ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Article

BATIK PASAR KLEWER

19 November 2005

Hari Senin lalu kita undang Bupati Banyuwangi, Dra. Ratna Lestari, MM, dan Bupati Magetan, Drs. H. Saleh Mulyono, MM menggelar produk pedesaannya dalam acara “Semanggi” di TVRI Surabaya. Hari Kamis, Bupati Bantul, Drs. H. Idham Samawi dan Ketua Kadin Pusat Bidang Industri, Dr. Rachmat Gobel, bicara soal yang sama pada acara “Plengkung Gading” di TVRI Yogyakarta. Para pembicara itu dengan didampingi Wakil Ketua Yayasan Damandiri, Prof. Dr. Haryono Suyono, mengajak masyarakat membangun kembali gerakan “Bangga Suka Desa” dengan program “One Village One Product” untuk mempercepat upaya pengentasan kemiskinan dan membangun keluarga yang sejahtera.

Dari kedua acara itu ternyata para penonton interaktif sangat tertarik dan banyak menanyakan tentang dukungan dana dan pemasaran. Dewasa ini dukungan dana sesungguhnya tidak terlalu menjadi persoalan rumit. Produk-produk pedesaan juga sudah dipasarkan di pasar-pasar tradisional. Sebagai contoh, jika kita berkunjung ke kota Solo akan kita saksikan di pasar-pasar, termasuk Pasar Klewer banyak sekali produk pedesaan yang dijual, antara lain kain batik. Produk-produk itu sudah lama dipasarkan di pasar tradisional ini, sehingga pasar ini menjadi sangat terkenal dengan berbagai jenis pakaian dan kain batik. Motif batik yang ditawarkan beragam, batik tulis hingga batik cetakan. Bahan kain batik juga beragam. Begitu pula harganya mulai dari yang termurah hingga yang paling mahal. Kios yang menyediakan barang ini cukup banyak, berjejer memenuhi pasar. Umumnya penduduk yang berjualan berasal dari desa yang sama atau dari desa-desa tertentu dengan produk batik yang sama.

Menurut laporan Drs. Oos M. Anwas, MSi., staf Yayasan Damandiri yang ditugaskan untuk menyiapkan acara pemberdayaan keluarga melalui Sinetron “Bukan Hanya Mimpi” di TPI, salah satu kios yang cukup ramai pengunjungnya di Pasar Klewer adalah milik pasangan Ibu Juminten dan Bapak Mulyo Rahardjo. Ciri usahanya yang berhasil adalah kerja keras, kejujuran dengan produk yang dijual, keuletan dan kemampuan menjaga kepuasan pelanggan. Dengan keuletan itu, pasangan yang merintis usahanya dari titik nol ini sudah mempunyai pelanggan yang banyak dan menikmati hasil kerja kerasnya.

Menikah Usia Muda

Seperti halnya anak-anak perempuan masa lalu, Ibu Juminten dilahirkan di suatu desa Kabupaten Klaten dari orang tua seorang petani. Setelah lulus SD ia hanya membantu bertani di sawah/ladang. Menginjak usai remaja, Juminten berkunjung ke rumah saudaranya di kota Solo. Disinilah awal bertemu dengan Mulyo Raharjo, pemuda yang pekerjaannya mengantarkan susu dari rumah ke rumah. Seperti layaknya pasangan masa itu, khususnya di pedesaan, tidak ada pengalaman romantis seperti remaja zaman sekarang, pasangan ini segera menikah ketika Juminten berusia 17 tahun dan Mulyo Rahardjo 22 tahun.

Mulyo Hardjo adalah anak yatim piatu. Setelah menikah ia memboyong istrinya tinggal bersama dengan neneknya di Langenhardjo Solo. Pekerjaan Mulyo setiap pagi mengantarkan susu ke pelanggannya. Di sore hari kadang-kadang ia ikut menjadi makelar jual beli sepeda. Sementara Juminten setia menunggu di rumah apalagi pasangan ini segera dikaruniai anak. Juminten lebih banyak mengurus anak.

Arisan untuk modal usaha

Setelah anaknya bebas ASI, Juminten mulai sadar akan perlunya tambahan penghasilan untuk membantu suaminya. Anaknya mulai perlu biaya yang tidak sedikit. Kemudian ia mengusulkan kepada suaminya untuk mencoba berjualan keperluan sehari-hari di depan rumahnya. Rumahnya yang berada di pinggir jalan ini akan dimanfaatkan untuk berdagang. Suaminya setuju namun waktu itu terbentur modal. Mereka tidak memiliki uang cukup karena memang penghasilan suaminya hanya cukup untuk keperluan hidup sehari-hari.

Secara kebetulan waktu itu suaminya mendapatkan arisan. Uang arisan itu segera digunakan untuk modal usaha membuka warung kebutuhan sehari-hari: mulai dari minyak tanah, beras, gula, sabun, dan barang kelontongan kebutuhan sehari-hari.

Mengelola warung di rumah sendiri memang enak terutama bisa sambil mengawasi anak-anak. Juminten juga bisa bekerja membereskan kebutuhan sehari-hari. Sementara hasilnya cukup lumayan untuk menambah kebutuhan sehari-hari.

Di sisi lain kadang-kadang tidak bisa istrirahat karena harus melayani pembeli yang biasanya tidak kenal waktu. Kadang-kadang warungnya sudah tutup dan ia sudah istirahat diketuk oleh pembeli yang memang tetangganya. Tidak sedikit mereka juga mengutang dan sulit bayar. Mau ditagih kurang enak karena tetangga, tetapi tidak ditagih modal ludes. Menghadapi hal ini Juminten hanya pasrah dan ikhlas. Ia berdoa minta rezeki yang halal dan baik bagi keluarganya.

Pasar Klewer

Tahun 1983, kakak Juminten (Mbak Mul) membeli kios di Pasar Klewer. Ketika itu pasar ini masih belum bagus. Kiosnya masih sederhana. Barang dagangan juga diletakan di atas meja. Juminten diajak kakaknya untuk membantu jualan kain dan pakaian batik. Tentu saja Juminten bersedia, apalagi ketika itu warung rumahnya sudah sulit dipertahankan, karena banyak yang ngutang.

Di pasar ini Juminten seolah menemukan darah segar. Semangat bisnisnya kembali muncul. Ia bisa belajar berdagang pakaian/kain batik mulai dari menghadapi konsumen yang beragam karakter, menghadapi persaingan, berbelanja, dll.

Sekitar tahun 1985 Mbak Mul sangat perlu uang besar. Modal usahanya juga sudah terpakai tetapi belum cukup. Akhirnya kiosnya ditawarkan kepada Juminten. Juminten bersama suaminya tertarik dengan usaha ini. Apalagi ia telah mempelajari bahwa berjualan batik dan pakaian jadi di pasar Klewer ini cukup prosfektif. Namun waktu itu kesulitan dana untuk membeli kios tersebut. Simpanan yang dimilikinya terbatas. Untung saja saudaranya berbaik hati, dijual secara kredit.

Barang dagangan waktu itu hanya bermodalkan kepercayaan. Barang dikirim oleh agen dari kota Pekalongan atau Yogya dan baru dibayar setelah barangnya laku (konsinyasi). Dengan pengelolan baru ini, Juminten bisa menarik pembeli untuk berlangganan padanya. Tiap hari usahanya makin maju dan terus bertambah. Omset penjualan di tahun 1985 bisa mencapai Rp 390 ribu per hari. Padahal waktu itu kios yang lain masih sepi. Setiap hari Juminten sibuk melayani pelanggan.

Kios Juminten makin laris. Suaminya yang sudah capek bekerja sebagai pengantar susu akhirnya berhenti. Pak Mulyo sepenuhnya membantu usaha sang istri di pasar. Keserasian pasangan suami istri ini akhirnya menghasilkan kekuatan. Usahanya bertambah maju, langganan meningkat, dan untungnya juga besar.

Pelanggannya adalah para pedagang kecil dari kampung-kampung. Mereka biasanya membeli berbagai pakaian batik dan barang jadi lainnya dari beberapa kios. Juminten bisa menarik para pedagang kecil itu untuk berlangganan di kiosnya. Hal ini mengakibatkan usahanya makin berkembang. Keuntungan yang lumayan ini bisa mengantarkan pasangan ini naik haji pada tahun 1987.

Tahun 1998 terjadi krisis moneter. Dampaknya daya beli masyarakat menurun. Begitu pula penjualan para pedagang kecil yang menjadi langganan usahanya juga menurun. Namun penurunan omset penjualan ini tak mengendorkan semangat mereka untuk terus melaksanakan rutinitas kesehariannya. Mereka menyadari bahwa segala sesuatu jika dijalani dengan ikhlas bisa mendatangkan manfaat.

Pasangan ini termasuk keluarga yang taat beragama. Dalam kesibukan keseharian menjalankan usahanya, mereka tidak terlewatkan menjalankan ibadah. Mereka juga secara rutin mengikuti pengajian mingguan dan bulanan di sekitar tempat tinggalnya. Mereka nampak menikmati indahnya hidup, “Berusaha, berdoa karena Allah SWT” merupakan falsafah hidupnya.

Kredit Sudara

Bu Juminten memerlukan modal tambahan. Secara kebetulan Ibu ini adalah anggota aktif Koperasi Pasar Klewer. Koperasi ini merupakan salah satu binaan Bank Bukopin Cabang Solo yang menyalurkan kredit Sudara. Kredit Sudara ini merupakan hasil kerjasama Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) dengan Bank Bukopin yang ditujukan bagi pengusaha kecil dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Usaha pasangan ini termasuk dalam katagori tersebut. Setelah semua persyaratan dipenuhi tahun 2002 pasangan ini mendapatkan Kredit Sudara sebesar Rp 15 juta. Hasil analisa usaha dinilai bahwa usaha pasangan ini cukup baik dengan anggunan dan nilai usaha yang besar. Oleh karena itu mereka mendapatkan lagi kredit campuran (mix) dari Swamitra sebesar Rp 5 juta, sehingga pinjaman keseluruhan menjadi Rp 20 juta. Tambahan modal ini digunakan untuk membeli kendaraan. Sejak itu pengiriman order, pasokan barang serta operasional dari pasar ke rumah menjadi lancar.

Langganan andalan Ibu Juminten adalah para pedagang kecil (bakulan), yang berjumlah sekitar 300 orang. Mereka itu umumnya perempuan, membeli barang untuk dijual kembali di kampung-kampung. Karena sudah menjadi pelanggan, para bakul ini kadang-kadang tidak bisa membayar kontan (ngutang). Namun akibatnya banyak yang tak bayar, mungkin sengaja atau tidak bisa membayar. Padahal mereka itu masih sering berbelanja lagi.

Persaingan antar pedagang batik di pasar Klewer ini cukup ketat, tetapi mereka berusaha memberikan pelayanan yang terbaik dan berdoa. Dengan cara ini mereka bisa menjalaninya dengan ikhlas dan tenang. Omset penjualkan sekarang sekitar Rp 4 juta per hari dengan keuntungan sekitar 5% sampai 10 %.

Kini pasangan ini menjalani hidupnya dengan bahagia. Suami istri saling mengisi mengelola usaha kios batik. Mereka juga dibantu oleh satu orang pekerja. Anak-anaknya yang berjumlah 3 orang sudah selesai sekolah. Bahkan anak yang kedua mengikuti jejak orang tuanya, membuka usaha yang sama di Pasar Klewer. (Prof. Haryono Suyono, Pengamat) – PasarKlewer-26Nopember2005.


Views: 484

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4