Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical News The Media Say

Belajarlah Sampai Negeri Cina Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
HARYONO TIWIKROMO
 
Belajarlah Sampai Negeri Cina
 
Harian Pelita, Sabtu, 21 Nopember 2009

"Yayasan Damandiri mendapat undangan penting dari Partner on Population and Development (PPD) untuk mengikuti pertemuan internasional di Beijing, RRC. Ternyata, banyak pelajaran yang bisa didapat dan diterapkan di Indonesia," kata Haryono Suyono.

Tak kalah menariknya, bila kunjungan Yayasan Damandiri ini pun dikaitkan dengan kunjungan rombongan Badan Kependudukan Keluarga Berencana (BKKBN) mengiHuti peringatan 15 tahun dilak-sanakannya International Conference on Population and Development (ICPD) atau Konperensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan di New York. Dua kunjungan yang dilaksanakan secara terpisah ini, sama-sama membahas kebijakan pembangunan berorientasi penduduk.

Selama di Beijing ini kami melihat keberhasilan Republik Rakyat Cina (RRC). Mereka antara lain berhasil menurunkan rankingnya dari di atas ratusan, seperti Indonesia (Indonesia masih tetap di rangking 111), tetapi RRC sudah merosot ke angka 90-an.

Kemajuan pesat yang diperoleh rakyat Cina diimbangi dengan tingkat kematian bayi, tingkat kematian ibu melahirkan merosot jauh dari angka yang dimiliki Indonesia. Sedang usia harapan hidup rakyat Cina melonjak menjadi 73 tahun. Padahal dulu kedua Negara persentasenya ada kemiripan.

Tingkat kemiskinan di RRC juga turun. Tetapi karena jumlah penduduknya cukup besar, lebih kurang 1,3 milyar jiwa, maka penduduk miskin di RRC pun cukup banyak, sekitar 100 juta jiwa penduduk. Namun kemajuan-kemajuan yang dicapai RRC diakui dunia sehingga banyak negara sekarang ini belajar ke Cina, bukan lagi ke Indonesia, karena Indonesia sudah jauh tertinggal.

Ada beberapa langkah yang perlu diterapkan di Indonesia. Pertama, fokus menjual program kependudukan bukan sebagai program KB biasa, tetapi dalam paket Human Development dan Millenium Development Golds (MDGs) secara keseluruhan.

Kalau sekarang ini Yayasan Damandiri menganjurkan dan menggerakkan tumbuhnya semangat memberdayakan keluarga-keluarga Indonesia, tetapi sekarang ini Cina tidak menganjurkan tetapi memberikan contoh. Inilah yang sudah berhasil.

Yang tidak kalah menarik sekaligus menjadi menjadi tantangan ke depan, negara-negara yang mengikuti pertemuan international ini telah memutuskan akan mengadakan pertemuan serupa dua tahun lagi di Indonesia.

Ini merupakan tantangan bagi kita bangsa Indonesia terutama menteri-menteri yang baru dilantik, untuk melihat bahwa Indonesia dalam dua tahun ini haras lebih siap dibandingkan keadaan 10 tahun terakhir.

Indonesia pasti siap menjawab tantangan ini. Dengan adanya Undang Undang Kependudukan yang belum lama ini disahkan DPR-RI menempatkan BKKBN sebagai lembaga Non Departemen dan berubah nama menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.

Ini kesempatan emas untuk melihat penduduk sebagai pelaku dan sasaran pembangunan. Kalau itu dilakukan secara konsekuen, maka dalam dua tahun. Insya Allah Indonesia bisa menjadi tuan rumah dari konferensi internasional dalam paket MDGs.
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono