Random Photo

ALL |0-9 |A |B |C |D |E |F |G |H |I |J |K |L |M |N |O |P |Q |R |S |T |U |V |W |X |Y |Z

Search Alphabetical News The Media Say

Selamat Keluarga Indonesia Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
HARYONO TIWIKROMO

Selamat Keluarga Indonesia

Harian Pelita, Sabtu, 27 Juni 2009

"SELURUH keluarga Indonesia pada hart Senln 29 Juni 2009 dlharapkan beramal-ramai merayakan Hari Keluarga Naslonal atau Hari Keluarga yang ke 16," Haryono Suyono mengajak keluarga Indonesia untuk memaknai hart nasionalnya sebagaimana hari-hari yang lain.
Hari Keluarga Nasional dltetapkan oleh pemerintah pada tahun 1993 berdasarkan UU nomor 10 tahun 1992 yang menyatakan bahwa keluarga adalah suatu lembaga masyarakat yang terdlri dari seorang bapak dan ibu dengan anak-anaknya, atau seorang bapak dengan anak-anaknya, atau seorang ibu dengan anak-anaknya, yang didasarkan atas hasil perkawinan yang sah.

Pemilihan tanggal 29 Juni didasarkan peristiwa penting berkumpulnya kembali anggota keluarga yang selama berbulan-bulan sebagian besar mengungsi ke desa dan gunung-gunung berjuang mempertahankan kemerdekaan. Mereka berkumpul kembali pada tanggal 29 Junl 1949 dengan seluruh anggota keluarganya setelah Ibukota RI pada waktu itu, Yogyakarta, direbut kembali dan cengkeraman penjajah Belanda melalui perjuangan yang heroik dan pengorbanan yang maha dahsyat.

Peristiwa direbutnya kembali Ibukota RI dilakukan melalui perjuangan yang gigih, perang gerilya yang menakjubkan karena dibantu oleh rakyat yang kompak dan tldak takut mati, serta gempuran gigih tidak kenal berhenti, biarpun anak-anak muda pejuang bangsa hanya dilengkapl peralatan perang yang sangat sederhana.

Perang gerilya yang serangannya tidak pemah bisa diduga menakutkan penjajah. Tidak jarang patroli Belanda yang perlengkapannya sangat modern dihabisi di luar kota dengan senjata sederhana tetapi ditembakkan dengan keberanlan yang tidak ada taranya. Keberanlan anak-anak muda itu menumbuhkan simpati rakyat sehingga tidak satupun markas pejuang bisa dibongkar dan dilumpuhkan melalui operasi Intel Belanda yang tidak berdaya karena kompaknya prajurit muda dengan rakyatnya.

Gempuran yang tidak ada habisnya itu mengerikan dan akhirnya mendukung diplomas! yang dilakukan untuk mengembalikan Ibukota RI Yogyakarta ke tangan kita. Mulai tanggal 22-28 Junl 1949 secara berturut-turut prajurit Belanda meninggalkan Ibukota Yogyakarta. Pada tanggal 29 Juni seluruh prajurit muda dari hutan dan desa-desa kembali berkumpul dengan keluarga mereka memasuki Ibukota RI Yogyakarta.

Keharuan, kegembiraan dan kebanggaan menyertal hari yang bersejarah itu karena anak-anak muda dengan tekad yang sangat kuat, biarpun hanya dengan senjata sederhana, sanggup mempertahankan dan memaksa Belanda menyerahkan kembali Ibukota Negara Kesatuan RI ke tangan kita.

Peristiwa sejarah itu membuktikan bahwa putra-putri sesepuh bangsa Indonesia sanggup meninggalkan keluarga yang dicintainya untuk bertahan dalam perang gerilya, tidak gentar menghadapi musuh dan sanggup mengorbankan nyawa dan segala harta bendanya untuk mempertahankan nama baik, kedaulatan dan kepentingan seluruh anak bangsanya.

Tidak ada satupun dari anak-anak muda prajurit di masa itu yang berpikir kepingin mendapat imbalan dalam perjuangannya. Mereka berjuang semata-mata demi nama baik bangsa dan negaranya dan keinginan luhur untuk membangun negara, bangsa dan keluarganya membebaskan dirt dari kebodohan, kemiskinan dan menjadikan bangsanya sebagai bangsa yang disegani, sejajar dan sanggup menatap masa depan dengan penuh harapan.

Mengambil hikmah dari sifat luhur anak bangsa sesepuh kita itu kita berharap bahwa Hari Keluarga Nasional akan mengingatkan seluruh keluarga Indonesia untuk teguh memegang etos kebangsaan yang tahan uji, bersatu dan mencitakan tanah air dan anak bangsanya maju pesat untuk tetap mempertahankan kemerdekaan, mengkikis kebodohan, kemiskinan dan mempunyai tekad baja membangun keluarga dan bangsa yang bahagia dan sejahtera serta sanggup menatap masa depannya dengan harapan yang positip.

Patut menjadi keprihatinan karena cita-cita perjuangan yang luhur itu dewasa ini oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab secara tidak sadar dirobek-robek demi kepentingan sesaat. kepentingan partai politik, kepentingan perorangan. atau demi perjuangan demokrasi.

Padahal mereka berjuang untuk kekuasaan dan melupakan bahwa sebenamya kita saling bersaudara dan merupakan kumpulan dari banyak sekali keluarga yang mencita-citakan negara dan bangsa Indonesia yang maju serta sanggup melindungi seluruh anak bangsanya membangun keluarga yang mandiri dan sejahtera.
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >
© 2010 Personal Website of Haryono Suyono