|
Presiden Setengah Hati Menyikapi Hari Keluarga Nasional |
|
|
|
Harian Pelita, Kamis, 2 Juli 2009
Jakarta, Pelita
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai setengah hati menyikapi Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-16 tahun 2009 menyusul maraknya kritik pedas setiap Presiden menghadiri pertemuan di masa-masa kampanye.
Padahal pada peringatan Harganas ke-14 di Ambon yang sempat dinodai munculnya tarian Cakalele, dihadiri Presiden SBY. Begitu juga peringatan Harganas ke-15 di Jambi juga dihadiri oleh Presiden SBY. Di kedua acara seremonial ilu, isi pidato Presiden menekankan pentingnya revilalisasi program KB. "Pak SBY itu rada sensi. Kalau hadir di Harganas mungkin beliau takut dikritik karena bisa saja dianggap kampanye," kata mantan Menko Kesra dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof Dr Haryono Suyono, menjawab pertanyaan saat dialog interaktif di Radio D'FM Jakarta, Rabu (1/7). Ada juga yang menilai Presiden SBY setengah hati alias "mencla-mencle" karena konon mendukung KB dan keluarga nasional tetapi "pada saat didambakan hadir ditengah-tengah para kader yang datang dari penjuru tanah air, Presiden justeru mementingkan kampanyenya. Lahirnya Harganas ini diilhami oleh kembalinya prajurit setelah berjuang membela negara dan kembali berkumpul kembali dengan keluarganya. Sehingga Harganas seharusnya bisa dimaknai oleh seluruh keluarga di Indonesia sebagai hari untuk menyatukan kembali seluruh anggota keluarga. Oleh karenanya, pakar kependudukan Indonesia ini pun setengah menyayangkan Presiden tidak bisa hadir dalam acara Harganas ke-16 yang jatuh pada tanggal 29 Juni. Sehingga rencana peringatan di Istana Negara pun batal dan dilakukah upacara Harganas di halaman kantor BKKBN Pusat Jakarta. Dalam dialog interaktif "Haryono Show" yang disiarkan langsung oleh Radio D'FM melalui gelombang 103.4 FM, kemarin pagi juga menghadirkan narasumber mantan Kepala BKKBN Pusat, dr Sumarjati Arjoso. Selanjutnya, kedua mantan Kepala BKKBN tersebut banyak membahas soal perkembangan KB. Jika program KB berjalan baik, kedua tokoh KB itu pun percaya kesejahteraan keluarga akan meningkat. Sebaliknya jika program KB gagal, beban negara semakin berat. Selain itu, kemiskinan akan bertambah dan ketergantungan golongan yang tidak mampu semakin besar. (dew) |