Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical News The Media Say

Harganas XVI: Momentum Keluarga tetap Laksanakan KB Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Website Kantor Menko Kesra

PERINGATAN Hari Keluarga Nasional (Harganas) 29 Juni tahun ini sudah untuk yang ke 16 kali, sejak pertama kali dicanangkan oleh Presiden Soeharto di Sidoarjo, Jawa Timur pada 1994.

Sebelumnya ada kegiatan yang disebut Pertasikencana, yakni pertanian, koperasi, dan keluarga berencana, terakhir di Lampung pada 1993. Di sanalah Presiden Soeharto mencanangkan agar tahun berikutnya diperingati sebagai Hari Keluarga Nasional.
Tiap tahun Harganas digelar di daerah (provinsi), sejumlah provinsi yang pernah menjadi tuan rumah antara lain Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Pada Harganas XIV 29 Juni 2007 di Ambon, Maluku, sempat ‘ternoda’ dengan kasus ‘Tari Cakalele’. Pada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tengah menyampaikan pidato sambutan, entah bagaimana sejumlah orang masuk ke lapangan upacara sambil menampilkan tarian Cakalele. Ketika mereka akan meninggalkan lapangan, tiba-tiba beberapa penari mencoba untuk ‘memamerkan’ bendera RMS. Untung para petugas keamanan segera meringkus mereka, sehingga insiden lebihlanjut tidak terjadi. Provinsi Jambi mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah Harganas XV. Peringatannya dipusatkan di Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Peringatan Harganas XVI tahun ini bertemakan ‘Dengan Semangat Harganas Kita Bangkitkan Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana’ dan motto ‘Melalui Keluarga Membangun Bangsa untuk Mencapai MDGs’.

Adakah kepentingan BKKBN untuk memperingati harganas setiap tahun?  Peringatan Harganas diharapkan menjadi harinya keluarga-keluarga Indonesia. Masih banyak yang tidak tahu 29 Juni itu Hari Keluarga Nasional. Seyogyanya kegiatan Harganas itu bukan seremonial besar-besaran, melainkan bagaimana supaya itu terinternalisasi dalam keluarga. Semua anggota keluarga kumpul, misalnya bapak-bapak masak. Pokoknya serba satu kesatuan bagi keluarga. Seremonial itu kan hanya untuk mengingatkan. Harganas itu diperingati, misalnya dengan lomba masak di tingkat RT, di kabupaten atau kota memperingati sesuai dengan kemampuan. Memang internalisasi tidak mudah, misalnya seperti di AS ada Family Days.

Delapan fungsi

Pada peringatan Harganas BKKBN terselip keinginan untuk mengingatkan para kerluarga, semua komponen bangsa ini betapa pentingnya delapan fungsi keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, sebagai tempat pertama dan utama di dalam membentuk nilai-nilai kepribadian masyarakat, sehingga peran keluarga tersebut sangat strategis dalam ketahanan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, mengingat segalanya dimulai dari keluarga. Jadi ingin menggugah bertapa pentingnya arti keluarga.

Adapun fungsi keluarga, pertama fungsi keagamaan. Di sini diperlukan peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anaknya. Bagi keluarga muslim, yang masih balita mulai diajari surat-surat pendek dalam Alquran, seperti Al-Fatikah, ataupun salat bersama. Yang nonmuslim diajari ke gereja, pura, vihara, kelenteng dan sebagainya. Sehingga di situlah ditanamkan nilai-nilai keagamaan demi hari depan mereka.

Fungsi cinta kasih, di setiap keluarga diajarkan bagaimana antar-anggota keluarga saling mencintai. Bagaimana ayah mencintai ibu dan anak, ibu mencintasi ayah dan anak, kemudian anak mencintai ibu dan ayahnya, anak yang besar mencintai adiknya dan sebaliknya. Di sini cinta kasih merupakan landassan fundamental suatu keluarga. Kalau nanti si anak sudah lepas dari orang tua dan berkeluarga, juga harus melakukan hal yang sama bagi setiap anggota keluarganya.

