ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical Article Speeches

MEMBANGUN DAN MENJAMIN KEHIDUPAN TATA TENTREM MENUJU MASYARAKAT KERTA RAHARJA

MEMBANGUN DAN MENJAMIN KEHIDUPAN TATA TENTREM MENUJU MASYARAKAT KERTA RAHARJA

Pengantar Diskusi
Oleh : Prof. Dr. Haryono Suyono
Guru Besar Universitas Airlangga, Surabaya
Ketua Yayasan Damandiri

Disampaikan pada
Diskusi Terbatas Nusantara Institute
"Pancasila dan Sistem Pertahanan Nasional"
Menyongsong 100 Tahun Kebangkitan Nasional
Di Jakarta, 19 Maret 2008

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bapak Dr. Sukardi Rinakit yth.,
Bapak Letjen. (Purn) Kiki Syahnakri yth.,
Bapak Mayjen. Budiman yth.,
Bapak Subiakto Tjakrawerdaja yth.,
Bapak Soenarto Soedarno yth.,
Undangan dan Hadirin yang berbahagia.

Dengan diiringi puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Saudara sekalian menghadiri acara Diskusi Terbatas yang digelar oleh Nusantara Institute. Untuk diketahui, Nusantara Institute sengaja didirikan sebagai forum untuk menampung gagasan-gagasan brilian sebagai sumbangan untuk pembangunan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai. Untuk itu, dalam menyegarkan dan mengembangkan upaya meningkatkan persatuan dan kesatuan, menyegarkan kembali niat kita membangun berdasarkan Pancasila, sebagai upaya melestarikan kehidupan bangsa yang dinamis. Mulai dua minggu lalu Nusantara Institute menggelar Diskusi Terbatas sebagai persiapan Seminar Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei yang akan datang.

Untuk ketiga kalinya Diskiusi hari ini akan mengambil tema Pancasila dan System Pertahanan Nasional yang diantar oleh pakar-pakar dalam bidangnya, yaitu Bapak Dr. Sukardi Rinakit, Bapak Letjen. (Purn) Kiki Syahnakri dan Bapak Mayjen. Budiman. Ketiga pembicara tersebut kami harapkan akan mengantar dan mengajak kita semua berpartisipasi secara aktif dalam pertemuan hari ini. Kalau perlu dikemudian hari dapat menambahkan komentarnya untuk pengetahuan kita bersama.

Atas nama pemrakarsa dan Nusantara Institute kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pembawa makalah utama yang telah bersedia mengisi acara Diskusi hari ini. Seperti kami sampaikan tadi, kami sangat mengharapkan sumbangan pikiran Bapak dan Ibu peserta Diskusi memperkaya bahasan topik yang diacarakan melalui sumbangan tanggapan dengan lebih bermakna. Apabila mendapat ijin para penulis dan mereka yang memberikan tanggapan, karya ilmiah dan rangkuman tanggapan itu akan kami terbitkan dalam Situs www.damandiri.or.id dan www.gemari.or.id agar bisa memperoleh tanggapan lain yang lebih luas. Pada waktunya, kumpulan tulisan dan tanggapan itu akan dirangkum dalam berbagai bentuk sebagai sumbangan untuk menyongsong Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional 1908 yang mungkin akan diadakan sebagai Seminar atau dalam bentuk lainnya. Sumbangan itu kiranya bisa memperkokoh semangat dan integritas Bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi banyak kalangan, utamanya rakyat biasa di pedesaan, sistem pertahanan nasional dirasakan sebagai jaminan atau harapan dari usaha mewujudkan anggapan atau "suluk" ki dalang bahwa negara kita adalah negara yang "gemah ripah lohjinawi, tata tentrem, kerta raharja.... ". Anggapan dan kepercayaan itu masih merupakan tampilan suluk atau intro dalang dalam paparan wayang kulit atau wayang orang. Rakyat seakan-akan dibawa mimpi dan diberikan harapan. Kalau pemimpinnya tidak melaksanakannya maka mereka anggap bahwa pemimpin itu tidak becus !

