ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

ANAK INDONESIA PERLU PEMERATAAN KREATIFITAS

Image
Menyapa anak-anak bersama Walikota Banjarmasin
Minggu depan, tepatnya tanggal 23 Juli 2009, kita akan memperingati Hari Anak Nasional. Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini berada dalam suasana pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang hampir tuntas. Kalau benar pemilihan itu satu putaran, kita sudah mengetahui siapa Presiden dan Wakil Presiden untuk lima tahun yang akan datang. Kalau dua putaran, kita belum mengetahui siapa yang dipercaya rakyat Indonesia untuk mengantar anak-anak bangsa memasuki dan memapak masa depan yang lebih gemilang.

Dalam banyak kesempatan, utamanya dalam rangka Tahun Kreatif Nasional, bangsa ini sangat “dihibur” oleh tampilnya remaja yang berhasil menjadi juara dalam berbagai lomba internasional seperti juara matematika, tehnologi, atau bahkan kreatifitas anak-anak tingkat dunia. Anak-anak yang menjadi juara itu di elu-elukan bak pahlawan yang luar biasa, mendapat penghargaan dari berbagai kalangan, bahkan tidak jarang diterima oleh Presiden dan Wakil Presiden. Perlakuan kepada para juara itu tidak ada salahnya, tetapi cara mengambil hikmah dari kejuaraan seperti itu nampaknya belum pernah dibahas dan dilaksanakan oleh Menteri atau Instansi yang bertanggung jawab.

Kemampuan kita mengirim anak-anak menduduki tingkat juara pada skala global harus dijadikan acuan untuk memperbaiki pendekatan yang kita lakukan dengan melangkah lebih strategis dalam menolong lebih banyak anak mencapai tingkatan mutu yang bersifat global tersebut. Berbagai upaya perlu dipertimbangkan untuk mencapai kondisi tersebut. Pertama, upaya pemerintah dalam bidang pendidikan perlu dikembangkan untuk memperluas pemerataan mutu pendidikan. Untuk itu upaya kita perlu difokuskan bukan lagi pada penciptaan calon juara pada tingkat global, tetapi justru pada kelompok yang sukar mendapatkan akses terhadap mutu pendidikan yang tinggi, kelompok keluarga miskin, kelompok yang tersisih, utamanya perhatian terhadap anak-anak perempuan yang tidak bisa menjangkau sekolah yang bermutu.

Biarpun wajib belajar nampaknya di klaim oleh banyak kalangan telah hampir tuntas, pasti banyak keluarga miskin atau keluarga penyandang cacat yang anak-anaknya terpaksa sekolah pada sekolah dengan mutu seadanya. Jangankan menjadi juara dunia, lulus dari ujian dengan nilai diatas 5,5 saja sulitnya bukan main. Oleh karena itu pengalaman mengantar anak-anak menjadi juara dunia harus menjadi bahan pemikiran untuk melakukan intervensi khusus bagi anak-anak yang tertinggal tersebut. Para penanggung jawab pendidikan, termasuk para guru harus pandai-pandai mempergunakan pengalaman para pendidik yang bisa mengantar anak-anak menjadi juara dunia itu sebagai bahan intervensi bagi anak-anak yang tertinggal. Pengalaman itu bukan hanya dilihat dari anak-anak yang berbakat, tetapi pada guru, metoda dan perlengkapan yang diberikan sebagai pendukung kegiatan menyiapkan anak didik secara luas.

Pengalaman mengantar para juara perlu dipergunakan untuk mengembangkan kebijakan pendidikan inklusif (policy of inclusive education), bukan justru memisahkan anak didik atas dasar kemampuan siswa atau latar belakang orang tua yang mampu memberi dukungan kepada upaya intensifikasi secara khusus. Kebijakan tersebut perlu diikuti dengan langkah operasional yang tegas yaitu dengan memberi perhatian yang tinggi terhadap anak keluarga kurang mampu, anak cacat, dan mereka yang karena berbagai alasan tidak memperoleh pendidikan yang bermutu. Termasuk dalam kebijakan operasional tersebut perhatian perlu diberikan secara sungguh-sungguh kepada anak perempuan secara seimbang. Perhatian terhadap anak perempuan itu perlu dilakukan lebih awal, yaitu dengan menyegarkan kembali gerakan Bina Keluarga Balita (BKB) atau memantapkannya menjadi gerakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Apabila anak-anak balita sudah ditampung dalam kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB) atau PAUD, maka orang tuanya, utamanya ibunya, perlu segera diberikan pelatihan ketrampilan dalam bidang usaha dan dititipkan sebagai magang pada usaha ekonomi produktif di desanya. Pemberian ketrampilan dan pekerjaan kepada orang tuanya itu diarahkan agar keluarga yang bersangkutan memperbaiki kondisinya sehingga bisa memberikan makan dengan gizi yang baik kepada anak balitanya. Disamping itu, karena angka kemiskinan masih tinggi, biarpun secara makro dinyatakan selalu menurun, sebenarnya masih banyak keluarga yang dengan mudah jatuh miskin. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pelatihan terintegrasi dengan kegiatan pada masyarakat. Anak-anak SMP dan SMA, tanpa menunggu pengembangan SMK, diberikan pelatihan ketrampilan di luar sekolahnya. Anak-anak itu perlu dimagangkan pada usaha-usaha ekonomi produktif yang sesungguhnya. Pendidikan formal di sekolah dikembangkan secara terpadu dengan pelatihan ketrampilan yang dilakukan lembaga-lembaga pelatihan yang sifatnya informal. Dengan cara tersebut keberhasilan mengantar para juara, dikuti dengan memberikan kepada anak-anak kita lainnya suatu program pemerataan pendidikan dan pelatihan ketrampilan untuk mengantar anak-anak menjadi anak kreatif yang bisa menolong masa depannya yang lebih sejahtera. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri, www.haryono.com).


Views: 399

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4