Yang ketiga fungsi pendidikan. Di dalam keluarga itulah ditanamkan nilai-nilai pendidikan sejak awal, baik informal maupun formal. Orangtua bisa memberikasn pendidikan bagaimana menonton film anak-anak di televisi, membaca buku, berdisiplin, cara makan bersama, menata tempat tidur setelah bangun tidur. Di sanalah ada interaksi antar-anggota keluarga sehingga nilai-nilai pendidikan ditanamkan di dalam keluarga, sehingga anak-anak tadi sudah terdidik di dalam keluarga, dan bila sudah dewasa sudah terbiasa mendapatkan pendidikan informal.

Fungsi sosial-budaya. Di dalam kelurga juga ditanamkan bagaimana bersosialisasi, mencintai budaya bangsa melalui buku-buku soal budaya, sehingga bila kelak sudah bermasyarakat telah mengenal beragamnya budaya, maupun adat istiadat di Tanah Air, dari Sabang hingga Merauke. Anak-anak sudah mengenal berbagai suku-bangsa dalam rangka negara kesatuan, sehinngga mereka tidak canggung lagi dan sekaligus juga dalam rangka ketahanan nasional, termasuk bela negara.

Fungsi ekonomi, orangtua bisa mengajarkan ilmu ekonomi yang sangat sederhana, misalnya menabung, uang jajan disisihkan untuk menabung di celengan apapun bentuknya sesuai dengan kesukaan anak.

Fungi reproduksi, ini sangat penting agar para remaja sudah dibekali pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan nantinya setelah berkeluarga bisa merencanakannya agar setiap anggota keluarga berkualitas. Mereka diajak berbicara atau diskusi saat-saat senggang atau di waktu makan bersama, bagaimana berperilaku sehat cara reproduksi. Misalnya anak perempuan diberi penjelasan kenapa mengalami menstruasi dan sebagainya sehingga mereka tahu persis terjadinya reproduksi dan kemudian menghindari hal-hal yang negatif. Juga masalah narkoba, HIV dan AIDS, agar ketika mermasuki jenjang berkeluarga mereka sudah siap. Misalnya sudah merencanakan usia saat menikah maupun jumlah anak yang diinginkan.

Kemudian fungsi lingkungan, mengajarkan kepada anak-anak menjaga atau merawat lingkungan yang sederhana saja di sekitar rumah agar sehat. Misalnya cara membuang sampah jangan sembarangan. Sudah barang tentu orangtua juga harus menyediakan tempat sampah. Juga membersihkan got kalau ada, atau barang-barang yang bisa dijadikan sarang nyamuk.

Fungsi perlindungan bagaimana yang kuat melindungi yang lemah, kakak melindungi adik, yang pria melindungi yang perempuan. Juga yang kuat membantu yang lemah. Bisa jadi setelah anak-anak tersebut berkeluarga, bisa bergotongroyong, yang berhasil membantu yang kurang berhasil.

Inilah nilai-nilai strategis dalam keluarga tersebut yang bisa memengaruhi ketahanan maupun kepribadian masyarakat, bangsa dan negara. Bila keluarega kuat, masyarakat, kuat bangsa dan negara pun kuat. Begitulah, peringatan Harganas nanti kita mengingatkan kembali fungsi-fungsi keluarga tersebut.

Menjadi momentum

Seperti dikemukakan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono, pada peringatan Harganas diharapkan menjadi momentum bagi keluarga Indonesia untuk dapat melaksanakan delapan fungsi keluarga. “Ini semua untuk meningkatkan keutuhan keluarga,” katanya dalam dialog interaktif Menyambut Peringatan Harganas XV di Radio D FM Jakarta, Rabu (17/6), yang juga menampilkan pembicara Kepala Badan Koordinasi Badan Keluarga Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dan Deputi Ketua Yayasan Damandiri Rohadi Haryanto.

