi. Pada suatu kesempatan saya menghadap dan bertanya apa yang jadi misi dan target yang diharapan beliau dengan penugasan saya pada Biro Tata Usaha. Waktu itu pak Haryono kurang lebih mengatakan bahwa untuk pengelolaan tata usaha dan perkantoran perlu dibangun suatu system. Seperti halnya system pelaporan dan evaluasi yang menurut beliau sudah cukup baik. Itulah misi dan target yang diberikan Bapak Haryono Suyono kepada saya untuk menciptakan dan membangun system tata usaha dan pengelolaan kantor dengan komputerisasi. Suatu kepercayaan dan tugas khusus untuk membangun innovasi dan kreasi dalam system pengelolaan perkantoran. Sekitar tahun 1983/1984 mulailah terbangun system penyusunan daftar gajih melalui system komputerisasi dan dibayar melalui Bank yang waktu itu masih belum banyak dilakukan oleh instansi Pemerintah. Sekain itu kemudian juga system komputerisasi daftar personel dengan automatisasi secara cepat dan tepat untuk pengajuan kenaikan gajih dan kenaikan pangkat berkala serta pengajuan masa pensiun secara tepat waktu. Sejalan dengan itu dibangun system pembinaan karier sebagai landasan untuk motivasi dan mendorong personel untuk mencapai prestasi. Dibidang administrasi keuangan, pengelolaan logistik dan pengelolaan projek juga dilakukan komputerisasi. Dengan sytem komputerisasi tentang pencapaian program maupun pengelolaan dukungan anggaran dan proyek serta logistik, pimpinan BKKBN dapat cepat dan tepat melakukan evaluasi dan menetapkan kebijakan baru dalam mengembangkan program.

Sukses dan keberhasilan Program Nasional Keluarga Berencana di Indonesia telah diakui baik secara nasional dan internasional. Keberhasilan program KB di Indonesia dengan pendekatan untuk membangun keluarga sejahtera, menjadi perhatian internasional dan mengundang banyak negara untuk belajar dan studi banding. Peluamg tersebut lagi-lagi oleh Bapak Haryono Suyono dikembangkan untuk menarik kunjungan belajar dari negara-negara lain ke Indonesia. Untuk menampung dan menyelenggarakan banyaknya permintaan kunjungan belajar tersebut, diciptakanlah suatu program khusus latihan luar negeri ” Internatianal Training Program” ( ITP). Untuk penyelenggaraan ITP ini secara khusus Bapak Haryono Suyono mempercayakan dan menugasi Bapak Prof. Santosa Hamidjojo. Diawali dengan proyek khusus yang dibantu biayanya dari USAID kunjungan belajar dari seribu petugas KB dari negara Bangladesh. Selanjutnya program kunjungan belajar terus mengalir dari berbagai negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin bahkan juga dari negara Eropa dan USA serta juga dari lembaga Internasional. Bahkan ada kunjungan dari beberapa Presiden dan Pimpinan negara lain yang ingin belajar program KB yang langsung disampaikan oleh Bapak Suharto bersama Bapak Haryono Suyono. Selain kunjungan belajar dan melihat ke Indonesia banyak negara-negara tersebut yang kemudian ingin mendapat bantuan konsultan dari Indonesia. Untuk memenuhi permintaan konsultan KB dari Indonesia tersebut secara khusus dilakukan pelatihan banyak konsultan yang kemudian ditugasi sebagai konsultan KB dibeberapa negara.

Melalui sukses dalam Program Nasional KB yang diakui baik nasional dan internasional Bapak Haryono Suyono diangkat sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan yang juga tetap merangkap sebagai Kepala BKKBN. Terobosan pertama yang dilakukan oleh pak Haryono Suyono adalah memfokuskan programnya pada tiga prioritas yaitu: Program Pengembangan Sumber Daya Manusia, Program Pengentasan Kemiskinan dan yang ketiga adalah Program Penanggulangan Bencana. Melalui penyelenggarakan koordinasi kepada para Menteri yang berkaitan dengan fokus ketiga program tersebut dibangun kebijakan dan sinkronisasi programnya dalam mencapai prioritas sasaran bersama. Walaupun dalam situasi krisis ekonomi, ketiga program tersebut diupayakan secara sinergi terpadu antar sektor serta mengundang partisipasi swasta dan masyarakat. Dalam pengembangan sumber daya manusia kebijakan yang ditempuh antara lain adalah pencapaian wajib belajar sembilan tahun. Dengan kebijakan tersebut dilakukan pendataan anak dari keluarga miskin yang kemudian diberikan akses bantuan untuk bersekolah dan tidak drop out tetap dapat mengikuti sekolah. Salah satu kampanye ”Ayo Sekolah” yang dilakukan bersama artis Rano Karno dengan dukungan Unicef. Dalam program pengentasan kemiskinan kebijakannya diselenggarakan melalui Instruksi Presiden (Inpres) tentang Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu Taskin) untuk mengkoordinasikan pelaksanaan upaya pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan berbagai instansi pemerintah, swasta, LSOM dan masyarakat. Selain program bantuan pangan, kesehatan dan pendidikan sebagai ”social safety net” tetapi juga upaya melakukan pemberdayaan masyarakat. Kebijakan penanngulangan bencana diselenggarakan melalui Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana (Bakornas PB) .

Uraian diatas hanyalah sekelumit cacatan tentang kiprah dan ide-ide brilian yang terus mengalir dari Bapak Haryono Suyono. Semoga catatan kecil ini dapat menjadi kenangan dan ikut mengisi peringatan ke 70 usia Bapak Haryono Suyono. Selamat Ulang Tahun ke – 70 Bapak Profesor. Semoga panjang umur dan terus berkarya dengan ide-ide barunya. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rachmat dan kasih sayangnya kepada Bapak Profesor Haryono Suyono. Amien ya robillalamin.

Last Updated on Tuesday, 13 May 2008 14:36