Oleh karena itu, dalam bahasa sederhana, sebenarnya rakyat ingin membangun rasa percaya pada diri sendiri dan seluruh keluarganya kepada pemimpinnya. Kalau keluarga itu dirumah, dan salah seorang anggotanya ingin keluar rumah, mau bepergian, baik dalam jarak yang jauh atau jarak dekat, memiliki rasa aman yang mantab. Ketika mau keluar rumah, tidak takut atau curiga biarpun melihat tetangganya miskin, karena dia sendiri dan keluarganya diyakini sedang bekerja keras mengatasi kekurangannya secara halal. Keluarga miskin itu tidak akan mengambil barang milik tetangganya yang selama ini bekerja bersama. Pengertian dan kebersamaan itu mengalahkan rasa curiga dan membentuk kepercayaan yang tinggi akan keamanan dan ketahanan yang sedang sama-sama dikembangkan.

Pada tatanan yang lebih besar, masyarakat pedesaan akan merasa aman dan tenteram kalau ada perampok atau musibah di desanya. Mereka "bisa berteriak" dan mendapat bantuan. Bantuan itu bukan saja datang dari tetangganya tetapi dari Polisi dan TNI yang mempunyai peralatan yang lebih canggih. Perampok akan lari tunggang langgang karena yakin bahwa Polisi dan TNI yang dilapori tetangga yang mendengar teriakan, tanggap dan memberikan pertolongan, maaf, tanpa menanyakan apakah yang berteriak mempunyai kartu penduduk, atau kartu miskin ! Atau, tanpa menanyakan uang muka untuk pelayanan yang diberikannya.
 
Perasaan damai itu meluas ketika kepercayaan pada kaum tetangga makin kuat. Masyarakat tidak kawatir ada rampok datang dari luar, karena adanya kepercayaan bahwa begitu mereka berteriak, tetangga beramai-ramai datang dan menolong. Mereka tidak akan melihat tetangga datang dan ikut merampok. Kepercayaan muncul karena suasana tata tentrem seakan sudah menjadi bagian sistem baku dalam masyarakat, sakan seperti diatur. Padahal aturan itu sudah menyatu membudaya dan menjadi ciri dari masyarakat yang berbudaya.

Suasana damai dan tenteram disekitar rumah itu terjadi karena ada kepercayaan, ada trust bahwa negara yang kita cintai mempunyai sistem pertahanan nasional yang tidak saja indah dalam kata-kata, atau diwujudkan melalui TNI dan Polisi yang kuat dan modem, tetapi sangat dipercaya rakyat karena menjamin ketenteraman warganya. Kepercayaan itu memberi dorongan munculnya budaya tata tentrem yang memungkinkan setiap warga mempunyai rasa peduli terhadap sesamanya. Rasa peduli yang membudaya memberi dorongan motivasi untuk bekerja keras membangun diri dan masyarakatnya untuk masa depan yang sejahtera. Karena itulah diskusi hari ini kiranya menyegarkan kepercayaan kita bahwa sistem pertahanan nasional bukan saja hidup dan dinamis, tetapi mempunyai kemampuan untuk mengembalikan kepercayaan setiap warga karena apa yang dijanjikan dalam falsafah Pancasila diwujudkan dengan konsekwen dalam tatanan pemerintahan dan pembangunan, mengantar masyarakat mencapai cita-cita masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

Dengan latar balakang itu kami berharap peserta Diskusi menambah pengetahuan kita tentang sistem pertahanan dan keamanan negara yang sesuai dengan situasi dan kondisi Indonesia, sekaligus dikaitkan dengan Pancasila. Bagaimana tanggung jawab TNI dalam sistem pertahanan negara, dan bagaimana tanggung jawab POLRI dalam keamanan negara sesuai dengan Pasal 30 UUD '45 hasil amandemen. Barangkali, mengacu pada contoh sederhana yang kami kemukakan terdahulu, bagaimana tanggung jawab TNI sebagai kekuatan sosial kemasyarakatan, sekaligus hubungan antara sipil dan militer yang dianggap pas dengan budaya bangsa.

Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya. Semoga kehadiran dan sumbangan pikiran Saudara sekalian memperkaya Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei 2008 yang akan datang. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati upaya kita sekalian. Selamat berdiskusi.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Views: 779

Be first to comment this article
RSS comments

Hanya Angoota Terdaftar yang dapat memberikan komentar.
Silakan login atau mendaftar terlebih dahulu.

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.4