Menurut Haryono, Harganas menjadi momentum bagi para keluarga Indonesia untuk tetap melaksanakan program keluarga berencana (KB) dengan dua anak lebih baik dan melakukan pertemuan antara ayah, ibu, anak dan mungkin paman atau bibi, sehingga dapat dirumuskan kesepakatan bersama tentang fungsi masing-masing sehingga terwujud keharmonisan dan kesatuan keluarga.

"Para keluarga dalam Harganas tersebut juga dapat berkumpul menyambut dengan melakukan instropeksi dan bahkan ikut serta ke dalam Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang saat ini berjumlah 4.500 Posdaya di Indonesia, untuk memwujudkan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian melalui usaha bersama," katanya.

Haryono menyatakan optimis, jika keluarga Indonesia mampu melaksanakan delapan fungsi keluarga dan ikut dalam Posdaya yang beranggota 10 hingga 100 kepaa keluarga maka segara permasalahan dalam keluarga akan dapat diatasi termasuk pemberdayaan keluarga miskin dan mencegah kasus perceraian serta akan dapat mendukung pencapaian tujuan pembangunan milenium tahun 2015 (MDGs - Millennium Development Goals) sehingga tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat Indonesia meningkat.

Sebelumnya, Dirjen Bimas Islam Depag Prof Dr Nazaruddin Umar mengatakan, dalam empat tahuan terakhir terjadi peningkatan kasus perceraian yakni dari 50.000 kasus menjadi 200.000 kasus atau empat kali lipat, sehingga mula individu dan keluarga diharapkan meningkatkan pemahaman ajaran agama tentang tujuan berkeluarga khususnya membentuk keluarga bahagia dan sejahtera.

Sementara itu, Kepala BKKBN Sugiri Syarief menyambut baik kebijakan mantan Kepala BKKBN Haryono Suyono untuk meningkatkan peran keluarga dalam melaksanakan delapan fungsi keluargai melalui Posdaya.

"BKKBN mendukung sepenuhnya dan berharap pada Harganas 2009 setiap keluarga Indonesia dapat meluangkan waktu untuk berkumpul, berkomunikasi dan bersilaturahmi, sehingga segala permasalahan keluarga dapat dipecahkan dan dapat dicegah kasus perceraian," katanya.

Kepala BKKBN dalam memperingati Harganas 2009 mengimbau kepada lembaga pemerintah mulai pusat hingga daerah untuk menggerakkan para keluarga agar mengetahui Harganas dan maknanya guna mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera atau dua anak lebih baik.

Media massa termasuk elektronik, Komisi Penyiaran indonesia (KPI) diimbau untuk tidak menyangkan kasus kekerasan dalam rumah tngga (KDRT) dan perceraian karena dapat berpengaruh kepada keluarga lain .

Selain itu, fasilitas pelayanan KB seperti RS, klinik, praktek dokter dan bidan baik di lembaga pemerintah maupun swasta diimbau untuk memberikan pemotongan biaya pelayanan kontrasepsi KB pada Harganas 29 Juni 2009, atau dapat dilaksanakan seminggu sebelum dan sesudahnya.

Kepala BKKBN juga mengimbau kepada pasar swalayan dan mal-mal untuk meberikan pemotonga harga kepada para keluarga yang terdiri ayah, ibu dan anak yang melakukan belanja misalnya seminggu sebelum atau sesuadah Harganas 29 Juni 2009, sehingga para keluarga Indonesia menikmati hari keluarga dengan penuh kebahagiaan damn kesejahteraan.

Rohadi haryanto menambhkan, para keluarga dengan bergabung ke Posdaya, juga diharapkan menyukseskan tujuan pembangunan milineum (MDGs) , seperti penurunan angka kematian ibu melahirkan, angka kematian bayi, peningkatan usia harapan hidup, pemenuhan gizi, pemberantasan penyakit menular dan HIV/AIDS, peningkatan kesertaan pendidikan minimal wajib belajar sembilan tahun dan akses pemberdayaan ekonomi keluarga. (heru subroto)
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono