MC di lilin ke-70 Photo saat pernikahan Wawancara dengan Ibu Haryono SuyonoDi umurnya kini, ia terlihat berusaha keras untuk mengumpulkan serpihan kenangannya yang tersisa. Lalu ia, Ibu Astuty Hasinah Haryono Suyono, sengaja meminta kemasan kisahnya diracik dengan gaya tulisan “question answer”. dan ternyata benar, dengan cara ini rasanya bisa lebih utuh memahami penggal demi penggal ceritanya yang memang memikat dan terutama kalau dibuang sayang. Lebih dari itu, dari getaran ceritanya yang disampaikan, banyak hikmah yang justru dapat kami petik. Salah satunya, bahwa se indah-indahnya lilin yang hangat benderang selalu ada sumbu yang tak terlihat. Lalu, “Nanti Ibu ingat-ingat lagi,” begitu ujarnya kelewat bersemangat enggan menutup obrolan. Akhirnya ya, tentu ceritanya terhenti deadline, dan selewat penyuntingan di sana-sini maka cerita sisi lain Bapak pun tersaji seperti berikut ini (Red).
Sewaktu muda kami dengar Ibu kembang Kampung Melayu? Hehehe, kalau itu sih tanya orang lain aja. Lalu kapan pertama kali bertemu Bapak? Bapak itu guru Ibu di SMP Rehoboth, Jatinegara. Guru Ilmu Hayat dan Aljabar, mengajarnya enak mudah dimengerti. Bayak cewek-cewek yang bisik-bisikin dia, handsome hehehe… tapi Ibu menang selangkah karena pernah diminta satu becak dengan Bapak sewaktu jenguk kelahiran anak dari guru lain. Bagaimana rupa tampilan Bapak? Bapak itu bergaya klimis selalu pakai minyak rambut Brylcream, dengan baju pasti licin disetrika selain selalu apik dan bersih, pokoknya necis lah. Bapak juga pintar dan lucu, bukan begitu? Ah, waktu itu yang pertama Ibu lihat handsome nya hehehe, belum kepikir pintarnya … ingatannya ternyata memang tajam luar biasa. Kalau kocak jelas, tapi sekali lagi dia kan guru Ibu, jadi kalau dia melucu kita semua ketawa sebagai murid, hehehe… belakangan Ibu baru tahu Bapak memang lucu hehehe. Terus cerita romansanya? Lama kemudian setelah lulus SMP, dan Ibu sudah mulai bekerja, waktu itu nonton di bioskop Nusantara Jatinegara sama taman-teman lain yang berpasangan. Film yang ditonton Ben Hur box office sat itu. Rupanya Bapak yang duduk di bangku deret belakang tahu ada Ibu. Pulang nonton Ibu dicegat Bapak yang kemudian jalan kaki menghantar sampai rumah, habis itu mulai deh. Beberapa bulan kemudian dilamar, tukar cincin, setelah setahun kita menikah deh. Kok bisa buru-buru langsung tukar cincin? Oh itu sebelumnya kan Ibu ultimatum dulu, kalau Bapak serius, ayo, kalau tidak sudah ada orang lain yang mau loh, Bapak langsung pulang ke Pacitan minta Mbah nya anak-anak segera melamar Ibu. Adakah panggilan sayang Bapak ke Ibu? Bapak cuma sebut panggilan nama Ibu, ya dipanggil A’as, sebaliknya aku sangat kikuk memanggilnya. Bayangkan karena dari memanggil Bapak (sebagai guruku) aku diminta panggil Mas, hihihih… jadi bingung. Tapi Bapak ada panggilannya? Kalau teman-teman Bapak biasanya memanggil Mas Yono, waktu di Amerika sih dipanggil Mister Harry.  Sebagai pasangan muda Waktu menikah bulan madu ke? Boro-boro, Bapak itu sudah sibuk kerja luar biasa, sepulang kerja, Bapak kalau tidak mengajar di APPI, mengajar di Gedung Pola, kebanyakan mengajar statistik, atau sibuk menulis artikel buat koran. Lalu, kalau mencari hiburan saat itu? Paling-paling makan satai ayam dan minum cendol, terus nonton film dari bioskop Arjuna, bioskop Central, bioskop Metropol, dan yang paling sering nonton film koboi. Sampai Bapak memiliki beberapa topi koboi hahaha… . Selain itu kita sering nonton Wayang Orang yang manggung di W.O. Srikandi Kampung Melayu, kalau ini ada alasannya, biar Ibu lebih cepat memahami bahasa Jawa, hahaha… Oh ya, Bapak punya koleksi barang yang lain? Hmmm Bapak itu suka batu cincin, pernah Bapak punya cincin yang banyak matanya, Ibu bilang kayak juragan sapi hehehe, trus dia juga punya beberapa tustel, karena dia memang suka memotret sampai sekarang. Sebagai pasangan Bapak juga pernah cemburu? Nah ini cerita terkait waktu Ibu masih kerja, dulu Ibu kerja di Triangle Corporation yang berganti nama jadi Marga Bakti lalu jadi Dirga Niaga, ini perusahaan dagang negara. Dan gaji Ibu lebih besar dari Bapak lohh dapat sembilan bahan pokok lagi. Suatu waktu seperti biasa Bapak menjemput Ibu, nah ada teman kantor yang suka berkelakar, sengaja memanas-manasi dengan sedikit merangkul Ibu dihadapan Bapak. Eh di jalan, pulang ke rumah, Bapak memintaku berhenti bekerja! Ibu melongo, tapi Bapak bilang “Kalau kamu berhenti aku berjanji akan lebih giat bekerja”.  Photo dengan puteri pertama Jadi Bapak semakin sibuk dong Bu? Iya hahaha, tapi kebetulan saat itu Ibu sudah punya 3 orang anak yang harus lebih diperhatikan, jadi Ibu berhenti bekerja yang saat itu juga kebetulan berdekatan dengan keberangkatan Bapak sekolah lagi ke Amerika. Ibu juga berangkat ke Amerika kan? Oh itu setahun setelahnya Ibu menyusul kesana, itu saat yang paling berat buat Ibu karena harus meninggalkan anak-anak 4 orang. Tapi karena Ibu lihat Bapak perlu Ibu, selain itu Ibu mertua juga mendorong keberangkatan ke Amerika. Dan di sana Ibu ternyata bisa bekerja lagi jadi asisten Dosen Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu dan bahasa Jawa dengan penghasilan yang bisa lebih besar dari Bapak. Rasa kangen dengan anak-anak? Ya jelas, tapi Ibu paling cuma bisa nangis aja, untuk menghibur, Bapak ajak Ibu apalagi kalau bukan nonton film. Tapi Ibu bersyukur bisa menemani Bapak di sana, karena Bapak sempat terombang ambing sewaktu meneruskan dari Master ke Doktor. Dari Jakarta diminta pulang dahulu sementara Bapak mau langsung, dan Profesor di sana ngotot agar Bapak bisa langsung ambil S3, bahkan sang Profesor mendukung serta menjamin kehadiran Ibu di sana mendampingi Bapak. Beruntung Bapak mendapat ijin dari Jakarta, jadilah Bapak dari BA dapat MA langsung dapat PhD. Ditempuh hanya dalam waktu 3 tahun dengan Cum Laude. Ibu sudah punya firasat Bapak akan jadi pejabat? Oh, tidak, tidak kepikiran sama sekali, Ibu sih enjoy aja dan tidak keberatan dia dari sibuk, makin sibuk, jadi super sibuk. Bagaimana Ibu melihat sosok Bapak? Ibu hanya bisa mengucap sukur kepada tuhan yang maha esa, maha kasih dan maha penyayang punya suami yang penyabar, pengertian, penuh kasih sayang, terhadap istri, anak-anak dan cucu-cucu. Ini berarti apa bagi kehidupan keluarga ? Waah… Bapak itu kan pernah jadi pejabat, dan semakin tinggi kedudukan semakin kencang angin bertiup, kalau engga dijalankan dengan penuh kesabaran, dengan kasih sayang yang tulus tanpa pamrih ya repot. Repot bagi Bapak, repot bagi kita semua. Sering dong Bapak menghadapi masalah kerja? Nah kalau persoalan di kantor Bapak pantang dia bawa sampai kerumah, tapi Ibu bisa tahu kalau ada persoalan karena dia biasanya uring-uringan. Apalagi bila bertiup kabar angin yang tak sedap, tapi ini sih biasa dalam kedudukannya. Yang menambah runyam ada saja urusan rumah tangga anak buah yang mengadu pada Ibu, yang begini padahal bukan lah urusan Bapak. Bagaimana Ibu menghadapinya? Ibu juga harus ikhlas dan harus perhatian mendampingi Bapak dengan mandiri, ya dengan mandiri, gigih tidak mengeluh, sesuai yang selalu Bapak tanamkan pada Ibu. Jangan sampai ada urusan di rumah yang menambah beban pikiran Bapak yang sudah sangat sibuk. Wah ini yang harus kita pahami tentang Bapak, dari masa mudanya sangat sibuk kerja, terbiasa dengan kerja. Rasanya kalau tidak kerja malah Bapak itu bisa sakit. Anak-anak tidak mengeluh karena Bapaknya yang sibuk? Waktu kecil mereka pernah bertanya Bapak kok kerja melulu, Ibu cuma menjelaskan kalau Bapak itu harus kumpulin uang. Dari hasil kerja Bapak itu biar kita bisa makan, beli pakaian lebih baik lagi. Kita harus sabar dan ikhlas serta berterima kasih kepada Yang Maha Esa. Waktu itu sih mereka sepertinya mengangguk. Semakin besar mereka semakin mengerti bahwa bapaknya bekerja untuk mensejahterakan rakyat banyak. Tentang makanan, apa yang Bapak suka? Bapak itu tidak bawel untuk urusan perut, tapi dia paling doyan sayur lodeh ikan layur, ini Ibu belajar dari Ibu Mertua. Bapak juga suka tahu, tempe, gado-gado, pecel, ceplok telor dan soto ayam. Dulu pernah suka sambel namun sekarang tidak lagi. Kenapa, ada pantangan makan? Pernah gara-gara urusan ini, saat kunjungan ke (sensor, red) saat diberi tanggungjawab MENKO, Bapak kena diare berat, setengah sadar sampai di opname di RSPAD. Usut punya usut, Bapak habis menyeruput cendol kesukaannya. Tapi ini bukan pantangan karena cendol basi aja kali. Bagaimana rasanya waktu Bapak di opname? Waduuh, karena sejak menikah ini pertama kalinya, hati ibu deg degan syok, maklum belum pernah mengalaminya. Memangnya Bapak jarang sakit? Oh, kalau batuk, pilek sih biasa tapi lucunya Bapak kalau sakit jadi manja, minta makanan dan harus selalu ditemani atau minta kerokan deh. Tapi belakangan Bapak pernah operasi Bypass jantung, jadi Bapak harus lebih tahu diri dong akan kesehatannya. Sebaliknya kalau Ibu Sakit? Hehehe Bapak itu selalu sibuk, Ibu yang mengerti dong, hehehe, kecuali waktu Ibu kena Kanker seperti kemarin, dan Bapak kali ini ada untuk Ibu, mungkin karena Ibu banyak menangis. Soal yang lain, Kapan Bapak memuji Ibu? Hehehe, kalau Bapak tidak pernah memuji dihadapan Ibu, tapi Ibu tahu di belakang Ibu, dia bangga. Bagaimana misalnya? Waktu Ibu diam-diam dan sedikit demi sedikit beli tanah yang di Cinangka, dia tidak tahu, baru tahu setelah ayam piaraan yang 1.000 ekor ludas dibawa lari yang jaga. Itu pun karena Ibu menangis, Bapak jadi tahu meski masih setengah percaya. Tanah itu baru kami tengok karena kebetulan ke Parung, akhirnya dari terkejut Bapak jadi paham niat mulia Ibu beli tanah untuk masa depan, buat anak dan cucu. Itu pun dikatakannya kepada anak-anak, bukan kepada Ibu, tapi Ibu sih acuh saja sudah biasa. Kan Bapak yang mengajari Ibu supaya mandiri. Hal lainnya, tentang KB, tentu Ibu punya kisah? Nah, awalnya terjun ke KB salah satunya karena dia kasihan lihat aku yang punya 4 anak sekaligus dengan jedah yang singkat, belum lagi repotnya mengurus anak. Terus dia lihat istri dan ibu-ibu lain ada yang menggugurkan kandungan, dan bahkan ada yang meninggal muda. Jadilah Ibu percontohan program KB yang Bapak canangkan, suami saya kan mengajak orang lain maka seharusnya saya juga memberi contoh. Padahal kalau diingat hehehe Ibu itu semacam Kelinci percobaan. Tentu Ibu juga sibuk dong di Dharma Wanita? Bagaimana peran Bapak? Ya, sebagai istri di jaman itu, memang sudah sepatutnya mendampingi suami. Juga banyak acara yang mau enggak mau Ibu harus pidato, dan awalnya Ibu grogi, minta bikinin pidato sama Bapak, tapi Bapak hanya mau kasih input saja lalu mengkoreksi, selebihnya Ibu yang bikin meskipun kebanyakan hanya pointers nya saja selanjutnya diuraikan didepan microphone. Bapak tahu Ibu grogi kalau mau pidato? Terus apa resepnya? Tadinya iya, orang yang Ibu pimpin itu ada yang bertitel Dokteranda, Sarjana Hukum, kalau mau pidato enggak pakai resep, cuma nekat aja, modal percaya diri aja tiap mau mulai Ibu tarik napas panjang, lalu baca Bismillah…. Lucunya kemudian Ibu itu sempat dijuluki sebagai Ibu percaya diri…, berkat Bapak yang terus mendukung biar Ibu lebih mandiri lagi. Ibu lebih mandiri? Terasa kah hasilnya? Ya itu tadi ada beberapa usaha seperti jualan es mambo yang dititipkan diwarung-warung disekitar rumah, berkebun, beternak yang Bapak baru tahu belakangan. Dalam berumah tangga tentu pernah terjadi gesekan? Bagaimana solusinya? Ya tentu, salayaknya manusia yang masih dibalut emosi, pasti ada saja problem. Nah biasanya kalau lagi berantem, Bapak dan Ibu masuk kamar, jangan sampai anak-anak tahu, di dalam kita bisa saling menegur, saling berargumen, keras sekali pun. Tapi keluar dari kamar harus sudah selesai, titik, tidak ada embel-embel lagi. Ibu pernah protes dong ke Bapak? Ya pernah, salah satunya berbuah positif, Ibu bilang, Bapak itu selalu bilang dalam program kerjanya untuk membela perempuan, tapi kok nasib Ibu tidak diperjuangkan, begini tidak boleh begitu tidak, Bapak itu terlalu hati-hati menjaga yang dikasihinya. Bapak juga sudah menggarisbawahi tidak untuk KKN! Tapi dasar Bapak, selalu tidak mau memberi ikan, tapi Bapak memberi kail. Maka buat Ibu didirikanlah Astuty Center, yang masih bisa nyambung dengan kerjanya. Astuty Center? apa peran nya buat Bapak? Oh ini lembaga sosial yang sesuai dengan hati nurani dan perjuangan Bapak selama ini. Di sini Ibu bekerja sama dengan banyak pihak, untuk terus belajar melapangkan hati, mendatangkan manfaat, selain dalam amal ibadah juga amal jariyah tanpa terlalu dikemas secara formal seremonial. Jadi kami coba melakukan praktek langsung sedekat mungkin kepada masyarakat akan apa yang menjadi pikiran dan hasrat Bapak yang sudah lama berjuang menjadikan masyarakat lebih baik (POSDAYA)  Photo saat wisuda di Amerika Serikat
Lalu, adakah momen yang membahagiakan? Pada saat bapak menyelesaikan program PHD di Amerika karena secara langsung ibu ikut membantu mengetik tesis bapak. Dan saat Bapak menerima Bintang Mahaputra, kerja Bapak buat KB bisa menghantar Presiden Suharto pidato di PBB, hebat! Namun yang unik, ternyata Bapak setelah dapat Mahaputra membabat habis jenggotnya hahaha… dari tahun 1972 hingga tahun 1980 Bapak berjenggot. Ganteng mana berjenggot atau tidak? Hahahaha…. ya yang bersih dari jenggot laaah, terbukti banyak perempuan yang kembali kagum dengan Bapak. Kalau banyak yang kagum, bikin problem dong Bu? Hahaha Bapak selalu terus terang sama Ibu dan Ibu percaya sama Bapak. Karena Ibu selalu ada di belakang, di depan dan di samping Bapak. Sebentar lagi pernikahan kami memasuki usia 45 tahun, pas di usia Bapak memasuki 70 tahun. Meski begitu greget cinta kasih musti tetap ada, ya jelas Ibu masih ada rasa cemburu, itu kan tanda cinta, hahaha… Ibu kan cuma manusia. Adakah kebiasaan Bapak yang agak mengganggu? Oh… Bapak tanpa sadar mungkin, sering menguliti kuku, dari kecil katanya sampai sekarang, paling Ibu cuma bilang biar rusak itu kuku.  Photo sesaat setelah pengukuhan sebagai Guru Besar (Profesor) di Universitas Airlangga, Surabaya
Hehehe jadi apa hadiah yang ingin Ibu sampaikan? Setulus-tulusnya Ibu ingin sampaikan terima kasih Ibu sudah diberi suami yang baik yang gagah penuh semangat. Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan sehat selalu. Cium sayang… tolong pesan ini ditulis dari Nenek! Dari Nenek? Ya, dari Nenek, hahahaha biar Bapak tetap ingat tugas dia sekarang jadi MC, panggilannya juga sudah jadi Bapak Embah, dia sendiri loh yang bilang akan jadi MC, Momong Cucu… |